• Jelajahi

    Copyright © Tebar News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Sports

    Nasyidah, Pustama Dispusarsip Provinsi Sulsel, Mendokumentasikan Perjalanan Kariernya dalam Buku "Memoar Pustakawan Sejati"

    Redaksi Tebarnews
    09/02/2026, 7:08 PM WIB Last Updated 2026-02-09T11:08:46Z

     

    Rusdin Tompo (kiri), sebagai editor buku Memoar Pustakawan Sejati menyerahkan buku terbitan Arsy Media itu, kepada Sri Wachyuni Ismail, Pustakawan, pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gowa, Senin, 9 Februari 2026. (Ist)


    Buku "Memoar Pustakawan Sejati" karya Nasyidah, S.Sos, M.AP, Pustakawan Ahli Utama (Pustama), pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusarsip) Provinsi Sulawesi Selatan, diserahkan untuk jadi koleksi perpustakaan pada Senin, 9 Februari 2026. 


    Rusdin Tompo, sebagai editor, menyerahkan buku yang mendokumentasikan perjalanan karier penulisnya, di dua perpustakaan berbeda, tetapi pada hari yang sama.


    Buku terbitan Arsy Media itu, pertama diserahkan kepada Adriani binti Nasir, SIP, pustakawan Dispusarsip Sulsel, di Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan, Jalan Sultan Alauddin, Talasalapang, Makassar.


    Buku keempat dari Nasyidah itu, diserahkan pula kepada Sri Wachyuni Ismail, Pustakawan, pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gowa, untuk jadi koleksi Gedung Layanan Perpustakaan Umum Kabupaten Gowa, yang beralamat di Jalan Masjid Raya, Sungguminasa.


    Sebelumnya, Nasyidah telah menghasilkan tiga buku, masing-masing berjudul “Perpustakaan 4.0” (Penerbit Pakalawaki, 2023), “Perpustakaan Ibu dan Anak” (Penerbit Pakalawaki, 2024), dan “Layanan Perpustakaan Berkualitas” (Penerbit Arsy Media, Makassar, 2024). Ketiga buku itu juga disunting oleh Rusdin Tompo.


    "Perjalanan karier saya sudah sampai ke pengujung. Ibarat lembaran-lembaran buku, seorang penulis akan menamatkan kisah yang ditulisnya," tulis wanita kelahiran Watampone, Kabupaten Bone, 27 Mei 1961 itu.


    Sebagai pustakawan, katanya, ia ingin meninggalkan jejak dan pembelajaran. Juga inspirasi dan motivasi bagi pustakawan dan mereka yang akan menggeluti profesi sebagai pustakawan profesional.

     

    Buku “Memoar Pustakawan Sejati” merupakan kisah pribadinya sebagai fungsional pustakawan, yang menapaki karier dari bawah. 


    Semua jenjang ia jalani, sejak masih menjadi pegawai honorer hingga terangkat sebagai ASN, semuanya sebagai pustakawan. 


    Pendidikannya pun begitu: ilmu perpustakaan. 


    "DNA saya adalah pustakawan. Saya tidak pernah berada di organisasi perangkat daerah (OPD) lain, selain Dispusarsip," bebernya dalam buku.


    Suaminya, Syamsuddin Bakry, SE, merupakan pensiunan Pustakawan pada dinas yang sama dengannya.


    Nasyidah menamatkan pendidikan Diploma 3 Ilmu Perpustakaan, Unhas, tahun 1983. Ia meraih gelar Sarjana Sosial (S1) Ilmu Perpustakaan, Unhas, tahun 2001. Kemudian gelar S2 Magister Administrasi Publik, pada Program Pascasarjana Unismuh, Makassar, tahun 2013.

     

    Riwayat pendidikan non formalnya, antara lain Diklat Fungsional Kompetensi Kepustakawanan, Managerial dan Sosial Kultural (Perpustakaan Nasional), Diklat Fungsional Training of Trainers (ToT) (Perpustakaan Nasional, 2014), dan Diklat Tenaga Promosi dan Etika Layanan Perpustakaan (Perpustakaan Nasional, 1994).

     

    Nasyidah tak hanya punya legitimasi akademik sebagai pustakawan, tetapi juga setia selama 37 tahun sebagai pustakawan Dispusarsip Provinsi Sulawesi Selatan.


    Dalam buku memoarnya, disampaikan bahwa sebagai pustakawan profesional, ia dituntut memiliki keterampilan teknis, kemampuan komunikasi, manajemen informasi tentang koleksi yang dimiliki perpustakaan, juga sikap melayani, serta mau belajar, dan kreatif.


    Orientasi melayani ini, bahkan tak hanya sebatas untuk pengunjung di perpustakaan, tetapi juga ketika menjangkau daerah-daerah terpencil.


    Misalnya, dia pernah dari Sinjai Selatan ke Sinjai Barat untuk mengajar mahasiswa Universitas Terbuka di sana. 


    Daerah yang mau didatangi sama sekali tidak dia tahu, dan juga tidak punya gambaran sama sekali, berapa jauhnya. Dia diantar tukang ojek saat ke sana. 


    Medannya begitu berat: melewati hutan, yang sama sekali tidak ada perkampungan, lalu melewati bukit, kemudian jalanan rintisan yang jelek. 


    Dalam hati dia berkata, kalau orang yang memboncengnya itu mau mencederai atau membunuhnya, maka tidak ada yang tahu.


    Meski kejadian buruk itu tidak terjadi, tetapi situasinya membuat dia meneteskan air mata.


    Nasyidah menangis, begitu tiba di lokasi mengajarnya sebagai dosen luar biasa (LB) Universitas Terbuka. Dia mengampu mata kuliah Ilmu Perpustakaan.

     

    "Pustakawan dituntut dan ditantang untuk mandiri dan mau berbagi pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki," imbuhnya.


    Nasyidah meyakini bahwa posisi pustakawan sejati yang mengabdi dengan ketulusan hati, tak tergantikan oleh mesin.


    Karier jabatan fungsional pustakawannya, mulai dari Asisten Pustakawan (1995-1997), Ajun Pustakawan Muda (1997-1999), Ajun Pustakawan Madya (1999-2002), Pustakawan Pratama (2002-2005), Pustakawan Muda (2005-2009), dan Pustakawan Madya (2009-2021).


    Kini Nasyidah sebagai Pustakawan Ahli Utama (Pustama), berdasarkan SK Presiden Nomor 53/K Tahun 2020, yang ditandatangani Presiden RI, Joko Widodo, tanggal 27 Oktober 2020.


    Dia dilantik sebagai Pejabat Fungsional Pustakawan Ahli Utama oleh Gubernur Sulawesi Selatan, pada tanggal 31 Maret 2021.


    Nasyidah berpangkat/golongan Pembina Utama Madya/ IV/d.

     

    Selama berkarier sebagai pustakawan, Nasyidah pernah mendapat penghargaan, berupa Satyalancana Karya Satya 20 Tahun oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang diterima pada tahun 2009. 


    Juga penghargaan Satyalancana Karya Satya 30 Tahun oleh Presiden Joko Widodo, yang diperolehnya pada tahun 2019. 


    Dalam buku memoarnya, Nasyidah bukan hanya menceritakan dinamika hidupnya sebagai pustakawan. Namun juga pengalamannya memberikan orasi sebagai Pustama di Perpustakaan Nasional RI, yang begitu berkesan. (*)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini