![]() |
| Penulis, ketika berada di salah satu dermaga di Pulau Barrang Lompo, Kamis, 23 April 2026. Foto: Istimewa |
Oleh: Rusdin Tompo (Pegiat Literasi, dan Koordinator Perkumpulan Penulis Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan)
Pisang dua sisir, lilin merah, dan dua batang hio ditaruh tepat di dekat kemudi KM Rinjani Jaya. Rasa ingin tahu, membuat saya mencermati jenis pisangnya: Pisang Ambon (Unti Bulerang), dan Pisang Kepok (Untuk Bainang).
“Habis ki ini selamatan?” tanya saya kepada Hj. Jani.
“Iye, sudah naik dok. Dicat ki kapalnya, makanya dibaca-bacai,” jawab ibu berusia 50 tahun itu, sambil berkomunikasi dengan suaminya, H. Abdul Gaffar, 60 tahun.
Tadi, ketika masih berada di Dermaga Kayu Bangkoa, saya sempat memperhatikan, lambung kapal yang tampaknya baru selesai dicat dengan warna putih kombinasi biru dan merah bata itu. Saya mengira, kapal naik dok untuk perbaikan. Ternyata cuma dicat sendiri oleh mereka.
Hj. Jani, yang selalu mengenakan cipok-cipok, terlihat gesit. Cipok-cipok merupakan kudung atau penutup kepala khas perempuan Makassar (dan Bugis) yang sudah menunaikan ibadah haji.
Hj. Jani mengatur, mengorganisir, dan memberi komando. Ia bagai dirigen yang mengorkestrasi pelayaran kami pagi itu, Kamis, 23 April 2026. Kami ke Barrang Lompo untuk melakukan transect walk, sebagai rangkaian kegiatan PARKIR Makassar.
Saya sudah beberapa kali menumpangi KM Rinjani Jaya, setiap kali berangkat dari Dermaga Kayu Bangkoa, di Jalan Pasar Ikan, Kota Makassar, untuk ke Pulau Barrang Lompo.
Kali ini, saya bersama rombongan ke pulau yang berjarak sekira 13 km dari Makassar itu, dalam rangka kegiatan PARKIR (Pojok Belajar Rakyat Kota untuk Inisiatif Inklusif dan Rendah Emisi), yang diadakan WRI Indonesia atas dukungan UKPACT.
KM Rinjani Jaya, merupakan milik pasangan Hj. Jani-H. Gaffar. Nama kapal dengan panjang 25 meter dan lebar lebih 3 meter ini diambil dari namanya, Hajah Rinjani. Umur kapalnya sudah hampir 9 tahun. Makanya dilakukan maintenance, biar terlihat segar Kembali.
“Hanya pisang dikasikan ki. Kalau baru mau melaut, selamatannya dengan umba-umba,” lanjut Hj. Jani dalam logat Makassar.
Sarat Makna Simbolik
Umba-umba yang disebut Hj. Jani, adalah nama lain onde-onde atau klepon. Bentuknya yang bulat melambangkan harmoni, sementara rasa manis gula merah di dalamnya bermakna harapan akan hidup yang penuh rezeki dan kebahagiaan.
Pisang yang banyak digunakan dalam berbagai olahan penganan, secara simbolik melambangkan kesuburan, kesejarahteraan, keberlanjutan hidup, dan keberkahan.
Sementara lilin merah, yang dalam masyarakat Makassar disebut tai bani, melambangkan penerang dan suluh kehidupan. Lilin dari sarang lebah ini sering digunakan dalam tradisi dan ritual masyarakat Makassar, seperti appasili dan lain-lain.
Dupa berupa batang lidi hio, atau dalam bahasa Mandarin disebut Xiang, oleh masyarakat Makassar, bermakna sakral sebagai sarana perantara spiritual, penghormatan kepada leluhur, serta simbol doa dan penyucian.
Tampaknya, Hj. Jani dan keluarga masih berpegang teguh pada tradisi dan budaya Makassar yang kuat. Ada semacam energi yang ia peroleh dari sana. Terpancar dari semangatnya pagi itu, yang bergerak dari satu sisi kapal ke bagian kapal lainnya.
Arhan, warga Pulau Barrang Lompo, yang melihat saya berada di ruang juru mudi, mengatakan bahwa skripsinya membahas tentang tradisi pa’rappo atau parappo.
Judul lengkap skripsnya “Komunikasi Ritual Masyarakat Lokal Pesisir dalam Tradisi Parappo di Pulau Barrang Lompo, Kecamatan Kepulauan Sangkarrang, Kota Makassar. Skripsi tahun2026 itu, dibuat guna merampungkag kuliahnya pada Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan Universitas Muslim Indonesia (UMI), Makassar.
Arhan ini teman satu kelompok kami. Selain lelaki yang hobi badminton itu, saya sekelompok pula dengan Bima Cakrawala, Elmita Ayusyifa, dan Mutmainnah. Di kelompok 4 ini, saya fasilitatornya, Bu Stella Hutagalung dari WRI Indonesia membersamai kami selama kegiatan PARKIR di Makassar, yang diadakan selama lima hari, Senin-Jumat, 20-24 April 2026.
Arhan bilang, parappo merupakan komunikasi ritual masyarakat lokal pesisir, yang menggabungkan aspek sosial, budaya, dan religius. Prosesnya dimulai melalui musyawarah pemuka masyarakat setempat, seperti tokoh masyarakat, tokoh adat, imam masjid, serta Ketua RT dan Ketua RW.
Ritual ini banyak mengelaborasi simbol-simbol berupa sesaji, pakaian adat, dan gerakan tubuh. Ritual ini, kata Arhan, menegaskan hubungan manusia dengan Tuhan, leluhur, dan alam. Ia menjadi sarana pembelajaran nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap laut.
Parappo merupakan budaya bahari, yang hendaknya dipahami sebagai cara atau pola pikir sekelompok masyarakat yang menetap di wilayah pesisir dengan cara pemaknaan tertentu tentang pandangan hidup (religi), bahasa, seni, mata pencaharian, organisasi, pengetahuan dan teknologi.
Masyarakat pesisir menganggap laut merupakan sumber daya untuk kelangsungan, pertumbuhan, dan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Arhan melanjutkan, tradisi parappo itu berupa menurunkan satu sisir pisang Ambon bersama satu telur di laut, pada pagi atau sore hari, sebelum berangkat ke laut mencari ikan. Kearifan lokal ini merupakan bentuk ekspresi spiritual, sekaligus sebagai media komunikasi menyampaikan nilai, norma, dan pengetahuan kolektif.
“Ritual semacam ini adalah mekanisme sosial yang menjaga kohesi sosial,” tulis Arhan, menyitir Emile Durkheim (2019), yang terkenal sebagai pencetus sosiologi modern.
Bahkan bentuk ritual yang sederhana pun mencerminkan kebutuhan sosial dan spiritual manusia.
Ritual adat parappo yang melibatkan persembahan di pantai untuk mengharapkan berkah laut, merupakan komunikasi simbolik yang memperkuat identitas warga Pulau Barrang Lompo sebagai masyarakat pesisir dengan tradisi bahari yang kental.
Ritual pesisir ini memiliki fungsi edukatif karena menjadi sarana pewarisan nilai ekologis, moral, dan spiritual kepada generasi berikutnya. Melalui komunikasi ritual, masyarakt peisisr menanamkan etika berlaut, rasa hormat terhadap alam, serta keyakinan pada kekuatan transendental.
Kita bisa memahami bila masyarakat Pulau Barrang Lompo yang sebagian besar mencari nafkah sebagai nelayan, dan menggantungkan hidupnya dari laut, terus mempertahankan tradisi ini, sebagaimana ditunjukkan pasangan H. Gaffar-Hj. Jani, dan keluarga.
Keluarga Pelaut
Bagi masyarakat Pulau Barrang Lompo, ritual-ritual kelautan seperti parappo punya peran penting, tidak hanya sebagai bentuk spiritualitas dan religiositas, tetapi juga sebagai mekanisme penguatan kohesi sosial, regulasi perilaku komunal, dan transmisi pengetahuan lokal tentang musim tangkap, tempat mencari ikan, serta praktik konservasi tradisional.
Angin, arus, gelombang, dan ombak, menjadi pengetahuan dasar mereka.
Tradisi bahari ini bagai navigasi kultural yang memberi arah bagi masyarakat Barrang Lompo dalam menjalankan aktivitasnya sebagai nelayan atau pelaut.
Hj. Jani asli orang Pulau Barrang Lompo, sedangkan suaminya, H. Gaffar, asal Bonto Rannu, Mariso, yang keluarganya banyak tinggal di Pantai Tanjung Bayang, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar.
Pasangan keluarga pelaut ini, pernah punya 3 kapal, di mana 2 kapal dipakai menangkap teripang. Namun, diakui bahwa tidak mudah untuk perawatan dan biaya operasionl kapal penangkap teripang.
“Setengah mati urus ki,” kata H. Gaffar singkat, dalam obrolan kami suatu hari di awal Maret 2026.
Sebelum punya kapal sendiri, ia bekerja sebagai buruh harian, dan pernah pula mencari nafkah sebagai tukang batu.
H. Gaffar dan Hj. Jani, dikaruniai 7 anak, terdiri dari 2 laki-laki dan 5 perempuan, yang semuanya sudah berkeluarga. Dua anak lelakinya, Syamsuddin dan Jamaluddin, malah bisa mengemudikan kapal. Mereka bergantian bertugas sebagai juru mudi. Dalam sekali pelayaran, 5 dari 7 anaknya terlibat bekerja. Sehari, KM Rinjani Jaya hanya 2 kali pergi-pulang, kecuali kalau ada carteran.
Pria yang suka mengenakan kopiah haji, dengan rambut dan kumis yang sudah memutih itu, bercerita rata-rata ia mengangkut penumpang 50-an orang sekali jalan. Terkadang malah hanya 20-an orang. Bila Ramadhan, apalagi Lebaran, penumpangnya membeludak, bisa sampai lebih 100 penumpang.
Selain orang, KM Rinjani Jaya juga mengangkut barang dan kendaraan bermotor. Sepeda motor ditempatkan di bagian haluan kapal, jumlahnya bisa mencapai 12-15 sepeda motor. Kapalnya ini, katanya, sanggup memuat hingga 20 ton!
“Rata-rata orang pulau yang membawa motor, karena banyak anak yang bersekolah dan kuliah di Makassar,” terang H. Gaffar.
Duduk di kamar juru mudi, bukan saja membuat saya bisa melihat Jamaluddin bekerja menyetir kapalnya, dengan terus memperhatikan hamparan laut di depannya. Namun, dengan begitu, saya juga bisa mengajak lelaki berusia 35 tahun itu ngobrol seputar pengalamannya sebagai juru mudi.
Menurut pengakuannya, dia mengemudikan kapal sejak punya anak pertama, yakni di tahun 2009.
Sebelum itu, KM Rinjani Jaya dikemudikan teman bapaknya. Namun, karena faktor usia, matanya sudah kurang bagus melihat, lalu diganti. Teman bapaknya itu, masih terus membantu mereka sebagai ABK yang mengatur penempatan barang, dan menerima kiriman paket untuk diteruskan kepada pemiliknya.
Ketika dari jauh saya melihat kapal dan perahu-perahu nelayan berlabuh di sekitar Dermaga Pulau Barrang Lompo, saya berkomentar, “Banyak sekali perahunya warga di’.”
“Itu sudah kurang mi. Tadi sudah ada 10 kapal ke Banjarmasin. Butuh perjalanan 3 hari ke sana. Nanti 50 hari baru mereka kembali. Mereka pergi mencari teripang,” jelas Jamal.
Dia kemudian mengenang masa kanak-kanaknya, ketika masih duduk di bangku SD kelas 5. Dia mengaku, pernah ikut mencari teripang hingga ke Balikpapan. Sebagai pataripang—begitu sebutan warga bagi nelayan pencari teripang—terkadang ia ikut kapal keluarga, atau kapal milik orang, tergantung dari aktivitasnya. Setelah tak lagi sebagai pataripang, dia pun aktif di kapal milik keluarganya ini.
BBM Tak Ramah Lingkungan
Kecepatan KM Rinjani Jaya melaju antara 7-9 knot. Kapal kayu ini berbahan bakar solar. Sehari menghabiskan satu jerigen, berisi 33 liter. Diakui oleh Jamal, agak susah untuk membeli bahan bakar solar karena harus punya surat-surat kelayakan berlayar dari Dinas Perhubungan.
“Beli solar, kadang di kota, kadang juga di pulau. Kalau di pulau, harganya Rp8.500/liter. Sedangkan di kota, lebih murah, hanya Rp7.000/liter. Ada langganan, penjual eceran, tinggal pesan saja melalui WA. Kalau di SPBU, harga solar Rp6.000/liter,” papar Jamal, membandingkan harga-harga solar yang biasa ia gunakan.
Bahan bakar solar atau diesel, termasuk bahan bakar yang tak ramah lingkungan. Bahan bakar konvensional ini, menghasilkan emisi gas rumah kaca yang tinggi, seperti karbon dioksida (CO2), ketika dibakar.
Emisi gas rumah kaca dari bahan bakar yang diperoleh melalui pengolahan minyak bumi ini, berkontribusi terhadap pemanasan global dan perubahan iklim. Solar konvensional punya kadar sulfur yang cukup tinggi, yang dapat menyebabkan pencemaran udara dan membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan.
Bagi masyarakat pulau, harga BBM yang tinggi sulit dihindari. Mereka terpaksa tetap membelinya. Sebab itu yang bisa mendukung mobilitas mereka untuk beraktivitas, menjalani hari-hari, demi hidup keluarganya.
Tampaknya, regulasi terkait Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 8 Tahun 2023 tentang Penetapan Rencana Aksi Mitigasi Perubahan Iklim Sektor Transportasi mendesak untuk diejawantahkan hingga masyarakat nelayan dan pelaut punya kesadaran kritis untuk berpartisipasi menerjemahkan ketentuan tersebut secara konkret.
Bukankah mereka sudah punya nilai-nilai dan kearifan lokal, yang tinggal disinkronkan saja semangatnya? (*)


