Oleh: Rusdin Tompo (Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)
Tahun 1992. Kartini Ismail membawa anaknya, Utari Nur Istyaningrum, yang saat itu masih berusia 8 bulan, ke Posyandu untuk timbang badan. Di sana ia diberi penyuluhan dan pelayanan kesehatan buat putri tercintanya itu.
Pengalaman di Posyandu Kenanga 1B di Jalan Baji Gau II, Kelurahan Baji Mappakasunggu, Kecamatan Mamajang, Kota Makassar, itu rupanya begitu membekas.
Diharapkan Jadi Seperti RA Kartini
Nama Kartini Ismail, tidak berarti bahwa dia lahir di Hari Kartini, yang diperingati setiap tanggal 21 April.
Ia diberi nama Kartini oleh orang tuanya, sebagai doa dan harapan agar kelak ia menjadi perempuan hebat dan bijaksana seperti RA Kartini (1879-1904)--tokoh emansipasi wanita yang terkenal lewat kumpulan surat-suratnya "Habis Gelap Terbitlah Terang".
Kumpulan surat-surat putri bangsawan Jepara kepada sahabatnya, JH Abendanon, di Belanda itu, dibukukan dengan judul asli "Door Duisternis tot Licht".
"Aktivitas saya yang sekarang, berawal ketika membawa anak ke Posyandu. Saya melihat dan merasakan, betapa bermanfaatnya Posyandu bagi masyarakat," kenang perempuan kelahiran Makassar, 26 Agustus 1970 itu.
Meski kelahiran Makassar, tetapi orang tua Kartini Ismail berasal dari Yogyakarta. Di kota yang dijuluki Kota Anging Mammiri ini, boleh dikata, Kartini mengabdikan hidup sepenuhnya bagi kemanusiaan.
Bayangkan, semua aktivitasnya bersentuhan dengan pengabdian kepada masyarakat. Kakinya bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Tangannya sigap menolong warga yang membutuhkan.
Semua itu digerakkan oleh prinsip hidupnya: tetaplah baik, walaupun keadaan tidak selamanya baik.
Cita-cita Tini atau Mba Kar, begitu ia akrab disapa, semasa kecil ingin menjadi perawat. Memang, cita-cita itu secara formal tidak diraihnya. Namun, ia merawat banyak orang, layaknya pelayan warga kota. Ia adalah perawat dalam arti yang sesungguhnya.
Peristiwa lebih tiga dekade di Posyandu itu keterusan hingga kini. Kartini, yang tamatan SMA dan hobi bekerja, melihat tantangan yang dihadapi Posyandu.
Menurutnya, masih kurang minat masyarakat untuk berkunjung ke Posyandu. Juga terbatasnya SDM kader pengelola Posyandu.
Padahal, Posyandu jadi garda terdepan dalam menjaga tumbuh kembang generasi mendatang.
Sebagai kader Posyandu, tupoksinya adalah meningkatkan derajat kesehatan warga terutama ibu hamil, menyusui bayi dan balita. Kegiatan Posyandu, lanjutnya, mulai dari mendata, mengukur berat badan, tinggi badan, lingkar lengan, lingkar kepala, dan ukuran tekanan darah. Lebih penting dari itu, yakni tugas memberi edukasi dan membuat inovasi.
"Saya senang bila melihat ibu-ibu dan balita yang jadi sasaran Posyandu semuanya sehat," akunya.
Walau sebelumnya dia diajak oleh petugas kesehatan menjadi kader Posyandu, tetapi kini ia melakoni aktivitasnya itu sebagai panggilan hati. Baginya, Posyandu memberi dia peluang untuk belajar.
Setelah bergabung menjadi kader Posyandu, ia mulai membenahi Posyandu agar lebih menarik dikunjungi. Ia membuat inovasi, meningkatkan cakupan kunjungan, untuk skrining awal guna mencegah penyakit.
Ketika ditanya, apa manfaat yang ia peroleh? Penyuka warna hitam itu menjawab lugas, "Wawasan saya kian bertambah, dan banyak ilmu pengetahuan yang diperoleh. Saya juga bisa lebih banyak mengenal dan dikenal orang."
Kini, selain sebagai kader Posyandu, Kartini Ismail punya aktivitas seabrek. Ia andal sebagai MC (Master of Ceremony), aktif sebagai kader KB (Keluarga Berencana), pengurus PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga), Ketua Shelter Warga, kader TB (Tuberkulosis), dan Tim Pendamping Keluarga (TPK).
Masih ada lagi aktivitasnya yang lain. Kartini Ismail merupakan Ibu Relawan Baca, Pengurus Forum Kota Sehat,
Ketua Forum Komunikasi Kecamatan Sehat, serta juru masak makanan tambahan untuk ibu hamil dan balita.
Selain itu, ia juga bekerja sebagai pemandi jenazah. Sebuah pekerjaan yang tidak banyak digeluti orang. Bahkan mungkin terdengar seram bagi sebagian orang.
Di luar aktivitas sosialnya, jiwa wirausahanya juga tumbuh baik. Ia merupakan pemilik brand aneka kacang "Mama Tiny" yang menyediakan beragam jenis citarasa kacang.
Aneka kacang Mama Tiny diproduksi sendiri. Omzetnya bisa mencapai Rp10 juta seminggu, terutama saat Hari Raya Idulfitri, atau Hari Natal.
"Pemasaran kacang Mama Tiny melalui media sosial dan jejaring sosial. Infonya dari satu orang ke orang lain," jelas Kartini Ismail.
Sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menjadi mitranya hingga kini. Sebut di antaranya Dinas Kesehatan, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), serta Dinas Perpustakaan.
Kartini paham betul arti jejaring dan kolaborasi, dan ia merawatnya dengan baik. Dalam perspektif hak, ia menggunakan hak partisipasinya sebagai warga kota. Sedangkan, dalam konteks agama, ia mengamalkan silaturahmi dalam wujud pertemuan dan pertemanan.
Semangat Kerelawanan
Aktivitas Kartini Ismail didasarkan pada semangat volunteerism (kerelawanan). Mereka yang memiliki jiwa kerelawanan bekerja secara sukarela tanpa paksaan. Ia tergerak secara tulus karena kepedulian, tanggung jawab sosial, dan panggilan nurani. Akarnya ada pada nilai-nilai gotong royong yang dimiliki masyarakat Indonesia.
Semangat kerelawanannya tampak pula pada aktivitasnya sebagai kader KB. Tugasnya melakukan pendataan sekaligus meng-input datanya, melakukan penyuluhan, mencari akseptor KB, hingga mengantar Makanan Bergizi Gratis (MBG).
"Tantangan sebagai kader KB, bila ada pasangan usia subur yang belum mau ber-KB, dan penerima MBG yang malas," ujarnya.
Sementara di kepengurusan PKK, Kartini Ismail menjadi Ketua Pokja 4.
Tupoksinya mengkoordinasikan ketua dan pengurus Pokja untuk membuat program kerja, update data, dan mensosialisasikan kegiatan kesehatan, kelestarian lingkungan hidup, dan perencanaan sehat yang menjadi bagian tupoksi pojok 4 di 10 Program Pokok PKK.
Semangat kerelawanan juga yang jadi dasar ia aktif di Shelter Warga. Shelter merupkan tempat mediasi dan solusi bagi masalah-masalah yang terjadi di warga. Contohnya, kasus pertengkaran antartetangga, ribut-ribut rumah tangga, dan pelecehan seksual.
"Semua kasus kami usahakan selesai secara mediasi dan kekeluargaan, kecuali kasus pelecehan seksual," terang Kartini Ismail.
Sebagai kader TB, ia berupaya memutus rantai penularan penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru itu. Tentu saja, pendekatannya pada pasien TB dan keluarganya. Namun justru itu yang jadi tantangannya sebagai kader TB.
"Kadang ada pasien yang mangkir berobat. Ada juga saat saya mengambil dahak pasien, ternyata dahaknya dicampur air agar hasilnya terbaca negatif," kisah Kartini Ismail sambil geleng kepala.
Pengalamannya sebagai kader TB penuh suka dan duka. Sukanya, kata dia, bila melihat pasien TB sembuh, dan keluarganya mau minum anti pencegahan. Sedangkan dukanya, lanjut Kartini, bila dia mau turun mendampingi pasien TB, sementara kondisi tubuhnya kurang fit.
Energi sebagai kader memang harus senantiasa terjaga. Termasuk sebagai Tim Pendamping Keluarga (TPK), yang bertugas mendampingi catin, ibu hamil, dan ibu nifas, untuk mendapatkan info dan pelayanan kesehatan. Sebagai TPK, ia juga bertugas mendata warga yang akan mendapat bantuan sosial, melakukan peng-input-an data, dan mengantar MBG.
"Saya mesti gesit keliling kampung untuk bertemu sasaran. Ini tugas yang kasi keluar keringat," selorohnya.
Kartini Ismail, juga merupakan pengurus Forum Kota Sehat. Ia menjadi bagian dari tim untuk merumuskan dan bekerja demi menuju Makassar sebagai kota sehat, bersih, sejahtera, inklusif, dan berkelanjutan.
Tugas-tugas ini setali tiga uang dengan posisinya sebagai Ketua Forum Komunikasi Kecamatan Sehat. Sebagai ketua, ia mesti berkordinasi dengan camat, lurah, kepala Puskesmas, dan pengurus Pokja Sehat Kelurahan.
"Semua itu saya lakukan, untuk menciptakan warga, kelurahan, kecamatan sehat, dengan menciptakan masyarakat yang tanggap sehat dan tanggap bencana," imbuhnya.
Meneruskan Pekerjaan Suami
Membahas Kartini Ismail, bukan cuma itu, tetapi bisa dari beragam angel. Karena perempuan paruh baya yang tidak pilih-pilih makanan ini, dikenal luas sebagai MC.
Katanya, ilmu cuap-cuap ia dapat melalui belajar secara otodidak. Namun, demi meningkatkan kapasitasnya, ia juga mengikuti pelatihan, biar keterampilan public speaking-nya lebih bagus lagi.
Sebagai MC, ia bisa wara-wiri di acara wedding, juga acara-acara formal dan informal. Walau MC menjadi profesinya, tetapi ia mengaku tidak mematok tarif tertentu.
Kisah Kartini Ismail bagai adegan film dengan plot twist. Dari MC, ia tiba-tiba bisa berganti peran sebagai pemandi jenazah.
"Saya menjadi pemandi jenazah, setelah tertarik melihat pekerjaan almarhum suami sebagai pemandi jenazah," ungkapnya lirih.
Suaminya, Ismail Nappu, berdarah Makassar. Wafat dalam usia 50 tahun, pada 10 Oktober 2015.
Hanya berselang 9 (sembilan) hari setelah suaminya meninggal, Kartini Ismail terkena stroke. Drama hidup itu berlangsung justru di saat ia sedang memandu acara sebagai MC.
Sebagai orang tua tunggal, Kartini Ismail membesarkan keempat anaknya, masing-masing Muhammad Resky Iskaeyanto, Utari Nur Istyaningrum, Dinda Nur Salwadillah, dan Muhammad Ilham Aditya.
Suaminya, semasa hidup, merupakan support system baginya. Bukti paling sederhana berupa potongan koran terbitan tahun 2012 yang ditempelkan suaminya pada pintu lemari.
Potongan berita surat kabar itu, menampilkan profil singkat Kartini Ismail sebagai kader Posyandu selama 20 tahun. Ketika itu, Kartini Ismail masih berusia 43 tahun.
Dokumentasi yang bagai majalah dinding itu, menjadi penyemangatnya hingga kini.
Kartini Ismail, melanjutkan ceritanya sebagai pemandi jenazah. Terkadang, katanya, ada hal-hal di luar nalar yang terjadi.
"Ada jenazah yang mau dipasangkan mukenanya, tiba-tiba mukena itu terbalik. Ada juga yang semasa hidupnya dikenal orangnya jutek, tapi saat kami urus jenazahnya, wajahnya tampak bercahaya dan wangi," kisah Kartini Ismail.
Ada yang miris dari pengalamannya sebagai pemandi jenazah. Dia pernah menemukan, anak yang enggan memandikan jenazah ibunya hanya karena alasan jijik.
Untuk itu, dia butuh ketenangan guna mengatasi dinamika pekerjaannya. Katanya, biar tidak menjadi fitnah dan menutup aib jenazah.
"Kita mesti bijak, full sabar, dan penuh konsentrasi. Setelah memandikan jenazah, banyak energi yang terserap," tambahnya.
Kartini Ismail yakin dan percaya, Allah SWT Maha Baik, sehingga Ia memberikan kesehatan dan kekuatan untuk mengerjakan semua ini.
Pengalaman Kartini Ismail yang kaya, membuat obrolan dengannya bisa melompat dari satu tema ke tema lain, dari satu aktivitas ke aktivitas lain.
Kartini Ismail tercatat pula sebagai Ibu Relawan Baca. Menurutnya, membangun budaya kegemaran membaca mesti dimulai dari diri dan keluarga. Apalagi tantangannya kian berat. Kebiasaan scroll medsos di layar smartphone bisa menggerus minat baca.
"Jadi mesti pandai-pandai memanfaatkan teknologi. Saya berusaha menjadi role model untuk kegiatan gemar membaca," ujarnya.
Aktivitas lain Kartini Ismail adalah sebagai tukang masak. Semua kegiatan dihendel. Ia ke pasar, mencari bahan makanan, memasak, hingga melakukan pengantaran.
Semua kegiatannya difoto sebagai bukti dan dokumentasi. Setelah makanan siap, tim membagi makanan. Ia dan timnya juga memantau kenaikan berat dan panjang badan untuk melihat dampak program.
Raihan Prestasi dan Apresiasi
Aktivitas Kartini Ismail dalam sehari sudah terpola, membentuk disiplin dirinya sebagai pekerja sosial.
Siklusnya dimulai sejak bangun dini hari. Selepas sholat subuh, ia beres-beres rumah, sarapan, lalu mempersiapkan perlengkapan kegiatan sesuai kegiatan yang akan dihadiri dan dilaksanakan pada hari itu.
Tempat yang dikunjungi selain Puskesmas, kantor lurah, rumah warga, juga beberapa kantor SKPD. Mobilitasnya dalam sehari bisa beberapa kegiatan yang dikerjakan.
Setelah selesai, ia pulang ke rumah, menjalankan kewajiban sebagai ibu, menyelesaikan tugas yang belum selesai, lalu istirahat.
"Rata-rata saya tidur pukul 24.00, dan bangun pukul 03.00 dini hari," katanya.
Berbagai aktivitasnya itu telah membuahkan hasil. Kartini Ismail merupakan kader Posyandu berprestasi.
Ia merupakan kader Posyandu terbaik tingkat kelurahan sampai tingkat nasional. Ia pernah dinobatkan sebagai pemenang beberapa lomba penyuluhan.
Secara kelompok, ia menjadi juara lomba Posyandu, lomba senam, dan lomba kelurahan terbaik.
Kartini Ismail pernah mendapat Pin Emas 2 kali. Pertama, sebagai Kader Bina Keluarga Terbaik Tingkat Kota Makassar, tahun 2009. Kedua, menjadi Warga Kota Makassar Berprestasi di Bidang Kesehatan IMD & ASI Eksklusif, tahun 2015.
"Saat menerima penghargaan kedua, anak saya yang wakili karena saya dalam keadaan stroke. Penghargaan itu diberikan bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Kota Makassar ke-408 di Anjungan Pantai Losari," kenang Kartini Ismail dengan mata berkaca-kaca.
Prestasi lainnya, ia masuk sebagai 5 Besar Kader Posyandu Berprestasi pada tahun 2023 dalam pengelolaan menu MP ASI di kegiatan Jambore Nasional Kader Posyandu di Jakarta.
Raihan prestasi ini bukan saja mengerek namanya secara pribadi tetapi juga ikut mengharumkan nama instansi dan daerahnya.
"Saya hanya ingin bermanfaat, dan tidak menjadi beban siapapun. Semoga apa yang saya lakukan, membuat anak-anak bangga memiliki ibu seperti saya. Itu tujuan hidup saya," kunci Kartini Ismail. (*)


