![]() |
| AB Iwan Azis (kiri) dan penulis, saat ngopi di Warkop Azzahrah. (Ist) |
Oleh: Rusdin Tompo
(Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)
AB Iwan Azis dan warung kopi adalah kisah yang berkelindan jauh. Sebelum bisnis warkop tumbuh menjamur seperti sekarang di metropolitan Makassar, ia sudah kerap bertandang di kedai yang menyediakan minuman berkafein itu.
*Warkop sebagai Ruang Sosial*
Warkop bagi Iwan Azis layaknya ruang sosial tempat ia bertemu, bersilaturahmi, berdiskusi dengan sahabat dan kolega. Profesinya yang dinamis dengan jejaring luas ke berbagai kalangan menuntutnya punya pilihan tempat yang cozy. Dan itu adalah warkop.
Namun, sungguh mengejutkan ketika keluar pengakuan dari Ketua ASPRI (Asosiasi Pengusaha Reklame Indonesia) itu bahwa dia baru sekira 3 bulan terakhir minum kopi.
Selama ini, setiap kali ke warkop, rupanya Supervisor GPBSI (Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia) ini hanya memesan teh susu beruang plus kental manis. Sekretaris PERFIKI (Pertunjukan Film Keliling Indonesia) itu sama sekali tidak pernah memesan kopi.
"Nanti setelah tua, dalam usia hampir 80 tahun baru ada keberanian minum kopi," ungkap pria kelahiran Desa Ujungnge, Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan, 11 Agustus 1946 itu.
Pengakuan itu disampaikannya dalam obrolan kami di Warkop Azzahrah, Jalan Abdullah Daeng Sirua, Makassar, Kamis, 5 Februari 2026. Katanya, dia mulai minum kopi setelah membaca artikel tentang sejarah kopi dan manfaat minum kopi.
Padahal sebagai mantan Ketua FKPM (Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat), Ketua LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat), dan Ketua RW (Rukun Warga) puluhan tahun, Iwan Azis suka menjadikan warkop sebagai tempat pertemuannya.
Begitupun untuk urusan DMI (Dewan Masjid Indonesia) Kecamatan Panakkukang, di mana dia ketuanya, warkop menjadi tempat mereka ngumpul membahas organisasi dan umat.
Ketika ngumpul dengan teman-teman wartawan pun, warkop akan jadi pilihan utama mereka bertemu. Namun, bukan kopi yang ada dalam daftar pilihannya.
Maka, ketika dia pulang dari Medan, menghadiri Festival Film Indonesia (FFI), membawa oleh-oleh kopi, semuanya dibagi-bagikan ke orang.
Begitupun saat dari Lampung untuk kegiatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), oleh-oleh berupa kopi hanya diberikan kepada orang lain.
*Dari Yaman ke Batavia lalu Jadi Java Coffee*
Iwan Azis lalu membagikan kisah yang menceritakan seorang penggembala kambing mendapati hewan ternaknya menjadi sangat aktif dan energik setelah makan buah ceri kopi.
"Ternyata awal ceritanya dari biji yang dimakan kambing," katanya sambil tersenyum.
Legenda yang hidup di dataran tinggi Ethiopia (Abyssina) sekira tahun 850 Masehi itu, memang menjadi titik awal kehadiran kopi. Meski begitu, kopi kemudian berkembang dan populer di Yaman, sebagai pusat pengolahan.
Kopi dibudidayakan secara komersial, tak lepas dari kebutuhan kaum sufi. Mereka perlu ngopi agar bisa lebih konsentrasi saat ibadah malam.
Karena itu, jangan heran, bila tradisi minum kopi untuk melek begadang masih berlangsung hingga kini.
Bedanya, dahulu, kaum sufi ngopi biar lebih tahan beribadah, sedangkan sekarang orang minum kopi begadang buat nonton sepak bola atau cuma untuk main kartu domino hehehe.
Dalam sejarahnya, Pelabuhan Al-Makha atau Mocha di Yaman menjadi pusat perdagangan utama kopi pada abad ke-15 hingga abad ke-17. "Mocha" sinonim untuk kopi berkualitas tinggi.
Dari Yaman lantas menyebar secara internasional ke Makkah, Madinah, Kairo, Damaskus, Baghdad, dan Konstantinopel. Yaman belakangan dikuasai oleh Kekaisaran Ottoman, pada abad ke-16.
Kepada Iwan Azis yang selalu mengajak ketemu untuk ngopi, saya menyampaikan bahwa tengah mempersiapkan buku bertema kopi. Sehingga artikel di media online dan tayangan terkait kopi di YouTube jadi santapan saya.
Misalnya, di salah satu kanal yang menjelajahi Wereldmuseum, Rotterdam, Belanda, ditampilkan arsip, bagaimana kopi bisa masuk Indonesia.
Di museum etnografi itu ditertulis bahwa kopi--yang dalam bahasa Belanda disebut koffie--didatangkan oleh kongsi dagang VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) ke Indonesia, tahun 1696.
Tertulis secara jujur bahwa mata-mata yang bekerja untuk VOC menyelundupkan kopi keluar dari Yaman yang, kala itu, memiliki monopoli atas perlindungan kopi.
Uji coba pertama menanam kopi di Kedawung, dekat Batavia, tahun 1696, gagal akibat bencana alam. Dilanjutkan upaya kedua, tahun 1699, Belanda kembali menanam stek kopi di berbagai tempat di Batavia dan daerah-daerah yang sekarang masuk wilayah Jawa Barat.
Hanya dalam tempo 15 tahun, tanaman kopi asal Indonesia (Hindia Belanda), mengejutkan dunia. Selain di Jawa, tanaman kopi juga ditanam di berbagai daerah di Nusantara.
Pada tahun 1711, Bupati Cianjur, Aria Wira Tanu III, mengapalkan sebanyak 4 kuintal kopi ke Amsterdam. Ekspor perdana ini langsung memecahkan rekor harga lelang di sana. Di tahun 1726, tidak kurang dari 2.145 ton kopi dari Pulau Jawa membanjiri Eropa.
Kopi asal Jawa seketika memikat dunia, dan mengalahkan kopi Mocha asal Yaman yang sebelumnya menguasai pasar. Sejak saat itu, kopi asal Pulau Jawa dikenal dengan nama Java Coffee.
*Mengenal Tiga Generasi Pemilik Warkop Phoenam*
Sejak masih belia Iwan Azis sudah mengenal Warkop Phoenam. Saat warkop ini masih di Jalan Nusantara, lalu pindah ke Jalan Jampea, sekarang Jalan Ho Eng Djie, kemudian membuka cabang di Jalan Boulevard, Panakkukang Mas.
"Paling sering saya di Warkop Phoenam, Jalan Jampea, karena mobilitas masih tinggi, dan dekat dengan Balai Kota Makassar," terang pria yang masih tetap perlente itu.
Menurutnya, Warkop Phoenam di Jalan Nusantara bisa terkenal karena, dahulu, di dekatnya ada Perusahaan Daerah (Perusda).
Karyawan Perusda yang mengelola sandang pangan ini, biasa menunggu dan nongkrong di situ, sambil memesan kopi, roti selai kaya, roti goreng telur, atau roti kornet.
Dahulu, hampir semua warkop berada di pojok atau tikungan. Dapur mereka selalu di depan. Namun, Phoenam tidak demikian. Mengapa? Sebab di samping kanannya juga berdiri warkop
"Saya beberapa waktu lalu ke Phoenam, dan memesan kopi susu. Pelayannya terlihat kaget. Sebab baru pertama kali saya pesan kopi. Lalu saya bilang, biar nanti kalau saya meninggal, kamu ingat saya," kisah Iwan Azis bercanda.
Dia lalu menelepon Deddy, generasi ketiga pengelola Warkop Phoenam. Dia hendak mengkonfirmasi cerita tentang Phoenam agar saya tidak salah kutip.
Deddy lalu menjapri Iwan Azis, mengirimkannya sejarah "Para Pendiri Warung Kopi Phoenam", kemudian diteruskan ke saya.
Dalam tulisan ringkas itu, disebutkan bahwa Warkop Phoenam pada awalnya didirikan oleh Liong Thay Hiong (kakek dari Deddy), didampingi dua kerabat dekatnya, dan seorang paman bernama Prof. Dr. Liong Thay Pheng.
Profesor Liong yang memberi nama Phoe Nam, artinya terminal atau tempat transit. Dimaksudkan sebagai tempat singgah di selatan bagi penikmat dan pencinta kopi di Makassar.
Sekira tahun 1930, Liong Thay Hiong bersama kerabatnya sering bolak-balik dari Hainan, China, untuk mencari peluang usaha. Akhirnya, di tahun 1946 mereka mendirikan warung Phoe Nam Cold Drink.
Hanya saja, saat itu, selain menyediakan kopi, teh, dan roti selai kaya, warung ini juga menjual minuman beralkohol, seperti Anker Bir dan lain-lain.
Seiring berjalannya waktu, Liong Thay Hiong mengubah nama warungnya menjadi Warung Kopi Phoe Nam. Demi efektivitas ejaan, dua kosa kata Phoe Nam digabung jadi Phoenam.
Sejak tahun 1993, Phoenam sudah terdaftar di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan HAM RI.
Albert Liongady Liong merupakan generasi kedua pengelalo Warkop Phoenam. Setelah beliau wafat, pada Maret 2023, warkop legendaris ini dikelola oleh generasi ketiga, yakni Deddy dan Dandy.
Warkop Phoenam berpusat di Jalan Ho Eng Djie, Makassar. Jaringan warkopnya, tulis Deddy, punya beberapa cabang di Makassar. Yakni, Phoenam Boulevard, Phoenam Ratulangi, Phoenam MaRI, dan Phoenam Tanjung Bunga.
Ada pula di luar Makassar, yaitu Phoenam Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Phoenam Kahfi, Jakarta Selatan, dan Phoenam Kopkar Tonasa, Pangkep.
"Selain cabang-cabang itu, bukan Phoenam asli 1946," tegas Deddy mengingatkan dalam tulisannya.
Iwan Azis mengaku, lebih dari separuh hidupnya dia hanya mengunjungi Warkop Phoenam. Tidak ada warkop lain, dalam ingatannya.
"Saya tidak pernah bergeser dari Phoenam, sebelum ini," tandasnya.
*Merasa Senyawa dengan Warkop Azzahrah*
Iwan Azis menyadari, seiring usianya yang sudah berkepala delapan, dia tak lagi se-mobile dahulu, saat aktivitasnya masih menuntut dia harus ke berbagai tempat. Meski demikian, kebiasaannya ke warung kopi tak berubah.
Warkop Azzahrah, tempat di mana kami kerap bertemu, kini menjadi langganannya. Warkop dengan konsep warna mencolok merah, kuning, dan hijau ini, memulai bisnisnya dari Jalan Ujung, tahun 2008.
Azzahrah Coffee Shop & Traditional Cake lalu punya cabang di Jalan Bandang. Warkop yang fokus pada kualitas rasa kopi dan kue-kue tradisional ini, saat ini tumbuh sebagai jaringan waralaba yang ada di hampir semua sudut Kota Makassar.
Setiap kali ke Warkop Azzahrah, dia akan menelepon beberapa orang untuk ngopi bareng, termasuk saya. Pesanannya pun macam-macam, mulai dari telur setengah matang, pisang, ubi goreng, atau french fries. Menjelang sore, daftar pesanannya bertambah, berupa intel alias Indo Mie telur.
"Saya pilih Azzahrah karena sudah sesuai dengan selera saya. Sebab, tidak semua warkop bisa memenuhi kebutuhan kita. Di sini saya malah merasa senyawa dengan pelayannya. Bahkan kalau saya protes pun pelayannya bisa memaklumi. Mereka cuma senyum-senyum," pungkas Iwan Azis memberi alasan. (*)


