• Jelajahi

    Copyright © Tebar News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Sports

    Balla Barakkaka ri Galesong, Pustaka, dan Pusaka Syekh Yusuf

    tebarnews
    03/07/2026, 7:36 PM WIB Last Updated 2026-07-03T11:36:38Z

     

    Penulis, saat berada di Balla Barakkaka ri Galesong (BBrG) yang didirikan Prof. Aminuddin Salle Karaeng Patoto. (Foto: Istimewa)


    Oleh: Rusdin Tompo 

    (Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)


    "Rampea golla, naku rampeki kaluku”


    Ada prosesi penyambutan yang sarat makna filosofis, yang dilakukan Prof. Dr. H. Aminuddin Salle, SH, MH, Karaeng Patoto, pada setiap tamunya yang berkunjung di Balla Barakkaka ri Galesong (BBrG). Secara simbolik, pendiri Kampung Adat, Budaya, dan Konstitusi BBrG, menjamu tamu kehormatannya dengan umba-umba (onde-onde atau klepon). Bahkan beliau sendiri yang mengambil umba-umba dari bosara yang sudah disediakan, lalu disuapkan ke tamunya, dengan mengucapkan basmalah.


    “Umba-umba ini simbol dari hidup bahagia dan sejahtera. Ini kue khas Makassar. Pada saat masih mentah dan dimasukkan ke dalam air mendidih, dia tenggelam. Begitu matang, dia akan muncul ke atas, disebut akmumbai. Siapapun yang datang, apakah dia seorang menteri, panglima, Duta Besar, Ketua MK, kami upayakan suguhkan umba-umba. Ini dimakan, tidak boleh disentuh. Jadi bayangkan, dari tanganku …. Kita sama-sama berdoa, semoga senantiasa hidup tenang, bahagia, sejahtera, salewangang. Bismillah,” kata Prof. Aminuddin Salle Karaeng Patoto.


    Kami, satu-satu maju mendekat, lalu disuap umba-umba oleh Karaeng Patoto, yang pada tanggal 2 Juli 2026, genap berusia 78 tahun.


    Prof. Hamdar Arraiyyah, Prof. Kembong Daeng, Yudhistira Sukatanya dan istrinya, Dewi Ritayana, mendapat giliran pertama, disusul Syahril Rani Daeng Nassa dan M. Amir Jaya. Saya juga diminta maju untuk disuapi umba-umba. Prosesi ini disaksikan istri dan anak Karaeng Patoto, Hj. Suryana Daeng Memang, dan Dr. Buyung Romadhoni, yang juga merupakan Kepala Sekolah Adat, Budaya, dan Konstitusi BBrG. Hadir di atas Balla Barakka—yang merupakan bangunan utama—Abdul Jalil Mattewakkang, penggiat budaya dan literasi, serta Muh. Hijaz Daeng Temba, salah seorang keturunan Syekh Yusuf Tuanta Salamaka al-Makassari.


    Bangun Masjid Al-Amin


    Selama berada di BBrG, kami banyak mendengar cerita Karaeng Patoto tentang upayanya menghadirkan sebuah perubahan tanpa perlu grasah-grusuh. Sebagai dosen dan pakar hukum adat, beliau paham metode mendekati masyarakat dengan nilai budaya dan kearifan lokal Makassar. Dalam bahasa agama, beliau melakukan dakwah bil hal, sekaligus dakwah bil lisan, dengan memberi contoh langsung melalui perbuatan dan tindakan, bukan sekadar berteori.


    Kesan ini saya tangkap, setelah mendengar kisah sejarah pembangunan Masjid Al-Amin, yang berada di sisi selatan Balla Barakka. Katanya, tanah masjid yang ditempati, tadinya bukan termasuk miliknya. Kondisinya masih berupa rawa-rawa, dan sangat kotor, ketika dibeli. Ada juga palontang (tempat minum ballok atau tuak) di situ. Kemudian beliau bangunkan masjid di atas tanah tersebut.


    “Suatu ketika, di antara mereka yang punya tanah bertengkar, memperebutkan tanah warisan orangtuanya. Ketika saya dengar, saya panggil. Saya bilang, bagaimana kalau saya beli ini tanah, lalu kalian bagi-bagi. Berhenti maki bertengkar. Alhamdulillah, sekarang ada masjid, sebagai penanda dan pengingat,” cerita Karaeng Patoto.


    Ketika membagikan kisah pendirian masjidnya, beliau menyelipkan sebuah dialog yang penuh makna. Bahkan kalimatnya diulang pelan-pelan, agar kami mencamkannya. Bahwa ada konsekuensi dari setiap kebijakan dan sikap tegas yang diambil, termasuk bila itu dilakukan penguasa.


    “Nasabak punna ballomo nilakleang, tenamo tubarani. Napunna kabotorangamo nitongkok, tenamo sima. Punna akjinamo nipassalese, tena maki antu akkoasa.”


    Beliau mengapresiasi semangat orang-orang yang dengan murah hati dan tulus berdonasi. Kebaikan yang ditunjukkan oleh berbagai pihak sedemikian besar, dalam pembangunan masjid.


    Begitu peletakan batu pertama, kata beliau, langsung masuk sumbangan. Peletakan batu pertama Masjid Al-Amin BBrG, dilakukan oleh Bupati Takalar, Syamsari Kitta, pada 1 Juli 2018. Hanya dalam rentang lebih setahun, masjid pun diresmikan, tepat pada 27 Oktober 2019, juga oleh Syamsari Kitta. Acara peresmian bersamaan dengan kunjungan Bupati Takalar, saat kegiatan Gema Tasamara Camp 2019.


    Kawasan BBrG ini, memang dipersiapkan oleh Karaeng Patoto sebagai lokasi pengembangan dan pelestarian adat, budaya, nilai-nilai konstitusi dalam falsafah dan kearifan kultural Makassar, serta seni dan aksara Lontarak Mangkasarak. Apa yang dilakukan Karaeng Patoto telah ditulis dan didokumentasikan dalam buku berjudul Aminuddin Salle: Sang Pelestari Aksara, karya Abdul Jalil Mattewakkang, S,Pd, MH, MM, Muhammad Iqramsyah Djalil, dan Muhammad Asmin Rahman, terbit tahun 2023.


    Terkait pembelajaran aksara Lontarak Mangkarak ini, Karaeng Patoto punya pendekatan tersendiri. Beliau mewajibkan mereka yang berkunjung di BBrQ menuliskan namanya dalam aksara Lontarak Mangkasarak, sebelum meninggalkan lokasi. Ini misalnya, pernah dialami mahasiswa asal Malaysia yang sedang studi di Universitas Hasanuddin, saat mahasiswa asal negeri jiran itu diajak ke Balla Barakka. Begitupun dengan tentara Filipina, dan Direktur Pariwisata Kemenpar-Ekraf RI, diwajibkan menuliskan namanya dalam aksara Mangkasarak, sebelum meninggalkan tempat.


    Delegasi rombongan perwira militer Filipina yang berkunjung, kala itu, dipimpin oleh Kolonel (Inf.) Michael Glenn Manansala. Kunjungan ke BBrG bagian dari diplomasi budaya ASEAN yang difasilitasi oleh Brigade Infanteri 11/Badik Sakti, Kodim Takalar, dan Pemda Kabupaten Takalar, tahun 2024. Bagi Prof. Aminuddin Salle Karaeng Patoto, kunjungan tersebut untuk memperkuat ikatan antar-negara tetangga, melalui warisan bersama dan saling menghormati.


    Situs Tungku Katoknokang


    Galesong Selatan punya situs bersejarah dan cagar budaya yang menyimpan banyak cerita. Salah satunya Tungku Katoknokang atau pappalluang. Situs ini disebut-sebut sebagai bukti sejarah maritim dan simbol diplomasi budaya antara Nusantara, khususnya Galesong, dengan dunia internasional, terutama Marege (Aborigin) di benua Australia. Letak situs yang berusia ratusan tahun itu berada di Desa Bontokanang, berjarak sekira 6 km dari BBrG.


    “Saya lahir di sekitar daerah itu, mungkin hanya 300-an meter dari situs tungku itu. Anehnya, yang memperkenalkan saya ke tempat itu justru orang Amerika. Saat ada kegiatan Balai Pelestarian Kebudayaan, saya diundang sebagai narasumber,” ungkap Prof. Aminuddin Salle, yang membuat kami tersenyum.


    Orang Amerika Serikat yang dimaksud Karaeng Patoto, adalah Wayne A. Bougas Daeng Rate. Foto pria bule jangkung itu bisa dilihat di akun Instagram Balla Barakka. Wayne datang ke BBrG, pada 2 Oktober 2019, untuk berbagi cerita dan bernostalgia 47 tahun bersama keluarga Galesong.


    Prof. Aminuddin Salle dan Abdul Jalil lalu bercerita tentang tungku tersebut. Sekarang, katanya, sudah jadi situs nasional. Dahulu, sungai di situ bagus sekali. Kapal-kapal bisa masuk membawa teripang dari Australia ke Katiknokang (lalu berubah namanya menjadi Katoknokang). Bila ada teripang dari Australia, maka akan direbus atau diolah di situ, setelah matang baru diekspor ke China. Sayangnya, setelah jadi desa, dikasi nama Desa Bontokanang. Tentu saja, pergantian nama ini dipertanyakan.


    “Saya bilang, siapa yang ganti namanya? Biar Katiknokang saja, karena itu ada historisnya, yang menggambarkan hubungan Makassar, khususnya Galesong dengan Australia. Ini merupakan hubungan antar-negara, kala itu,” ujar Prof. Aminuddin Salle dengan nada heran.


    Prof. Aminuddin Salle, juga menceritakan kebiasaan nelayan Galesong tempo doeloe, yang menaikkan bendera di ujung perahu sebagai bentuk kegembiraan memperoleh banyak ikan. Beliau kagum pada tradisi nelayan Galesong menaikkan bendera sebagai pertanda banyak mendapat ikan, sekaligus mengajak orang-orang datang untuk dibagikan ikan. Orang-orang tua sejak dahulu, punya semangat berbagi. Mereka sama sekali tidak pelit, tidak gikgili (kikir).


    Itulah mengapa, kata beliau, Prof. Mahfud MD, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), kala itu, bilang bahwa Pancasila di Galesong, masih ada. Prof. Mahfud kemudian memberi kata pengantar pada buku yang ditulis Prof. Aminuddin Salle, berjudul “Galesong Desa Pancasila dan Konstitusi”. Prof. Aminuddin Salle bahkan beberapa kali diundang ke Jakarta untuk berceramah di hadapan para yang mulia, hakim konstitusi.


    “Na bilang Prof, Mahfud, kalau mau lihat miniatur pelaksanaan Pancasila, datanglah ke Galesong,” cerita Karaeng Patoto bangga.


    Abdul Jalil menyampaikan, dia tengah mengajukan suatu konsep program terkait artefak Tungku Katoknokang itu. Walau diakui bahwa dia bukan orang asli sana, tetapi dia punya perhatian dan kepedulian. Disampaikan pula bahwa di situ, terdapat kuburan tua, yang tidak terawat. Kabarnya, makam tersebut adalah sepasang suami-istri, salah satunya merupakan keturunan Syekh.


    “Orang itulah yang katanya menyebarkan agama Islam di wilayah situ, dan konon dialah yang memperkenalkan cara memasak teripang bagi warga setempat, di masa itu,” terang Abdul Jalil, yang juga seorang pendidik.


    Yudhistira Sukatanya, yang dikenal sebagai sastrawan dan budayawan, menekankan pentingnya peranan warga dalam mencatat dan menceritakan sejarah di tempat tinggal atau desanya. Warga perlu dimotivasi agar menulis pengalaman, ingatan, dan pengetahuannya, apalagi yang punya nilai sejarah dan kultural. Penulis novel Noni Societeit de Harmonie dan kumpulan cerpen Panglima Balla Parang itu lantas menyebut nama saya, yang getol mempraktikkan jurnalisme warga. Bahkan menularkan semangat pewarta warga itu melalui workshop dan pelatihan penulisan kreatif di berbagai kelompok dan komunitas.


    Saya mengiyakan apa yang disampaikan, sutradara teater dan pendiri Sanggar Merah Putih tersebut. Workshop serupa tampaknya perlu pula dilakukan di BBrG dengan melibatkan kalangan milenial dan Gen Z, bisa merupakan warga sekitar, kelompok pemuda, pelajar, atau komunitas literasi dan penggiat seni budaya.


    Pusaka Syekh Yusuf


    Obrolan di BBrG agak serius ketika kami membahas tentang Syekh Yusuf Tuanta Salamaka al-Makassari. Pernah, kata Prof. Aminuddin Salle, ada tim dari Perpusnas RI mau mendokumentasikan naskah kuno milik salah seorang keluarganya, yang merupakan keturunan Syekh Yusuf. Namun, mereka tidak mau perlihatkan karena dianggap sakral, dan dikeramatkan. Padahal tim tersebut tidak bermaksud mengambil arsip kunonya secara fisik, hanya mau mendokumentasikannya saja.  


    Perpusnas RI memang punya program, namanya IKON, akronim dari Ingatan Kolektif Nasional. Program IKON ini bertujuan untuk mencatat, melindungi, dan mengarusutamakan naskah kuno atau dokumen yang punya nilai penting bagi peradaban Indonesia. Setelah ditetapkan sebagai IKON, suatu naskah akan diproyeksikan untuk diusulkan menjadi Memory of the World (MoW) UNESCO.


    Prof. Hamdar Arraiyyah, penggagas buku kumpulan esai dan puisi tentang Syekh Yusuf, mengaku senang mendengar berbagai program yang dilakukan Prof. Aminuddin Salle di BBrG, terutama digitalisasi pesan-pesan filosofis dan nilai-nila kearifan lokal dalam aksara Lontarak Makassar. Dengan begitu, katanya, mudah dibagikan (share) ke berbagai kalangan dan bisa diakses dari mana saja. Ini juga perlu dilakukan terhadap karya-karya Syekh Yusuf.


    Guru Besar Universitas Islam Makassar (UIM) Al-Gazali itu, menuturkan bahwa beliau punya teman yang pernah mengkaji dan menerjemahkan hikayat Syekh Yusuf di Desa Sanrobone. Bukunya sudah diterbitkan oleh Perpusnas RI, 2 atau 3 tahun lalu. Beliau juga punya teman, Syekh Dr. H. Syahrir Nuhun, yang rutin melakukan pengkajian kitab Tuanta Salamaka, Sirrur Asrar, di Maros, pada setiap hari Rabu, ba’da Subuh. Sirrur al-asrar, artinya rahasia dari segala rahasia.


    “Jadi, saya punya satu-dua teman yang memiliki kemampuan membaca naskah-naskah terkait Syekh Yusuf dalam bahasa Arab. Ada juga teman yang mahir menulis puisi, para penyair dan satrawan. Mereka ini peduli, dan terampil menulis, apapun temanya.


    Beliau mengaku begitu gembira setelah mendengar kabar bahwa bertepatan dengan UNESCO Anniversary 2026, badan PBB tersebut telah menetapkan tahun ini sebagai peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf al-Makassari. Syekh Yusuf, yang punya nama kecil Muhammad Yusuf, lahir tanggal 3 Juli 1626.


    Muncul di pikiran Prof. Hamdar, bagaimana kalau beliau mengajak teman-temannya memperingati 400 tahun Syekh Yusuf melalui tulisan? Katanya, kenapa kita tidak mengekspresikan cinta, kepedulian, dan sedikit pengetahuan tentang Syekh Yusuf dalam bentuk puisi dan esai. Alhamdulillah, rupanya gayung bersambut.


    Disampaikan bahwa ada belasan orang yang diajak menulis dalam bahasa Inggris, Indonesia, dan Makassar. Beliau berharap, salah satu puisi dalam buku antologi tersebut, ditulis dengan menggunakan aksara Lontarak Mangkassarak, supaya teman-teman di Afrika Selatan tahu bahasa dan aksara dari daerah kelahiran Syekh Yusuf.


    Menurut pria asal Soppeng yang fasih berbahasa Arab dan Inggris itu, Syekh Yusuf sangat dihormati di Afrika Selatan. Beliau memberi contoh, di sana pada saat long weekend libur Paskah, masyarakat setempat mengadakan kegiatan di area makam Syekh Yusuf, di bukit Zandvliet/Zemplit, kampung Macassar, Faure, sekira 40 km dari jantung kota Cape Town.


    Mereka berkemah, mengadakan pertunjukan, dan mendengar ceramah tentang Indonesia, supaya dapat mengenal budaya dan asal-usul Syekh Yusuf. Ini sebagai upaya membina kerukunan antar bangsa dan umat manusia. Spirit ini serupa yang dilakukan di Gowa. Bedanya, kalau di Katangka, Kabupaten Gowa, biasanya digelar haul untuk memperingati wafatnya Syekh Yusuf Tuanta Salamaka al-Makassari, sebagaimana haul akbar yang diselenggarakan tahun 2023 dan 2024.


    Setelah Prof. Hamdar Arraiyyah berbagi cerita tentang pengalamannya mengunjungi makam Syekh Yusuf di Cape Town, Afrika Selatan. Tiba giliran Muh. Hijaz Daeng Temba, salah seorang keturunan Syekh Yusuf, berkisah tentang ulama besar tersebut. Kisah ini bersumber dari arsip kuno keluarga yang kondisinya sudah lapuk.


    “Saya mau jelaskan tentang Syekh Yusuf, semoga bisa menambah informasi untuk penerbitan bukunya nanti. Kisah ini punya muatan sejarah dan budaya, serta riwayat hidup Syekh Yusuf dan keturunannya,” kata Daeng Temba memulai ceritanya.


    Syekh Yusuf merupakan putra tunggal dari Manurunga ri Kokbang dengan istrinya Sitti Fatima Tubiyani Daeng Pajja—ada juga menyebutnya Sitti Aminah—yang merupakan anak dari Gallarrang Moncongloe. Namanya ketika masih kecil adalah Muhammad Yusuf. Sejak kanak-kanak, ia sudah belajar ilmu agama, di Bontoala, lalu ke Cikoang, sebagai pusat pendidikan agama Islam yang maju di masanya.


    Daeng Temba juga menceritakan hubungan antara Syekh Yusuf dengan Sitti Zainab Basya, putri Sultan Alauddin, Raja Gowa ke-14, yang sempat terkendala karena terkait syarat yang mesti dipenuhi, dan perbedaan status sosial. Syarat yang dimaksud, yakni kaya, pemberani, dan panrita (berilmu tinggi). Namun Muhammad Yusuf punya dua dari tiga syarat, yakni pemberani dan berilmu tinggi. Terasa ada nuansa drakor dalam ceritanya, karena Putri Raja Gowa, yang kemudian dibawa menyusul Syekh Yusuf ke bandar niaga Somba Opu, lantaran Muhammad Yusuf telah bersiap pergi meninggalkan Butta Gowa.


    Mendengar cerita Daeng Temba, kita seperti diajak menyusuri lorong waktu ke berbagai tempat di Gowa, Makassar, dan daerah-daerah lain di Sulawesi Selatan. Ada lanskap alam, tokoh-tokoh historis, pusat-pusat pendidikan agama Islam, serta sejarah dan asal-usul nama tempat (toponimi). Kokmara, Dampang Kokmara, Lokmo ri Antang, Dato ri Panggentungang, Sinassara, kisah asal mula Maudu Lompoa di Cikoang, Gunung Bawakaraeng, Gunung Latimojong, dan Gunung Bulusaraung, semua ada dalam ceritanya. Kami bagai disuguhkan menu prasmanan dengan cita rasa komplit.


    Sayang, ceritanya terpotong karena waktu sholat Dhuhur telah masuk. Kumandang azan dari Masjid Al-Amin, tidak memungkin Daeng Temba meneruskan cerita menarik tentang Syekh Yusuf. Kepada beliau, saya sarankan, sebaiknya nanti hikayat Syekh Yusuf direkam lalu dikemas per episode, dibuat lebih menarik, dengan iringan kesok-kesok dan alat musik tradisional Makassar lainnya.


    Saya juga sempat mengomentari cerita Prof. Aminuddin Salle, tentang arsip Syekh Yusuf, yang begitu dijaga oleh keturunannya. Bahkan arsip yang punya nilai sejarah tersebut, tidak mau didokumentasikan, meski itu dilakukan oleh Perpusnas RI.


    “Tabe Prof., dengan begitu naskah tersebut hanya jadi pusaka bukan pustaka. Kalau pusaka, cenderung hanya disimpan buat diri sendiri dan keluarga. Sementara kalau dijadikan pustaka, ada proses literasi dan pembelajaran, yang akan sangat bermanfaat bagi penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Apalagi di dalamnya terkandung aspek sejarah, budaya, dan agama.”


    Prof. Aminuddin, lalu menoleh ke bangunan berbentuk rumah panggung, yang berada di sisi timur, dekat pagar. Bangunan kayu, yang berbatasan dengan jalan raya itu, merupakan Baruga Pusakaya, artinya Pusat Suaka dan Budaya. Di atas bangunan itu, terpampang silsilah keluarga besar dan keturunan Syekh Yusuf. Baruga Pusakaya, jelas Prof. Aminuddin Salle, diresmikan oleh Vice President SDM & Talenta Sulawesi PT PLN, Mudhakir Al Salman.


    “Saya kasi gelar beliau, Tumalakbiritta, yakni orang yang dimuliakan. Bisa juga merupakan pengertian yang bersifat metafora,” terang Karaeng Patoto.


    Beliau kemudian mengenang, kawasan ini beberapa tahun lalu. Katanya, dahulu tempat ini gelap gulita. Mudhakir Al Salman, datang mencari mitra untuk berdiskusi karena beliau punya perhatian besar pada pemajuan kebudayaan. Prof. Aminuddin Salle menyampaikan, kondisi BBrG yang sebenarnya bahwa kalau subuh dan malam, lokasinya gelap gulita. Singkat cerita, BBrG selanjutnya berkolaborasi melalui program corporate social responsibility (CSR) PLN. Berkat program tanggung jawab sosial itu, dibangun taman baca dan memberi honor petugasnya, termasuk petugas kebersihan sungai. Bantuan CSR itu maksudnya merupakan dana stimulan, nanti diteruskan oleh Pemda. Namun, kenyataannya, harapan itu tidak terlaksana.


    “Jadi ketika Takalar masih gelap, kami di sini seperti kota kecil kalau malam hari,” kisah Karaeng Patoto memancarkan rona kebahagiaan.


    Dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Takalar ke-58, pada tahun 2018, pemerintah Kabupaten Takalar memberikan PIAGAM PENGHARGAAN kepada Prof. Dr. H. Aminddin Salle, akademisi dan budayawan Nusantara, atas pengabdian dan jasa-jasanya dalam membangun Kabupaten Takalar. Piagam penghargaan tertanggal 10 Februari 2018 itu, ditandatangani oleh Bupati Takakar, H. Syamsari, S.Pt, MM, dan Wakil Bupati Takalar, H. Achmad Dg Se’re, S.Sos. (*)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini