Oleh: Rusdin Tompo
(Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)
TEBARNEWS.COM - Ajoeba Wartabone kembali ke Makassar. Tentu bukan dalam pengertian fisik, tetapi semangatnya, kisahnya, dan ideologi nasionalismenya. Ini bukan romantisme sejarah semata, tetapi keping puzzle yang lama terlupa, yang hendak disatukan sebagai bagian dari kisah Indonesia yang utuh.
Ajoeba Wartabone bahkan dihadirkan dalam bentuk film animasi berdurasi 6 menit hasil buatan Artificial Intelligence (AI). Berkat teknologi digital yang sanggup meniru intelektual manusia itu, AI membaca data, dokumen, arsip, dan foto-foto tentang Ajoeba Wartabone, kemudian memproduksinya menjadi film dengan kualitas suara dan sinematografi yang pantas diapresiasi.
Pertimbangan Sejarah
Banyak orang yang terlihat kagum, baru mengetahui, melihat, dan mengenal sosok Ajoeba Wartabone, ketika foto-fotonya dipajang di sepanjang koridor menuju Alamanda Ballroom Hotel Aryaduta, Makassar, Selasa, 16 Juni 2026. Terdapat 28 foto masing-masing berukuran 60x90 cm, yang kesemuanya merupakan hasil repro dokumentasi foto dari berbagai sumber.
“Kami memilih tempat ini karena alasan sejarah. Dahulu, hotel ini merupakan Pesanggrahan Makassar, tempat Ajoeba Wartabone sebagai anggota Parlemen NIT tinggal,” ungkap Ir H.M. Pulu Niode, salah seorang cucu Ajoeba Wartabone.
Saya bertemu Pak Pulu Niode, Senin, 15 Juni 2026, di sela-sela gladi acara Bedah Buku Ajoeba Wartabone (1894-1957): “Sekali ke Djokja tetap ke Djokja” Biografi Gagasan dan Kepemimpinan dari Gorontalo untuk Indonesia Bersatu, di hotel yang berada tepat di Pantai Losasi itu. Hotel ini, sebelumnya bernama Hotel Sedona, lalu berganti nama menjadi Hotel Aryaduta. Buku karya Basri Amin, terbitan 2025 itu, banyak menyingkap kontribusi Ajoeba Wartabone dalam peta perpolitikan Tanah Air.
Ajoeba Wartabone, kelahiran Gorontalo, 11 Juni 1894. Anak pasangan Zakaria Wartabone-Tolangohula Kaluku. Ketika menjadi anggota Parlemen Negara Indonesia Timur (NIT), antara tahun 1947-1950, usia Ajoeba Wartabone sekira 53-56 tahun. Usia emas bagi seorang terpelajar, pemikir, dan intelektual. Ajoebe bukan saja berjuang melalui jalur politik, tetapi lebih daripada itu, gagasan dan pemikirannya yang visionar juga ia tuangkan sebagai seorang penulis, kolomnis, dan jurnalis di masa revolusi.
Gambaran tentang kiprah Ajoeba Wartabone, sebagai pejuang-pemikir, pembelajar, aktor politik, organisator, dan tokoh yang family man tersaji dalam foto-foto yang dipamerkan dan menjadi bagian dari acara bedah buku tersebut.
Ada foto yang bersumber dari Nationaal Archief – Den Haag, The Netherlands, dan ada pula yang bersumber dari W.A. van Goudoever (1947), Denpasar: Bouwt Een Huis (Batavia: RVD). Juga ada yang sumbernya dari dokumen “Presiden Kita P.J.M. Tjokorde Gde Rake Soekawati dari Poelaoe ke Poelaoe di NIT” (1948), serta dari Perpustakaan Nasional RI, dan Arsip Nasional RI. Foto-foto lainnya bersumber dari Surat Kabar Pelita Tomohon, 8 November 1949, koleksi keluarga dan beranda Museum Sejarah Gorontalo, serta foto keluarga Wartabone-Kaluku.
Sebuah foto, misalnya, memperlihatkan Ajoeba Wartabone dalam posisi berdiri bersama istrinya, Maroehoela Kaluku, dan putri kecilnya, Suus Wartabone, yang dipangku pamannya Mohammad Wartabone di Batavia, tahun 1923-1924. Lokasi foto di depan rumahnya ini sekarang dikenal sebagai Jalan K.H. Wahid Hasyim, Jakarta. Foto Ajoeba Wartabone bersama dengan teman-teman sependidikannya di Bestuursschool, sekolah pemerintahan, di Batavia, tahun 1924. Dalam foto yang merupakan koleksi keluarga itu, terlihat Maroehoela Kaluku (istri) dan Suus Wartabone (anak).
Pada foto-foto lain, tampak para Jogugu di wilayah Gorontalo, tahun 1930-an, dengan pakaian adat mereka. Di foto koleksi Museum Sejarah Gorontalo itu, tampak Ismail Usman (Suwawa), Rais Monoarfa (Gorontalo), Ajoeba Wartabone (Limboto), dan K. Datau (Kwandang). Foto berikutnya, tampak Ajoeba Wartabone dengan berpakaian adat lengkap sebagai Jogugu Limboto bersama jajaran pejabat pemerintahan (Taudaa) di wilayah Limboto.
Foto-foto lain memperlihatkan aktivitas Ajoeba Wartabone selama masa NIT. Terdapat foto yang memperlihatkan suasana Konferensi Denpasar, dan pembahasan materi konferensi oleh setiap delegasi. Tampak delegasi duduk saling berhadapan. Meja mereka disatukan dan diberi taplak. Dalam foto itu, ada dua nama delegasi yang terlihat jelas, yakni Maloekoe Selatan, dan Timor. Para delegasi Konferensi Denpasar mengadakan sesi foro bersama di depan Hotel Bali, Desember 1946.
Ajoeba Wartabone merupakan salah seorang delegasi. Di Parlemen NIT, ia tergabung dalam Fraksi Progresif. Sebagai anggota parlemen, ia konsisten dengan semangat nasionalisme. Sikapnya sebagai republikein tulen tergambarkan dalam ungkapan yang tegas: “Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja”. Kata-kata lantang itu disampaikan pada hari pertama pemandangan umum di Parlemen NIT, pada tanggal 29 April 1947 di Makassar, yang merupakan ibu kota Negara Indonesia Timur.
Delegasi Goodwill Missie
Perjalanan politik Ajoeba Wartabone terlihat saat ia menjadi bagian dari delegasi Goodwill Missie Parlemen NIT di Djokjakarta dan Djakarta. Tampak sebuah foto di mana Ajoeba Wartabone memegang topinya berdiri paling kanan sesaat setelah tiba di bandar udara Kemajoran, DJakarta, Senin, 16 Februari 1948. Foto lain tentang Ajoeba Wartabone yang keluar dan turun dari pesawat membawa tas khusus yang bertuliskan “Goodwill Missie” dan nama lengkapnya juga ada pada tas itu.
Jenis pesawat yang digunakan dalam misi persaudaraan itu, kemungkinan adalah Douglas C-47 Dakota. Pesawat jenis ini jadi andalan transportasi udara di Indonesia Timur, pasca Perang Dunia II, karena bisa mendarat di lapangan sederhana. Di badan pesawat ada tulisan DK-DRW, ini merupakan kode registrasi/pendaftaran pesawat. Kode DK menunjukkan bahwa pesawat itu terdaftar di Hindia Belanda/NIT.
Di bagian ekor pesawat kelihatan ada garis-garis yang menjadi ciri livery pesawat KLM/Dakota, pada tahun 1940-an. Setelah Konferensi Meja Bundar (KMB), kode DK berganti menjadi PK untuk Indonesia. Sedangkan DRW adalah semacam kode unik dan spesifik untuk pesawat itu sendiri, mirip plat nomor kendaraan bermotor.
Suasana penjemputan delegasi Goodwill Missie Parlemen NIT di Pangkalan Udara Maguwo, Djokjakarta, 18 Februari 1948, ikut pula dipajang dalam pameran foto hari itu. Tampak bagaimana Ajoeba Wartabone memegang topi, dengan pakaian rapi lengan panjang, dan berdasi. Ia membawa tas berkelas untuk dokumen penting dengan name tag yang dicantol pada gagang tasnya.
Foto Ajoeba Wartabone bersalaman dengan Presiden RI, Ir. Soekarno, boleh dikata sebagai focal point di antara semua fotonya. Ada rasa hormat dan kekaguman kepada sang proklamator kemerdekaan RI, saat ia dengan hangat menerima jabatan tangan Bung Karno. Saat bersalaman, Arnold Wowonutu, sebagai pimpinan delegasi memperhatikan momen bersejarah tersebut.
Sebagai delegasi resmi Goodwill Missie Parlemen NIT, Ajoeba Wartabone dan rombongan, disambut dalam upacara penerimaan oleh Presiden RI, Ir Soekarno, dan Wapres Moehammad Hatta di Istana Kepresidenan, Djokjakarta, 18 Februari 1948. Dalam penerimaan dan resepsi Goodwill Missie Parlemen NIT di Istana Kepresidenan di Djokjakarta, 18 Februari 1948, posisi duduk Ajoeba Wartabone di sudut depan sebelah kiri dekat pintu sejajar dengan Bung Karno, Bung Hatta, dan Arnold Wowonutu.
Saya berhenti di depan foto yang memperlihatkan Ajoeba Wartabone dan delegasi Goodwill Missie Parlemen NIT dalam acara penyambutan di Kepatihan Djokjakarta. Ada pula fotonya bersama delegasi Goodwill Missie, Presiden Soekarno dan Wapres Moehammad Hatta di Istana Kepresidenan di Djokjakarta. Pada foto berbeda, tampak rombongan Goodwill Missie bersama Presiden Soekarno, Wapres Moehammad Hatta, Ki Hadjar Dewantara, dan petinggi Republik Indonesia di Gedung Negara—sebutan lain Istana Kepresidenan di Djokjakarta.
Ajoeba Wartabone berdiri mengenakan jas dan berdasi bersama Wapres Moehammad Hatta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Arnold Wononutu. Mereka berdiri menyaksikan gelar pasukan yang berbaris sambil memanggul senjata.
Tergambarkan dalam salah satu foto, suasana acara Goodwill Missie Parlemen NIT, pada Februari 1948, di Djokjakarta, di mana Ajoeba Wartabone duduk di deretan depan, menyimak Arnold Wowonutu yang sementara berdiri berpidato di tengah-tengah hadirin. Di belakang, tampak foto Bung Karno dalam ukuran besar. Suasananya terasa resmi tetapi santai, dengan meja-meja kecil diberi taplak kotak-kota yang popular di masa itu.
Mic yang digunakan Arnold Wowonutu merupakan mic dinamis jenis “ball” atau “globe” yang umum dipakai untuk pidato kenegaraan, termasuk untuk siaran radio. Ciri mic ini, bentuk kepalanya bulat besar, seperti bola, sehingga sering disebut “mik tompel” atau “mik bola”. Modelnya berdiri di tiang Panjang, bukan jenis mic genggam.
Foto-foto selama di Djokjakarta seolah bercerita. Tampak Ajoeba Wartabone bersama Arnold Mononutu dan delegasi Goodwill Missie Parlemen NIT, ketika berada di Kepatihan Djokjakarta. Dalam foto terlihat pembesar keraton mengenakan blankon dan beskap menerima tamu-tamu kehormatannya.
Foto lain, menunjukkan Ajoeba Wartabone berdiri di depan bersama Arnold Wowonutu menyaksikan gelar pasukan penyambutan di Djokjakarta. Sumber foto koleksi Perpustakaan Nasional RI itu memperlihatkan ia mengenakan setelan jas putih, dengan dasi bergaris, dan rambut yang disisir rapi. Rambut mengkilap itu tampaknya menggunakan pomade. Ajoeba Wartabone berdiri dengan tangan yang disilangkan di depan, menikmati acara gelar pasukan.
Dalam buku Ajoeba Wartabone (1894-1957): “Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja” dijelaskan, di masa Revolusi Kemerdekaan terdapat orang-orang Sulawesi yang berjuang dan berhimpun dalam organisasi Kebaktian Rakyat Indonesia-Sulawesi (KRIS). Ketika defile pasukan Republik di hadapan Wapres Bung Hatta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, dan delegasi Goodwill Missie, 20 Februari 1948, pasukan KRIS tampil dengan sangat memukau. Fotografer IPPHOS berdarah Minahasa, Frans Mundur, memotret momen historis tokoh-tokoh NIT dalam Misi Persaudaraan tersebut.
Pada foto lain yang bersumber dari Nationaal Archief – Den Haag, The Netherlands, terlihat Ajoeba Wartabone dan delegasi Goodwill Missie NIT meninggalkan Istana negara Djokjakarta setelah penyambutan resmi oleh Presiden RI, Ir Soekarno, dan Wapres Moehammad Hatta. Pada peristiwa tanggal 18 Februari 1948, terlihat seorang pria berseragam militer warna khaki yang merupakan pengawal istana.
Posisi pria berseragam militer berdiri di samping mobil mengindikasikan dia sedang bertugas sebagai pengawal resmi rombongan kala akan meninggalkan Gedung Negara. Bodi mobil yang terlihat, merupakan Cadillac Fleetwood, yang dapat dikenali dari gril depan dengan tiga bilah horinzontal tebal dan bentuk bumper serta lampu depan yang khas. Mobil ini merupakan kendaraan resmi kenegaraan RI di Yogyakarta, dan sering dipakai oleh Bung Karno.
“Ini Ajoeba Wartabone, Opa saya, berdiri bersama para tokoh Republik,” ujar Roeland Niode, yang merupakan cucu pertama dengan nada bangga, tetapi tak bermaksud jemawa.
Di akhir kunjungan, rombongan Goodwill Missie Parlemen NIT diantar oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Ki Hadjar Dewantara, dan lain-lain, pada ahad, 29 Februari 1948, di lapangan terbang Maguwo, Djokjakarta. Ajoeba Wartabone beriringan dengan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, tepat di sebelah beliau. Ia dengan tas hitam, mengenakan jas berdasi lengkap dengan topi pith helmet (dalam Bahasa Belanda disebut kurken helm atau tropenhelm), yang jadi ciri khasnya.
Seri foto NIT, memperlihatkan Presiden NIT, Tjokorda Gde Raka Soekawati, tengah menyampaikan pidatonya di Lapangan Taruna, Kota Gorontalo, pada 24 April 1948. Soekawati berpidato di atas podium yang terbuat dari bambu, dan diberi hiasan janur. Keterangan foto menyebutkan bahwa rumah yang tampak di belakang merupakan kediaman keluarga Suus Niode Wartabone, putri Ajoeba Wartabone.
Kepala Pemerintahan
Tampak pula foto yang memperlihatkan Ajoeba Wartabone tengah menyampaikan sambutan dalam acara pengukuhannya sebagai Kepala Daerah /Dewan Pemerintahan Sulawesi Utara, yang meliputi wilayah Gorontalo, Buol, dan Bolaang Mongondow. Foto yang bersumber dari Surat Kabar Pelita, Tomohon, bertanggal 8 November 1949.
Foto-foto yang lebih personal menampilkan Ajoebe Wartabone duduk di kursi menggendong cucu pertamanya, Roeland Niode, pada tahun 1950. Berdiri tepat di belakangnya Ade Olii, Taki Niode, dan Suus Niode Wartabone. Drs. H. Taki Niode nanti kita kenal sebagai Wali Kota Gorontalo ke-2, menjabat pada periode 1963-1971.
Ada pula foto Ajoebe Wartabone bersama kedua cucunya, Roeland Niode, dan Mochtar Niode, pada tahun 1955 di Gorontalo. Mochtar berdiri di atas meja rotan berbentuk bundar, sementara Roelan berdiri di sampingnya. Amanda Katili, istri dari Mochtar Niode, ketika melihat foto ini mengatakan, meja itu masih ada sampai sekarang.
“Ini foto suami saya, saat masih kecil bersama Opanya,” kata Amanda Katili, ditemani suaminya, Mochtar Niode, yang terlihat semringah hari itu.
Amanda Katili lalu mengajak suaminya foto bersama dengan backdrop bertema vintage warna coklat sepia lengkap dengan properti jadulnya berupa mesin tik, telepon, kipas angin, radio, dan rak buku, dan topi pith helmet. Di backdrop terpampang foto Ajoeba Wartabone dalam ukuran besar. Terdapat tulisan SUARA REVOLUSI DARI TIMUR, Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja “Eens naar Djokja, altijd naar Djokja”, Ajoeba Wartabone (1894-1957). Suasana ini seolah menghidupkan spirit Ajoeba Wartabone yang nilai-nilai perjuangan dan pemikirannya masih tetap relevan hingga kini. (*)


