• Jelajahi

    Copyright © Tebar News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Sports

    Harun Ar Rasyid Mengajak "Nyeruput To Riolo", Asal Jangan Camidu

    Redaksi Tebarnews
    01/02/2026, 5:55 PM WIB Last Updated 2026-02-01T09:55:01Z

     

    Penulis dan Harun Ar Rasyid, owner Nyeruput To Riolo. (Ist)


    "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Semoga memungkinkan waktu ta hadir di acara pembukaan warkop Nyeruput To Riolo di Royal Sentraland BTP, Sabtu, 31 Januari 2026, pukul 10.00 -13.00. Hormat Kami: Harun Ar Rasyid & Fam."


    Itu bunyi undangan dari sahabat saya, Harun Ar Rasyid, yang saya kenal sejak tahun 1987, semasa kuliah di Fakultas Hukum Unhas. 


    Pria yang punya nama lengkap Achmad Nur Harun Ar Rasyid ini, kerap mengajak saya bertemu untuk ngopi di warkop yang berada di kawasan Boulevard, Panakkukang Mas, Makassar. Di sana kami ngobrol seputar rencana-rencana kegiatan atau sekadar bernostalgia semasa kuliah dahulu.


    Namun kali ini beda. Dia mengundang saya sebagai owner sebuah warkop yang berada di perbatasan Bumi Tamalanrea Permai (BTP), Makassar, dengan Jalan Poros Pamanjengang, Moncongloe, Kabupaten Maros. 


    Begitu saya ke sana, sudah terlihat karangan bunga berjajar di depan Ruko Piccadily Blok RD-001-002. Lokasinya tak jauh dari pintu gerbang Royal Sentraland BTP, sehingga mudah dikenali.


    Saya mengenali sejumlah tamu yang hadir. Mereka berlatar belakang akademisi, aktivis, politisi, pengacara, dan kolega dari berbagai kalangan. 


    Saya sempat diajak bergabung foto bareng dengan Prof. Dr. Aminuddin Ilmar, Guru Besar Fakultas Hukum Unhas, Prof. Dr. Yusran Jusuf, Sekjen IKA Unhas, dan mantan Penjabat Walikota Makassar, Dr. Sakka Pati, akademisi yang juga sohibnya.


    Pria kelahiran Pinrang, 29 Desember 1967 itu memang punya kecerdasan interpersonal. Tak heran bila ia mudah akrab dan berterima dengan orang lain.


    Sebagai profesional trainer, konsultan, dan motivator, tentu ia punya banyak mitra dan kenalan. Apalagi belakangan, ia banyak terlibat dalam tim pemenangan kandidat calon kepala daerah, baik pada level kota/kabupaten maupun provinsi.


    Rekam jejaknya sebagai seorang profesional, terlihat pada portofolionya. Om Harun, begitu suami dari dr. St. Wahida Jalil, M.Kes.Sp.KJ akrab disapa, pernah menduduki sejumlah posisi, antara lain Financial Advisor Lippo Life, Regional Manager AIG Lippo (BAD Indonesia Timur), dan Head Traineer AIA Financial Indonesia untuk wilayah Indonesia Timur.


    Sebagai organisator dan aktivis mahasiswa di zamannya, Om Harun memang cocok menggeluti bisnis warkop. Warkop telah jadi habitat dan circle di mana dia membangun dan mengembangkan jejaring perkawanan.


    Prinsip hidupnya, “perbanyaklah teman dan bangun tali silaturahmi, karena temanlah yang akan menutupi kekurangan kita.” 


    Om Harun tentu jauh lebih paham bahwa warkop merupakan ruang sosial, dengan pengunjung yang loyal--jika tidak mau dibilang fanatik. 


    Buktinya, ada orang yang suka datang ke warkop yang itu-itu saja. Bila kita membuat janji bertemu dengannya, dia akan mengarahkan kita ke warkop tersebut. Padahal, di mata kita, warkop itu tak ada istimewanya.


    Ada banyak variabel suatu warkop akan bertahan dengan pelanggan yang setia. Selain pelayanan (service), juga ada faktor harga (price), rasa (taste), dan tempat (place). 


    Pendekatan segmentation, targeting, dan positioning juga perlu diperhatikan di tengah menjamurnya warkop, kafe, dan coffe shop yang penuh persaingan. Bila sudah terbentuk komunitas di suatu warkop maka mereka yang datang, bukan lagi untuk minum kopi tetapi merayakan kebersamaan. 


    Nama "Nyeruput To Riolo" jelas menawarkan sesuatu yang berbeda. Diferensiasinya ada pada frasa berbahasa Makassar "to riolo", berarti orang dulu. Ada nuansa tempo doeloe, jadul, dan lawas dalam warkop yang diusung.


    Konsep nostalgia, menikmati warisan nenek, ditawarkan sebagai nilai jual. Itu yang tampak pada kopi atau kopi susu yang disajikan dalam canteng, dan teh rempah yang ditaruh pada teko tanah liat.


    Strategi menyiasati bisnis warkop ala Om Harun lewat "Nyeruput To Riolo" ini akan diuji oleh waktu. Bila ia mampu merebut hati warga yang tinggal di kawasan perumahan sekitar situ, sudah merupakan suatu keberhasilan. Apalagi bila menjangkau pelanggan yang lebih luas, melalui penyelenggaraan event yang dirancang secara reguler.


    Kehadiran "Nyeruput To Riolo" menambah daftar coffee shop di daerah ini. Tercatat di Makassar, yang dijuluki Kota Makan Enak ini, terdapat lebih 800an warkop/kafe berdasarkan data Bapenda Kota Makassar per 2023. 


    Sementara di Sulawesi Selatan, jumlahnya mencapai 9.848, yang menempatkan provinsi berada pada top 10 daerah dengan warkop/kafe terbanyak di Indonesia, menurut Point on Interest (POI), sebagaimana dikutip akun Instagram @goodstats.id.


    Angka-angka ini tidak hanya dibaca secara statistik tetapi juga kultural. Budaya ngopi yang merata di semua lapisan masyarakat, tanpa kenal waktu dan tempat, adalah ceruk pasar yang tersedia sekaligus menantang. 


    Dan terlihat bahwa Om Harun begitu bersemangat menggarapnya. Dia punya sumberdaya untuk membesarkan "Nyeruput To Riolo" tak kalah hebat dibanding waralaba global yang ada.


    Lewat jingle promo yang disebar untuk memperkenalkan warkopnya itu, ia menjanjikan harga yang ramah kantong, rasa yang hangat di tenggorokan, dan menyehatkan badan.


    Namun dalam lagu yang diproduksi melalui Artificial Intelligence itu, terdapat lirik yang menggelitik: jangan ki camidu. Mereka--para pengunjung warkop--pasti tahu istilah ini. Camidu alias catat mi dulu hehehe. (*)


    *Rusdin Tompo (Penulis, dan Penggiat Literasi)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini