![]() |
| Penulis (kanan) bersama Prof. Dr. Sukardi Weda, pemilik 6 gelar Magister. (Ist) |
Oleh: Rusdin Tompo
(Penulis, Editor, dan Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)
Niat untuk mendorong Prof. Sukardi Weda punya buku tentang kisah hidupnya sudah muncul begitu saya mendapat kabar beliau dilantik sebagai Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Universitas Negeri Makassar (UNM).
Niat itu muncul lantaran saya cukup mengenalnya, dan sedikit tahu tentang bagaimana beliau bersusah payah untuk kuliah hingga punya berderet gelar akademik.
Bila namanya ditulis lengkap dengan semua gelar akademiknya maka dipastikan kolom nama pada kartu identitas bakal tidak cukup. Ini gelar lengkapnya: Prof. Dr. Sukardi Weda, SS, M.Hum, M.Pd, M.Si, MM, M.Sos.I, MAP.
Dari deretan gelar itu, tampak bahwa semangat belajarnya tanpa batas, dan wawasannya luas. Gelarnya mencakup bidang linguistik, manajemen pendidikan, sosiologi, manajemen strategis, dakwah dan komunikasi, hingga administrasi publik.
Saya dan Prof. Sukardi Weda pernah bersama-sama sebagai komisioner pada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Daerah Sulawesi Selatan, di periode kedua saya, tahun 2011-2014. Kala itu, saya diberi amanah sebagai Ketua KPID Sulawesi Selatan.
Cerita tentang kisah hidupnya semakin tersingkap, setelah saya dipercaya menjadi editor buku kumpulan tulisannya, “Politik dan Rekayasa Bahasa”, terbit tahun 2015. Proses penyuntingan buku ini membuat kami intens berdiskusi berbagai hal.
Surprise bagi saya, karena judul buku yang diterbitkan MediaQita Foundation itu juga dipilih sebagai judul orasi ilmiahnya ketika dikukuhkan sebagai Profesor oleh Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof Dr H Karta Jayadi, M.Sn di Kampus UNM Gunungsari Baru, Makassar, pada 28 Juli 2025.
Saya tertegun sejenak ketika melihat sampul buku yang dikerjakan oleh sahabat saya, Nasrul, terpampang di layar besar Ruang Teater Menara Pinisi, yang menjadi lokasi acara pengukuhan. Saya teringat, bagaimana pilihan soal judul dan diskusi sistematika buku itu terjadi, mengingat luasnya tema tulisan yang dibahas dalam buku tersebut.
Terkait rencana penulisan buku autobiografinya, meski saya beberapa kali sempat berkomunikasi melalui WhatsApp, tetapi niat itu belum saya utarakan.
Di sela-sela ngobrol ringan melalui WA, kala itu, beliau selalu menyampaikan undangan untuk jalan-jalan ke ruangannya di lantai 6 Menara Pinisi, di Jalan A.P. Pettarani. Ajakan ke ruang kerja WR III itu, walau sering dilontarkan, tetapi belum juga bisa terlaksana.
Sampai suatu ketika, saya menyampaikan bahwa akan mengantarkan kaos SATUPENA ke kantornya. SATUPENA merupakan organisasi tempat berhimpun para penulis, seniman, dan penggiat literasi.
Ketika saya ditunjuk sebagai Koordinator Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA Provinsi Sulawesi Selatan, saya meminta kesediaan beliau menjadi Dewan Penasihat bersama Prof. Ahmad M. Sewang, Prof. Aminuddin Salle, Prof. Itji Diana Daud, dan Prof. Kembong Daeng.
Akhirnya, pada Senin, 30 Mei 2022, saya berkesempatan bertandang ke kantornya, melihat suasana ruangannya, dan aktivitasnya dari dekat.
Sambil meladeni mahasiswa, kami mengobrol tentang SATUPENA dan kegiatan penulisan. Biskuit Khong Guan dan air mineral menemani obrolan kami.
Mahasiswa yang datang menemuinya juga dipersilakan mencicipi biskuit legendaris tersebut, yang memang disuguhkan untuk para tamu. Saat itulah, saya meminta beliau menulis autobiografi.
Diskusi kecil terkait rencana buku itu, yang menahan saya cukup lama berada di ruangannya. Padahal, beliau lagi sibuk-sibuknya. Namun, dengan tetap memberikan layanan ke mahasiswa yang datang—sesuai keperluan mereka—kami coba merumuskan seperti apa buku itu nantinya, kalau jadi ditulis.
Meski sempat ter-pending, rencana itu akhirnya terwujud pada Januari 2023. Buku Prof. Sukardi Weda diterbitkan Pakalawaki, milik Damar I Manakku, yang juga seorang penulis dan penggiat literasi.
Buku ini diberi judul PROFESOR PEMBELAJAR: Autobiografi Motivasi karena memang faktanya demikian, sebagaimana saya cantumkan di awal. Gelar akademik yang disandang Prof. Sukardi Weda, merupakan indikatornya.
Namun, bukan itu yang menarik dari buku ini, melainkan kisah “Seorang Anak Miskin dengan 6 Gelar Magister dan Menjadi Guru Besar”.
Bila hanya terpaku pada realitas kehidupannya semasa kecil, bahkan hingga dewasa, sulit membayangkan bahwa pria kelahiran Desa Kampung Baru Labempa, Kota Parepare, 5 Januari 1969 ini, bakal mampu menggapai jenjang pendidikan dan berbagai gelar akademik seperti sekarang.
Hanya tekad yang kuatlah yang bisa membawa beliau sampai pada posisinya yang sekarang. Visinya jelas, ikhtiarnya mantap, doanya tak putus-putus, itulah kunci keberhasilannya.
Prof. Sukardi Weda menjalankan semua tugasnya sebagai manusia, menurut Andrias Harefa (2000). Andrias Harefa dalam bukunya “Menjadi Manusia Pembelajar”, menyatakan bahwa tugas pertama manusia adalah menjadi pembelajar (becoming a learner, learning individual). Tugas kedua, menjadi seorang pemimpin (becoming a leader). Sementara tugas ketiga, adalah menjadi seorang guru (becoming a teacher).
Begitulah tri tugas, tanggung jawab, dan panggilan universal untuk setiap manusia. Rasa-rasanya semua peran itu sudah dimainkan oleh beliau. Bahkan dalam rentang waktu tertentu, secara simultan, tri tugas itu dijalankan bersamaan.
Dalam buku ini, tergambarkan dengan jelas bagaimana seorang Guru Besar tak henti belajar. Beliau tak sebatas hanya membaca teks tapi juga konteks dan mengikatnya menjadi makna, dalam wujud karya dan amalan sosial lainnya. Itulah hakikat perintah IQRA.
Beliau membaca, mendengar, berbicara dan memproduksi gagasan-gagasannya dalam bentuk tulisan, serta mengamalkannya dalam kehidupan, sebagai ciri seorang akademisi, intelektual, dan cendekiawan. Itulah mengapa, buku ini layak disebut sebagai buku motivasi yang diharapkan dapat memberi inspirasi bagi pembacanya.
Untuk membantu pembaca mengikuti alur kisah kehidupan Prof. Sukardi Weda, maka buku ini disusun berdasarkan usia kronologis penulis.
Prof. Sukardi Weda begitu tangkas merespons pertanyaan yang diajukan sebagai clue untuk memantik ia bercerita. Dimulai dari kisah Tolo’e dari Kampung Labempa, berisi pengalaman masa kecil Sukardi Weda yang sempat bergonta-ganti nama karena alasan sakit.
Ia pernah menyandang nama Latahaling, Nukran, Lakarang, Lasuka', dan Suka'. Nama Sukardi merupakan pemberian ibunya, Igatta, yang berasal dari Desa Nepo, Kabupaten Barru. Sedangkan nama Weda diambil dari nama ayahnya, Laweda, yang berasal dari Dusun Bukkere, Desa Cenrana, Kabupaten Sidrap.
Terungkap pula di bagian ini, ternyata seorang Sukardi Weda yang menyandang banyak gelar, pernah tidak naik kelas saat duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
Dikisahkan tentang kehidupannya yang serba prihatin, sehingga ibunya kerap memasak nanre barelle (nasi jagung), nanre lame (nasi ubi), dan nasi pisang (nanre loka). Seringkali, ketika bersekolah, beliau berjalan kaki demi impiannya menjadi guru.
Pada bagian guru sebagai role model, menceritakan minat Sukardi Weda dalam pelajaran bahasa Inggris, dan sosok guru sebagai inspirasinya. Beliau mencatat beberapa raihan prestasi dalam pelajaran yang disukainya itu, hingga kemudian memilih Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin (Unhas).
Sebagai mahasiswa, beliau tak hanya disibukkan dengan belajar tetapi juga mencari nafkah, antara lain sebagai loper korek gas, demi membiayai kuliahnya.
Sukardi Weda menghabiskan masa-masa kuliah S1-nya dengan tinggal di kamar masjid. Beliau merupakan aktivis mahasiswa yang bahkan sempat maju sebagai kandidat Ketua Umum PERISAI FS-UH, tapi begitu pemilihan digelar, para pendukungnya justru pulang kampung.
Di bagian wisuda tiga tahun berturut-turut, merupakan bab yang menggambarkan Sukardi Weda sebagai manusia pembelajar. Rupanya, beliau terinspirasi dari filosof dan cendekiawan dunia yang menekuni dan punya kepakaran di beberapa disiplin ilmu.
Sebagai manusia pembelajar, beliau kuliah dari satu kampus ke kampus lain, untuk mengikuti berbagai aktivitas akademik. Beliau menghadiri seminar di berbagai tempat, yang tujuannya bukan semata-mata untuk mendapatkan ilmu dari para pembicara andal, tetapi juga untuk bisa makan siang gratis.
Sebagai orang dengan ekonomi terbatas, beliau berusaha mengelola beasiswa yang diperolehnya secara bijak. Kuliahnya yang maraton bisa dirampungkan dengan baik, karena beliau punya manajemen waktu.
Dengan begitu, beliau bisa wisuda tiga tahun berturut-turut, layaknya pemain sepak bola yang melakukan hattrick, dengan deretan 9 gelar di belakang namanya.
Kekayaan dan pangkat bukan penentu, merupakan bagian selanjutnya yang menarik dibaca. Pada bagian ini dikisahkan awal mula Sukardi Weda bertemu calon istrinya, Andi Rusbanna Amir, di bus antarkota dalam perjalanan dari Kota Parepare ke Kota Makassar.
Sukardi Weda yang tidak pernah punya pengalaman mendekati lawan jenis, kali itu berani mengajak perempuan yang baru dikenalnya itu ngobrol. Gayung bersambut, hingga kedunya berjodoh, lalu naik ke pelaminan sebagai pasangan suami istri.
Keluarga muda ini sempat merantau ke Jakarta dan tinggal tidak jauh dari rel kereta api.
Selama membangun rumah tangganya itu, agama dan nilai budaya Bugis menjadi pedoman mereka dalam mendidik anak-anaknya.
Ada kisah mengharukan di bagian ini, yakni saat Sukardi Weda mengantar anaknya ke TK, yang ternyata merupakan kebersamaan terakhirnya dengan anak sulungnya tersebut.
Di bagian menunggu setelah 15 tahun, penulis dalam autobiografinya mengisahkan perjuangan, daya tahan, semangat pantang menyerah, serta kesabaran dan keikhlasannya dalam meniti karier.
Sikapnya yang istikamah membuahkan keberkahan, sehingga beliau dibukakan jalan bekerja di sebuah travel haji. Dari sanalah kemudian beliau dimudahkan berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.
Dukungan kepadanya selama meniti karier bukan saja datang dari istri dan anak-anaknya, tetapi juga dari bapak mertuanya, seorang pensiunan TNI, yang antara lain memberinya sepatu pantofel bekas untuk dipakai pergi mengajar.
Setelah menunggu 15 tahun, beliau akhirnya terangkat sebagai PNS, dan itu diakui berkat ilmu dan gelar yang disandang, yang membukakan pintu-pintu karier baginya.
Hasil tidak akan mengkhianati usaha. Mencapai jabatan fungsional tertinggi, merupakan catatan manis Sukardi Weda dalam perjalanan karier profesionalnya sebagai dosen, dan tugas-tugas fungsionalnya sebagai pengajar.
Pada bagian ini, ada sejumlah rekaman perjalanan hidup yang patut dibanggakan, di mana beliau mampu mengukir namanya sebagai dosen berprestasi, dan tentu saja menjadi Guru Besar.
Begitupun saat beliau diberi amanah sebagai Ketua Program Studi Sastra Inggris FBS-UNM, beliau mampu membawa prodinya itu meraih Akreditasi A.
Baik selama menjabat Kaprodi maupun Wakil Dekan III FBS-UNM, Sukardi Weda selalu membuka diri dan berkomunikasi dengan mahasiswa. Dengan begitu, beliau bisa bicara dari hati ke hati, memotivasi mereka, dan bisa menjadi solusi di tengah dinamika kehidupan kampus.
Dapat apresiasi karena prestasi, merupakan bab terakhir dari buku "Profesor Pembelajar". Prof. Sukardi Weda menggambarkan sepak terjangnya sebagai aktivis dan organisatoris di tengah dinamika politik kampus. Beliau bahkan mempertegas dirinya sebagai seorang petarung, meski belum berhasil menjadi orang nomor satu di Menara Pinisi.
Dengan visi yang jelas dan rekam jejak prestasi yang sudah berhasil ditorehkan, tidak mustahil impian-impiannya akan menjadi nyata.
Ketika diberi kepercayaan mengemban amanah sebagai Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, beliau terbuka dan intens berkomunikasi dengan mahasiswa. Beliau senantiasa memotivasi mahasiswa agar bisa meraih prestasi, yang berarti juga kebanggaan dan nama baik UNM.
Di antara semua kesibukannya, beliau berusaha untuk tetap menjaga mood dan energinya, dengan cara yang sederhana, biar tetap sehat dan produktif.
Buku "Profesor Pembelajar" ini hanya bercerita dan mengungkap kisah hidup Prof. Sukardi Weda hingga menjabat sebagai WR III UNM, selama 2 tahun 3 bulan. Sama sekali tidak menyinggung soal ‘pemberhentian’ di tengah jalan sebagai WR III, yang sempat jadi topik hangat pemberitaan media massa tersebut.
Alasannya, pertama, karena memang sejak awal buku ini diniatkan untuk memberi motivasi dan inspirasi dari kisah hidup seorang Sukardi Weda sebagai pembelajar, meski sudah bergelar Profesor.
Kedua, ada rencana untuk mengungkap tuntas keputusan dramatis pemberhentian itu, menjadi buku tersendiri agar lebih terang bagi publik. Publik nantinya bisa membaca, apa yang sesungguhnya terjadi sehingga dosen berprestasi ini diberhentikan oleh Rektor UNM, dan bagaimana Sukardi Weda menghadapi situasi tersebut. Tentu bakal jadi cerita yang menarik, tetapi itu nanti.
Saya berterima kasih kepada Prof. Sukardi Weda yang mempercayakan saya sebagai editor bukunya. Buku ini memberi pengalaman dan kenangan tersendiri bagi saya karena ‘honor’-nya digunakan untuk menambah uang panaik pernikahan anak saya di bulan Agustus 2022.
Semoga buku ini memberi inspirasi dan motivasi kepada para pembaca, sebagaimana diniatkan sejak awal. Aamiin. (*)
*) Dikembangkan dari Pengantar Editor pada buku Profesor Pembelajar: Autobiografi Motivasi penulis Sukardi Weda, penerbit Pakalawaki, 2023


