• Jelajahi

    Copyright © Tebar News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Sports

    Buku Kamar Pertemuan Seniman Jadi Koleksi Perpustakaan Unhas

    Redaksi
    02/06/2026, 10:17 PM WIB Last Updated 2026-06-02T14:17:06Z
    Rusdin Tompo (kanan) menyerahkan buku KAMAR PERTEMUAN SENIMAN kepada Anshar Saud, Sekretaris Perpustakaan Unhas, untuk jadi koleksi perpustakaan, pada Rabu, 20 Mei 2026. Rusdin Tompo merupakan editor buku terbitan De La Macca (April 2026), bersama Dr Nurlina Sjahrir. Foto: Istimewa


    Buku bisa menjadi medium informasi terkait sejarah dan dinamika perkembangan kesenian. Karena itu penting dilakukan pendokumentasian, sekaligus merawatnya sebagai arsip dan materi literasi. 


    Itulah yang jadi alasan buku KAMAR PERTEMUAN SENIMAN didonasikan kepada Perpustakaan Universitas Hasanuddin (Unhas), supaya bisa jadi referensi bagi mahasiswa dan kalangan akademisi di kampus merah tersebut.


    Donasi buku untuk menambah koleksi Perpustakaan Unhas, diserahkan oleh Rusdin Tompo kepada Anshar Saud, dosen Fakultas Farmasi Unhas dan Sekretaris Perpustakaan Unhas, pada Rabu, 20 Mei 2026. Rusdin Tompo merupakan editor buku terbitan De La Macca, April 2026, bersama Dr Nurlina Sjahrir.


    Saat itu, Perpustakaan Unhas tengah menyelenggarakan Pekan Literasi Buku dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional 2026. Rusdin Tompo sempat bersilaturahmi dan ngobrol dengan Ketua Panitia Pameran, Andi Nasri Abduh.


    Menurut Rusdin Tompo, materi bahasan dalam buku Kamar Pertemuan Seniman, yang terjadi pada tahun 1969 tetap relevan hingga saat ini.


    Dalam pengantar buku itu, penulis dan penggiat literasi tersebut menulis bagaimana proses sehingga ia dan Goenawan Monoharto, owner Penerbit De La Macca dan Ketua IKAPI Sulawesi Selatan periode 2020-2025, tiba pada keputusan menerbitkan buku Kamar Pertemuan Seniman.


    Suatu hari, katanya, Goenawan Monoharto dari penerbit De La Macca, Makassar, memperlihatkan naskah fotokopian berjudul Memorie dari Benteng Udjung Pandang, 29 Djuni 1969: KAMAR PERTEMUAN SENIMAN. 


    Setelah ia membolak-balik lembar demi lembar halaman naskahnya, dan sekilas membaca isinya, dia spontan meminta Goenawan Monoharto untuk menerbitkan naskah bagus tersebut.


    Ia mengaku cukup hati-hati ketika melontarkan usulan itu. Karena itu, dia membuat catatan, bila benar naskah itu belum pernah ada yang terbitkan. 


    Rupanya, Goenawan Moniharto pun sepakat. Karena seingatnya, buku dengan isi sebagaimana ada dalam naskah KAMAR PERTEMUAN SENIMAN itu belum pernah diterbitkan.


    Mengapa ia begitu antusias meminta Goenawan Monoharto menerbitkan naskah yang lebih mirip arsip dan dokumen sejarah itu? Jawabannya jelas: naskah itu merekam pertukaran ide, gagasan, dan visi tokoh-tokoh Sulawesi Selatan, yang kita kenal sebagai intelektual, seniman, budayawan, dan wartawan kawakan. 


    Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan itu menambahkan, lewat naskah buku tersebut, kita bisa melacak alasan pendirian Dewan Kesenian Makassar (DKM), di tengah riuh friksi dan kompetisi kelompok-kelompok kesenian yang semula berafiliasi dengan aliran politik tertentu. 


    Dalam naskah yang diketik di atas kertas A4, sebanyak 40 lembar itu, memuat sejumlah nama pejabat dan tokoh sebagai pemberi sambutan dan pemateri.


    Dalam naskah itu, ada nama Gubernur Kepala Daerah Sulawesi Selatan, Achmad Lamo (1966-1978), dan Walikota Kotamadya Makassar, HM Daeng Patompo (1962-1978), yang memberikan Kata Sambutan pada saat acara. 


    HM Daeng Patompo sangat menghargai adanya KAMAR PERTEMUAN SENIMAN karena sejalan dengan prospek perkembangan Kotamadya Makassar yang berdimensi tiga unsur, yakni budaya, dagang, dan industri. Patompo dalam sambutannya bahkan mencanangkan Makassar sebagai kota budaya.


    Panelis KAMAR PERTEMUAN SENIMAN terdiri dari para pemateri ternama, yakni Mattulada (budayawan, dan akademisi Universitas Hasanuddin), Hamzah Daeng Mangemba (budayawan, dan sejarawan Universitas Hasanuddin), Henk Rondonuwu (guru, politisi, wartawan, seniman), dan Arsal Alhabsi (wartawan, seniman). 


    Diskursus dalam kegiatan tersebut kian hangat karena ada sejumlah penanggap yang dihadirkan, masing-masing Andi Abubakar Punagi, M. Riza, Ali Walangadi, Anwar Hafid, Hisbuldin Patunru, Husni Djamaluddin, Manshoer Manaungi, dan A. Moein MG. Menariknya, semua tanggapan itu diberikan secara tertulis, sehingga menjadi satu kesatuan dokumen kegiatan, yang bisa dibaca dalam buku ini.


    Perupa Ali Walangadi, menyampaikan bahwa kegiatan yang diadakan di ruang kerja Ditjen Kebudayaan Provinsi Sulawesi Selatan, yang berada di dalam kawasan Benteng Ujung Pandang itu, diprakarsai bukan oleh suatu organisasi keseniaan/kebudayaan ataupun suatu lembaga pemerintah tetapi atas nama perseorangan. 


    Apresiasi juga diberikan oleh Manshoer Manaungi, yang menyampaikan rasa bangga kepada saudara Moh. Anis, sebagai pemrakarsa KAMAR PERTEMUAN SENIMAN, sambal mengutip Al-Ghazali: “Sesuatu yang bermutu tinggi lagi mulia, panjang jalannya, sukar menempuhnya, dan banyak rintangannya.” 


    Moh. Anis merupakan wartawan juga seniman, yang tentu saja punya jejaring luas di berbagai kalangan. Dia merupakan Pemimpin Umum Surat Kabar Mingguan (SKM) Mimbar Karya, yang pernah menjadi Ketua SPSI (Serikat Penerbit Surat Kabar). 


    Dengan posisinya seperti itu, wajar bila dia mampu menghadirkan sejumlah seniman, budayawan, dan kalangan intelektual. Apalagi era itu, banyak seniman yang berprofesi sebagai wartawan, atau wartawan yang juga adalah seorang seniman.


    Perihal KAMAR PERTEMUAN SENIMAN ini dibahas dalam buku Perkembangan Kesenian di Sulawesi Selatan (Sebuah Catatan Seminar), yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Sulawesi Selatan (DKSS), 1999. Buku ini disusun oleh Drs. Bagus Susetyo, Drs. Fahmi Syariff, Drs. Karta Jayadi, M.Si, Dra. Nurlina Syahrir, dan Drs. Shaifuddin Bahrum, dengan editor Ridwan Effendy dan Abd. Rojak, serta Yudhistira Sukatanya sebagai penyelaras terakhir.


    Peristiwa monumental itu kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Dewan Kesenian Makassar (DKM). Lembaga kesenian otonom tersebut diresmikan pada tanggal 25 Juli 1969, hanya beberapa bulan setelah didirikannya Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), pada bulan November 1968. 


    Seniman/budayawan yang bertanda tangan dalam pembentukan DKM terdiri atas: Hamzah Daeng Mangemba, Mattulada, Ali Walangadi, Rahman Arge, Arsal Alhabsi, Husni Djamaluddin, Aspar Paturusi, Andi Hisbuldin Patunru, Sakka Ali Jatimayu, M. Saleh Mallombasi, dan Ichsan Saleh. 


    Satu-satunya penandatangan yang masih hidup, dan menjadi saksi sejarah itu, adalah Aspar Paturusi. (*)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini