• Jelajahi

    Copyright © Tebar News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Sports

    Dua Jalur Menuju Lakkang, dan Isu Mobilitas Berkelanjutan

    Redaksi
    19/04/2026, 8:39 AM WIB Last Updated 2026-04-19T00:40:55Z

     

    Penulis bersama Tim WRI Indonesia dan Tim Fasilitator PARKIR saat ke Lakkang. Foto: Istimewa/Handover


    Oleh: Rusdin Tompo (Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)


    Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Lakkang, pada Maret 2011, terasa sekali ada yang berubah. 


    Perubahan itu paling tampak pada jalur yang ditempuh untuk mencapai pulau sekaligus Kelurahan Lakkang yang terletak di wilayah Kecamatan Tallo, Kota Makassar itu.


    Kampung Lakkang yang berada di delta Sungai Tallo dan Sungai Pampang ini, letaknya tak jauh dari kampus Unhas, Tamalanrea. 


    Luas Lakkang sekira 1,65-3 km persegi. Akses ke sana cukup mudah dan murah. Jarak Lakkang dari Lapangan Karebosi, yang merupakan 0 Km Kota Makassar, hanya berjarak 6-7 Km ke arah Timur Laut.


    Di tahun 2006, Lakkang pernah dipilih menjadi pusat peringatan Hari Habitat Sedunia "Cities Magnet of Hope" karena nilai konservasi dan budayanya. 


    Lakkang resmi ditetapkan sebagai Desa Wisata oleh Kemenpar Ekraf pada tahun 2011, serta terdaftar di Jejaring Desa Wisata Indonesia (Jadesta).


    Mengapa bisa? Sebab, Lakkang punya banyak potensi, bukan cuma pemandangan alamnya, tetapi juga wisata sejarah dan budayanya. 


    Bunker sisa peninggalan tentara Jepang merupakan daya pikat utamanya. Belum lagi ekowisata susur sungai dengan hutan nipah dan mangrove-nya.


    Dua Rute dengan Pengalaman Berbeda


    Ketika saya ke Lakkang, Rabu, 4 Maret 2026, untuk kegiatan Pra-PARKIR dengan Luna Vidya dan tim WRI (World Resources Institute), kami naik dari Dermaga Kera-Kera, yang merupakan dermaga lama. 


    Tim WRI terdiri dari Stella Hutagalung, Mutiara Kurniasari, Rizzah Aulifia, dan Keisha Rahadini. Saya menjadi bagian dari tim fasilitator bersama Daeng Maliq, Mira Mahirah, dan Rahmiyanti Amir.


    PARKIR merupakan akronim dari Pojok Belajar Rakyat Kota untuk Inisiatif Inklusif Rendah Emisi. PARKIR adalah program yang dimotori WRI Indonesia, sebagai inisiatif penelitian kolaboratif dan pengarsipan pengetahuan guna mendorong mobilitas kota yang inklusif, aman, dan berkelanjutan.


    Program yang didukung oleh UKPACT ini dimaksudkan untuk mengatasi tantangan transportasi kelompok rentan. 


    Semula, saya pikir dermaga lama ini tidak lagi difungsikan. Itu berdasarkan informasi yang saya peroleh saat ke sana pada Kamis, 27 Februari 2025. 


    Ternyata saya keliru. Dermaga dengan topangan kayu-kayu kokoh itu masih aktif. Bahkan terdapat perahu pincara yang stand by di sana.


    Hanya saja, ada yang terasa aneh. Dahulu, berdiri alat monitoring pengukur kualitas air sungai, menggunakan panel surya, terpasang di salah satu sisi dermaga. 


    Pada hari itu--saat saya dan rombongan WRI hendak ke Lakkang--alat yang merupakan bantuan Australia Global Alumni bekerja sama dengan Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP), dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Sulawesi Selatan itu sudah tak lagi tampak.


    Mata saya mencoba mencari-cari bekasnya, tetapi sama sekali tak ada. 


    Yah sudahlah, saya tak lagi fokus ke situ, begitu diajak naik ke perahu pincara milik Yusran Daeng Sambang, yang sekaligus sebagai pappalimbang.


    Sungguh, saya begitu menikmati perjalanan kala menyusuri sungai yang lebarnya antara 30-50 meter itu. 


    Meski sesekali mengajak ngobrol teman di samping, dan menangkap momen-momen penting dengan kamera smartphone, tetapi perjalanan siang kala Ramadan begitu berkesan.


    Momen yang saya maksud, adalah ketika menyaksikan serombongan bangau terbang rendah, atau saat melihat beberapa burung berbulu putih itu bertengger di tiang-tiang kayu yang sengaja ditancapkan nelayan sebagai penanda.


    Perjalanan menyusuri aliran sungai dengan menaiki perahu pincara, terasa begitu cepat hanya dalam durasi kurang lebih 20 menit. Maunya sedikit lebih lama hehehe.


    Saat perahu bersandar di Dermaga Mandiri, terasa ada pula yang janggal. 


    Dermaga terlihat kurang terawat, pun papan bicaranya sebagian terkelupas atau sobek. 


    Belum lagi tumpukan sampah yang dijejalkan di antara batang-batang pohon, tepat di samping dermaga, terasa merusak pemandangan.


    Saat ke Lakkang di waktu lain, tepatnya pada Sabtu, 4 April 2026, dalam rangka Gaukang ri Lakkang 2026, bertema "Dari Kampung untuk Kampung: Menulis Sejarah Delta Lakkang dari Dalam", saya menempuh rute berbeda dari Dermaga Muda Lakkang.


    Saya dibonceng Ferdhiyadi, dosen UNM, dan pegiat literasi, saat masuk kampung Lakkang, karena sepeda motor saya rusak pada hari itu. 


    Kegiatan Gaukang ri Lakkang ini penanggung jawabnya Sofyan Basri, atas dukungan dari Kementerian Kebudayaan RI melalui Program Dana Indonesiana.


    Informasi sekilas saat saya dan Ferdhi ngobrol dengan pappalimbang, diketahui bahwa fasilitas dermaga ke Lakkang dibangun sekira tahun 2005. Sebelum itu, perahu ditambatkan seadanya.


    Dermaga baru yang tersambung ke jalan setapak yang terbuat dari paving block ini, diresmikan awal tahun 2021. 


    Memang, jika lewat sini, waktu tempuh perahu untuk menyeberang lebih ringkas, yakni hanya 2 menit. 


    Namun, perjalanan dari dermaga ke kampung lebih jauh, berjarak lebih 1 Km. Sehingga rerata tamu disarankan mengendarai motornya langsung ke kampung.


    Melewati jalan setapak, kita disuguhi pemandangan persawahan, tambak, dan nipah yang unik, memberi kesan berbeda. 


    Apalagi bila di jalan kita bertemu dengan hewan peliharaan warga, seperti kambing dan kerbau. 


    Cuma, pengendara motor yang lewat jalan setapak itu harus hati-hati dan cermat. Keseimbangan perlu dijaga. 


    Bukan saja lantaran lebar jalan yang pas-pasan tetapi karena di beberapa bagian ada jalan yang rusak, pinggiran yang rawan longsor, dan licin atau agak becek.


    Selebihnya, bila kita masuk ke Lakkang melewati rute ini, pemandangannya khas nan indah. 


    Apalagi bila sore hari. Senja yang jatuh di barat akan menghadirkan nuansa bauran gradasi warna biru dongker, jingga, orange, merah marun, kuning keemasan, dan lembayung.


    Isu Mobilitas Berkelanjutan


    Saya berusaha belajar instan untuk dapat memahami istilah-istilah yang terkait mobilitas berkelanjutan. 


    Maka saya memasukkan prompt ke Meta AI: "Apa yang diperlukan untuk mobilitas berkelanjutan saat menggunakan moda transportasi laut ke Pulau Lakkang, juga saat akan berpindah dari dermaga ke kapal atau perahu, dan dari perahu ke area dermaga dan seterusnya ke daratan di pulau tersebut?"


    Jawaban Meta AI saya coba ringkaskan. Menurutnya, untuk ke Pulau Lakkang, idealnya butuh 3 (tiga) tahap yang aksesibel. Intinya, rantai mobilitas tidak boleh putus, mulai dari rumah hingga ke tempat tujuan.


    Dijelaskan, saat di dermaga keberangkatan, infrastruktur dermaganya wajib punya ramp landai, bukan tangga curam. Lantainya anti-slip, ada guiding block untuk penyandang disabilitas netra, serta pagar pengaman.


    Informasi, dalam bentuk pengumuman audio plus papan tulisan besar/braille terkait jadwal dan jalur perahu. Mesti ada petugas yang paham cara membantu penyandang disabilitas.


    Fasilitas, pun demikian. Toilet aksesibel, ruang tunggu dengan kursi prioritas, serta titik tunggu kursi roda harus diperhatikan tidak kehujanan.


    Ketika berpindah dari dermaga ke perahu, dibutuhkan gangway/jembatan perahu yang aksesibel, terdapat pegangan tangan di kedua sisi, dan kemiringan landai.


    Perahunya ramah difabel/disabilitas, berpintu masuk lebar, ada ruang kursi roda, lantai rata, dan toilet yang aksesibel. Perlu petugas bantu naik.


    Alat bantu portable ramp, juga petugas terlatih. Tersedia jaket pelampung adaptif yang didesain khusus buat penyandang disabilitas fisik.


    Begitu tiba di dermaga pulau, dermaganya juga mesti sama aksesibel. Perlu diperhatikan jalur lanjutan menuju kampung, harus jalur rata/paving, bukan tanah. Guiding block diperhatikan hingga area publik.


    Transportasi di pulau juga harus diperhatikan. Perlu ada ojek yang dimodifikasi agar bisa mengangkut kursi roda.


    Prinsip mobilitas berkelanjutan bagi penyandang difabel/disabilitas dalam konteks ini, yakni universal design, terintegrasi, SDM terlatih, dan ada partisipasi penyandang disabilitas sejak perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi.


    Sejatinya, ini merupakan kebutuhan mendesak bila kita mau menjadikan Lakkang sebagai destinasi wisata yang ramah difabel/disabilitas. Tampaknya, butuh regulasi, kebijakan, dan anggaran untuk mewujudkan semua itu.


    Ketika berbagai aspek kebutuhan penyandang disabilitas itu saya konfirmasikan kepada Daeng Maliq, Kepala Pustakabilitas, PerDIK (Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan), dia menjawab bahwa idealnya memang seperti itu. 


    Namun, katanya, fasilitas yang bersifat umum saja belum memadai, apalagi mesti menyesuaikan dengan standar aksesibilitas. 


    Bahkan, kata penyuka buku dan musik itu, di jalur darat, seperti halte, terminal, stasiun, serta angkutan umum saja belum aksesibel. 


    Padahal kalau standar aksesibilitas ini diadakan, tentu akan mudah dan ramah bagi semua orang. Karena kalau sudah ramah untuk disabilitas, sudah pasti ramah untuk semua. (*)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini