• Jelajahi

    Copyright © Tebar News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Sports

    Pertunjukan Drama ASARAKA Mahasiswa FBS UNM di Desa Moncongkomba Takalar Berlangsung Sukses

    Redaksi
    23/05/2026, 10:09 AM WIB Last Updated 2026-05-23T02:09:20Z

     

    Pertunjukan Drama ASARAKA oleh mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah, dan Prodi Pendidikan Bahasa Makassar Angkatan 2025, FBS UNM, berlangsung meriah di Lapangan Manngaweang Daeng Nulung, Desa Moncongkomba, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar, Kamis, 21 Mei 2026. Foto: Istimewa


    Pertunjukan Drama ASARAKA oleh mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah, dan Prodi Pendidikan Bahasa Makassar Angkatan 2025, Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS), Universitas Negeri Makassar (UNM), berlangsung meriah.


    Ratusan penonton memenuhi Lapangan Manngaweang Daeng Nulung, Desa Moncongkomba, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar, Kamis, 21 Mei 2026. Aplaus diberikan setiap kali penampil menyuguhkan pertunjukannya, berupa musikalisasi puisi, lagu bahasa Makassar, tarian kontemporer, dan atraksi seni lainnya yang terjalin dalam satu rangkaian cerita.


    "Pementasan drama ASARAKA merupakan produk nyata dari Pembelajaran Berbasis Projek atau PjBL, yang kami terapkan di Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah," jelas Prof Dr Hj Kembong Daeng, M.Hum, Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNM.


    Sebagai pengampu mata kuliah "Teori dan Apresiasi Puisi Makassar", Prof Kembong Daeng mengapresiasi kesungguhan mahasiswanya mempersiapkan pertunjukan outdoor itu. Selama 10 hari, sekira 70 mahasiswa angkatan 2025, bersinergi dan berkolaborasi mewujudkan pertunjukan yang sarat nilai budaya dan filosofi Makassar itu.


    Prof Dr Hj Kembong Daeng, M.Hum dan Nur Hasbi, S.Pd, M.Pd merupakan dosen pengampu mata kuliah "Teori dan Apresiasi Puisi Makassar", yang punya pendekatan kreatif dan edukatif dalam literasi bahasa dan sastra Makassar.


    Pementasan drama ASARAKA menceritakan masuknya Islam di Cikoang, Takalar 'Butta Panrannuangku' melalui Syekh Jalaluddin serta konflik dua pemuda miskin yang terpaksa mencuri demi bertahan hidup. 


    Cerita ini mengangkat tema iman, kemiskinan, moralitas, dan sisi gelap manusia dalam kehidupan sosial. 


    ASARAKA dalam bahasa Makassar

    berarti cermin.


    "Kami memilih nama ini karena pertunjukan ini semoga menjadi bagi kita semua untuk melihat kembali nilai-nilai luhur orang Makassar, seperti siri’ na pacce, akbulo sibatang, dan kejujuran,

     yang terkandung dalam Kelong dan Lontarak leluhur kita," terang Prof Kembong Daeng.


    Pertunjukan drama ASARAKA ini disaksikan berbagai kalangan. Hadir perwakilan Pemerintah Kabupaten Takalar, Dekan FBS UNM, Prof Dr. Anshari, M.Hum, Wakil Dekan III FBS UNM, Dr Syamsu Rijal, S.Pd, M.Hum, serta beberapa dosen FBS UNM, antara lain Dr Asis Nojeng, M.Pd.


    Juga hadir pegiat literasi dan Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan, Rusdin Tompo, serta tokoh masyarakat Desa Moncongkomba.


    Menurut Prof Kembong Daeng, di panggung yang terbuat dari batang-batang bambu itu, bukan hanya cerita yang disaksikan tetapi pantulan jati diri kita sendiri. Ditambahkan, melalui PjBL, mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas.


    Lebih dari itu, mereka merancang, memproduksi, dan mempertanggungjawabkan karya seni yang dibuat dan ditampilkan secara utuh.


    Mulai dari mengkaji tema, menulis skenario, melatih akting dan tari, hingga membangun panggung malam ini. Semua dikerjakan mahasiswa sendiri dengan bimbingan senior, dan dosen sebagai fasilitator.


    "Inilah esensi Profil Pelajar Pancasila:

     mandiri, bernalar kritis, kreatif, bergotong royong, dan berakhlak mulia. Semua itu hidup dalam proses produksi ASARAKA," imbuh Prof Kembong Daeng.


    Penulis buku autobiografi "Permata Karya" itu mengaku bangga pada mahasiswa Angkatan 2025. Karena telah membuktikan

    bahwa pembelajaran bisa bermakna, ketika langsung menyentuh budaya dan masyarakat.


    Katanya, semua yang dibawa ke panggung bukan hanya cerita, tetapi nilai. Yakni nilai siri’ na pacce, nilai kebaikan, nilai kebanggaan menjadi orang Makassar.


    "Kami sengaja membawa ASARAKA ke ruang publik di Takalar agar masyarakat melihat langsung bahwa kampus tidak jauh dari kehidupan. Bahwa sastra Makassar terus akan hidup dan relevan," katanya yang disambut gemuruh tepuk tangan.


    Prof Kembong Daeng yakin bahwa setiap keringat, setiap latihan, setiap dialog yang hafal dan dipahmi para pemain, adalah bagian dari proses pembentukan karakter.


    Arhan bilang, parappo merupakan komunikasi ritual masyarakat lokal pesisir, yang menggabungkan aspek sosial, budaya, dan religius. Prosesnya dimulai melalui musyawarah pemuka masyarakat setempat, seperti tokoh masyarakat, tokoh adat, imam masjid, serta Ketua RT dan Ketua RW. 


    Ritual ini banyak mengelaborasi simbol-simbol berupa sesaji, pakaian adat, dan gerakan tubuh. Ritual ini, kata Arhan, menegaskan hubungan manusia dengan Tuhan, leluhur, dan alam. Ia menjadi sarana pembelajaran nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap laut.


    Parappo merupakan budaya bahari, yang hendaknya dipahami sebagai cara atau pola pikir sekelompok masyarakat yang menetap di wilayah pesisir dengan cara pemaknaan tertentu tentang pandangan hidup (religi), bahasa, seni, mata pencaharian, organisasi, pengetahuan dan teknologi. 


    Masyarakat pesisir menganggap laut merupakan sumber daya untuk kelangsungan, pertumbuhan, dan kesejahteraan masyarakat pesisir.


    Arhan melanjutkan, tradisi parappo itu berupa menurunkan satu sisir pisang Ambon bersama satu telur di laut, pada pagi atau sore hari, sebelum berangkat ke laut mencari ikan. Kearifan lokal ini merupakan bentuk ekspresi spiritual, sekaligus sebagai media komunikasi menyampaikan nilai, norma, dan pengetahuan kolektif.


    “Ritual semacam ini adalah mekanisme sosial yang menjaga kohesi sosial,” tulis Arhan, menyitir Emile Durkheim (2019), yang terkenal sebagai pencetus sosiologi modern. 


    Bahkan bentuk ritual yang sederhana pun mencerminkan kebutuhan sosial dan spiritual manusia.


    Ritual adat parappo yang melibatkan persembahan di pantai untuk mengharapkan berkah laut, merupakan komunikasi simbolik yang memperkuat identitas warga Pulau Barrang Lompo sebagai masyarakat pesisir dengan tradisi bahari yang kental.


    Ritual pesisir ini memiliki fungsi edukatif karena menjadi sarana pewarisan nilai ekologis, moral, dan spiritual kepada generasi berikutnya. Melalui komunikasi ritual, masyarakt peisisr menanamkan etika berlaut, rasa hormat terhadap alam, serta keyakinan pada kekuatan transendental. 


    Kita bisa memahami bila masyarakat Pulau Barrang Lompo yang sebagian besar mencari nafkah sebagai nelayan, dan menggantungkan hidupnya dari laut, terus mempertahankan tradisi ini, sebagaimana ditunjukkan pasangan H. Gaffar-Hj. Jani, dan keluarga.


    Keluarga Pelaut


    Bagi masyarakat Pulau Barrang Lompo, ritual-ritual kelautan seperti parappo punya peran penting, tidak hanya sebagai bentuk spiritualitas dan religiositas, tetapi juga sebagai mekanisme penguatan kohesi sosial, regulasi perilaku komunal, dan transmisi pengetahuan lokal tentang musim tangkap, tempat mencari ikan, serta praktik konservasi tradisional.

    Angin, arus, gelombang, dan ombak, menjadi pengetahuan dasar mereka.


    Tradisi bahari ini bagai navigasi kultural yang memberi arah bagi masyarakat Barrang Lompo dalam menjalankan aktivitasnya sebagai nelayan atau pelaut.


    Hj. Jani asli orang Pulau Barrang Lompo, sedangkan suaminya, H. Gaffar, asal Bonto Rannu, Mariso, yang keluarganya banyak tinggal di Pantai Tanjung Bayang, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar. 


    Pasangan keluarga pelaut ini, pernah punya 3 kapal, di mana 2 kapal dipakai menangkap teripang. Namun, diakui bahwa tidak mudah untuk perawatan dan biaya operasionl kapal penangkap teripang.


    “Setengah mati urus ki,” kata H. Gaffar singkat, dalam obrolan kami suatu hari di awal Maret 2026.


    Sebelum punya kapal sendiri, ia bekerja sebagai buruh harian, dan pernah pula mencari nafkah sebagai tukang batu.


    H. Gaffar dan Hj. Jani, dikaruniai 7 anak, terdiri dari 2 laki-laki dan 5 perempuan, yang semuanya sudah berkeluarga. Dua anak lelakinya, Syamsuddin dan Jamaluddin, malah bisa mengemudikan kapal. Mereka bergantian bertugas sebagai juru mudi. Dalam sekali pelayaran, 5 dari 7 anaknya terlibat bekerja. Sehari, KM Rinjani Jaya hanya 2 kali pergi-pulang, kecuali kalau ada carteran.


    Pria yang suka mengenakan kopiah haji, dengan rambut dan kumis yang sudah memutih itu, bercerita rata-rata ia mengangkut penumpang 50-an orang sekali jalan. Terkadang malah hanya 20-an orang. Bila Ramadhan, apalagi Lebaran, penumpangnya membeludak, bisa sampai lebih 100 penumpang.


    Selain orang, KM Rinjani Jaya juga mengangkut barang dan kendaraan bermotor. Sepeda motor ditempatkan di bagian haluan kapal, jumlahnya bisa mencapai 12-15 sepeda motor. Kapalnya ini, katanya, sanggup memuat hingga 20 ton!


    “Rata-rata orang pulau yang membawa motor, karena banyak anak yang bersekolah dan kuliah di Makassar,” terang H. Gaffar.


    Duduk di kamar juru mudi, bukan saja membuat saya bisa melihat Jamaluddin bekerja menyetir kapalnya, dengan terus memperhatikan hamparan laut di depannya. Namun, dengan begitu, saya juga bisa mengajak lelaki berusia 35 tahun itu ngobrol seputar pengalamannya sebagai juru mudi. 


    Menurut pengakuannya, dia mengemudikan kapal sejak punya anak pertama, yakni di tahun 2009.


    Sebelum itu, KM Rinjani Jaya dikemudikan teman bapaknya. Namun, karena faktor usia, matanya sudah kurang bagus melihat, lalu diganti. Teman bapaknya itu, masih terus membantu mereka sebagai ABK yang mengatur penempatan barang, dan menerima kiriman paket untuk diteruskan kepada pemiliknya.


    Ketika dari jauh saya melihat kapal dan perahu-perahu nelayan berlabuh di sekitar Dermaga Pulau Barrang Lompo, saya berkomentar, “Banyak sekali perahunya warga di’.”


    “Itu sudah kurang mi. Tadi sudah ada 10 kapal ke Banjarmasin. Butuh perjalanan 3 hari ke sana. Nanti 50 hari baru mereka kembali. Mereka pergi mencari teripang,” jelas Jamal.


    Dia kemudian mengenang masa kanak-kanaknya, ketika masih duduk di bangku SD kelas 5. Dia mengaku, pernah ikut mencari teripang hingga ke Balikpapan. Sebagai pataripang—begitu sebutan warga bagi nelayan pencari teripang—terkadang ia ikut kapal keluarga, atau kapal milik orang, tergantung dari aktivitasnya. Setelah tak lagi sebagai pataripang, dia pun aktif di kapal milik keluarganya ini.


    BBM Tak Ramah Lingkungan


    Kecepatan KM Rinjani Jaya melaju antara 7-9 knot. Kapal kayu ini berbahan bakar solar. Sehari menghabiskan satu jerigen, berisi 33 liter. Diakui oleh Jamal, agak susah untuk membeli bahan bakar solar karena harus punya surat-surat kelayakan berlayar dari Dinas Perhubungan.


    “Beli solar, kadang di kota, kadang juga di pulau. Kalau di pulau, harganya Rp8.500/liter. Sedangkan di kota, lebih murah, hanya Rp7.000/liter. Ada langganan, penjual eceran, tinggal pesan saja melalui WA. Kalau di SPBU, harga solar Rp6.000/liter,” papar Jamal, membandingkan harga-harga solar yang biasa ia gunakan.


    Bahan bakar solar atau diesel, termasuk bahan bakar yang tak ramah lingkungan. Bahan bakar konvensional ini, menghasilkan emisi gas rumah kaca yang tinggi, seperti karbon dioksida (CO2), ketika dibakar. 


    Emisi gas rumah kaca dari bahan bakar yang diperoleh melalui pengolahan minyak bumi ini, berkontribusi terhadap pemanasan global dan perubahan iklim. Solar konvensional punya kadar sulfur yang cukup tinggi, yang dapat menyebabkan pencemaran udara dan membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan.


    Bagi masyarakat pulau, harga BBM yang tinggi sulit dihindari. Mereka terpaksa tetap membelinya. Sebab itu yang bisa mendukung mobilitas mereka untuk beraktivitas, menjalani hari-hari, demi hidup keluarganya. 


    Tampaknya, regulasi terkait Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 8 Tahun 2023 tentang Penetapan Rencana Aksi Mitigasi Perubahan Iklim Sektor Transportasi mendesak untuk diejawantahkan hingga masyarakat nelayan dan pelaut punya kesadaran kritis untuk berpartisipasi menerjemahkan ketentuan tersebut secara konkret. 


    Bukankah mereka sudah punya nilai-nilai dan kearifan lokal, yang tinggal disinkronkan saja semangatnya? (*)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini