Oleh: Rusdin Tompo
(Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)
“Saya mengimpikan Balla Barakkaka ini seperti Akademia Plato, di mana orang-orang yang datang bisa menjadi guru sekaligus murid. Semuanya saling belajar. Namun, hari ini, kalian yang datang menjadi murid saya,” begitu kata Prof. Dr. H. Aminuddin Salle, SH, MH, Daeng Patoto, yang menyambut saya di Balla Barakkaka ri Galesong (BBrG).
Akademia atau academy yang dimaksud Prof. Aminuddin Salle, adalah sekolah yang didirikan Plato di Athena, Yunani, sekira tahun 387 SM. Sekolah yang berada di sebuah taman zaitun—sering diakui sebagai cikal bakal universitas atau institusi pendidikan tinggi formal di dunia Barat—menjadi pusat pembelajaran filsafat, matematika, dan politik di masanya. Salah seorang murid terkenal, alumni akademia, yakni Aristoteles.
Homestay Punya Panjoli
Pagi itu, Ahad, 7 Juni 2026, pendiri Yayasan Aminuddin Salle (AS Foundation) itu begitu semringah. Padahal, ketika pertama kali saya menjumpainya, beliau sedang duduk di kursi roda. Pikir saya, beliau kurang sehat. Ternyata dugaan saya meleset. Beliau begitu bersemangat, dan langsung bangkit dari kursi roda menyambut saya.
Saya lalu diajak naik ke Homestay, yang merupakan bangunan terbaru di BBrG. Tak lama berselang, Syahril Rani Daeng Nassa, penulis sanjak Mangkasarak, dan Muhammad Amir Jaya, sastrawan dan Presiden FOSAIT, tiba dan langsung bergabung dalam obrolan kami. Hadir pula bersama kami Abdul Jalil Mattewakkang, S.Pd, MH, MM, penggiat literasi dan Ketua Pokdarwis, yang membersamai Prof. Aminuddin Salle dalam mengembangkan BBrG.
Bangunan di mana kami ngobrol itu, katanya, disebut Paklaikang, artinya tempat singgah sementara, yang berfungsi sebagai homestay. Sejauh ini, masih digunakan sendiri oleh Prof. Aminuddin salle. Bila biasanya, beliau datang bermalam, dan nginap di Balla Barakka, sekarang pindah ke Homestay Balla Paklaikang. Sebuah penamaan yang merupakan bahasa campur kode: Inggris-Makassar.
Prof. Aminuddin Salle tiba-tiba mengambil sebatang kayu sappu seukuran 3x4 cm, dengan panjang lebih 1 meter, dari balik pintu homestay, sambil berkata, “Rumah ini punya panjoli, semacam kunci rumah.”
Ditambahkan, tidak sembarang kayu, yang dijadikan sebagai panjoli. Karena sebagai palang pintu atau pengganjal pintu, kayunya harus kuat, tidak mudah patah, dan tidak bakal dimakan rayap. Fungsinya untuk keamanan rumah, sekaligus pelindung diri. Bisa jadi senjata, seperti balira.
Saya bilang, panjoli ini multifungsi. Sebagai ingatan, ia menyimpan informasi, merekam peristiswa, dan penemuan teknologi di masanya.
Saya dan Syahril Rani, bergantian memegang balok-balok yang disebut panjoli itu. Ternyata memang berat, mungkin sekira 3-4 kg.
“Dahulu, ada ungkapan, jai gauknu kuganrangko panjoli hahaha,” kata Karaeng Patoto sambil tertawa.
Saya menimpali, “Kalau dibilang lekba mi ni tunrungi panjoli, bukan saja berarti dipukul tetapi juga diusir. Tidak bakal kembali karena takut.”
“Celaka memang tong ko kalau dihantam panjoli hahaha,” kata Syahril Rani tambah ngakak.
Amir Jaya, yang bersandar di tiang rumah, sambil melipat tangannya, ikut tertawa mendengar keseruan kami membahas panjoli. Begitupun dengan Abdul Jalil, selalu tersenyum mendengar celetukan-celetukan kami dalam bahasa Makassar sehari-hari.
Hari itu, kami sengaja berkunjung ke Balla Barakka untuk bersilaturahmi dengan Prof. Aminuddin Salle terkait rencana penulisan dan penyusunan buku esai dan antologi puisi Syekh Yusuf, yang digagas Prof. Dr. H. Muhammad Hamdar Arraiyyah. Tahun 2026 ini, oleh badan PBB UNESCO, ditetapkan sebagai peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf al-Makassary (UNESCO Anniversary 2026).
Prof. Hamdar Arraiyah mengajak sejumlah penulis, akademisi, penggiat literasi, seniman dan budayawan untuk menulis esai dan puisi sebagai bentuk rasa cinta, bangga, dan penghormatan kepada ulama besar asal Gowa, Sulawesi Selatan, yang telah ditetapkan sebagai pahlawan di Afrika Selatan dan Indonesia itu.
Hari itu, hadir di BBrG, selain saya, Syahril Rani, dan Amir Jaya, juga ada Prof. Hamdar Arraiyyah, Prof. Kembong Daeng, serta Yudhistira Sukatanya dan istrinya, Dewi Ritayana. Selama di Balla Barakka, kami disambut dengan tulus oleh Prof. Amunuddin Salle dan istrinya, Hj. Suryana Daeng Memang, Dr. Buyung Romadhoni, selaku Kepala Sekolah Adat, Budaya, dan Konstitusi BBrG, dan Abdul Jalil. Hadir pula Muh. Hijaz Daeng Temba, merupakan keturunan langsung Tuanta Salamaka, pemilik naskah kuno Syekh Yusuf al-Makassari, sekaligus penutur sejarah yang fasih.
Karaeng Patoto bercerita bahwa BBrG ini, diresmikan oleh Sultan Sepuh, Sultan Cirebon, sebagai Ketua Umum Silaturahmi Keraton Nusantara (SKN). Bangunan induk Balla Barakka, sebelum menempati posisinya sekarang di Desa Galesong Baru, sudah dipindahkan yang ketiga kalinya. Semua struktur dan arsitektur bangunannya masih asli. Hanya sedikit bagian-bagian tertentu yang dilakukan pergantian, seperti atapnya.
“Ketika dari Katoknokang, bangunannya dibongkar, lalu dihanyutkan di sungai terus ke laut, kemudian masuk ke sungai Takbuncini yang berada di depan Balla Barrakka. Bangunanya sempat menempati lokasi di dekat Jalan Poros Galesong. Di lokasi lama ini, terlantar, lalu dibawa lagi ke sini tahun 2016. Saya bilang ke kakak, saya mau selamatkan ini,” papar Prof. Aminuddin Salle.
Kakak yang dimaksud adalah Prof. Dr. H. Kaimuddin Salle, SH, M.H Daeng Mattawang. Keduanya lahir dan dibesarkan di Balla Barakka, dari pasangan Jagong Daeng Salle dan Patimang Daeng Calla. Prof. Aminuddin kelahiran Galesong, 2 Juli 1948.
Harapan suami Hj. Suryana Hamid, SH, MH, Daeng Memang, terdengar sederhana, seperti dirinya yang bersahaja. Namun, justru sangat substantif, terkait sejarah dan identitas kulturalnya.
“Kalau cucu saya ditanya, orang apa ki? Dia akan jawab, tu Galesong. Apa buktinya? Itu Balla Barakkaka. Nah, sekarang ada buktinya. Eh, lama-lama dikembangkan. Rupanya banyak yang tertarik,” terang Karaeng Patoto.
Tanah keluarganya berada di jalan poros, di Dusun Takbuncini. Balla Barakka juga berdiri setia di sana, sejak tahun 1936. Rumah bergaya tradisional Makassar itu, merupakan warisan orangtuanya, yang diakui sebagai keluarga sederhana.
“Bapak saya kan guru. Tapi alhamdulillah, ada juga harta-harta leluhur. Itu mi beliau bikin rumah, yang menjadi bangunan utama di sini.”
Ketika mengucapkan itu, terdengar ada rasa hormat, bercampur bangga, dan kenangan yang berkelebat pada sosok orangtuanya. Ayah Prof. Aminuddin Salle, bernama Jagong Daeng Salle, dan ibunya bernama Patimang Daeng Calla. Prof. Aminuddin Salle merupakan keturunan Syekh Yusuf Tuanta Salamaka al-Makassary, dari garis istri bernama Sitti Hafilah Johar Manikam, yang merupakan putri Sultan Indragiri.
Lokasi tanah yang sekarang, kata Karaeng Patoto, dibeli dari warga, lalu dikembangkan menjadi Kampung Adat dan Budaya BBrG. Peresmiannya dilakukan pada 14 April 2019 oleh Asisten 3 Pemprov Sulawesi Selatan, Dr. H. Tautoto Tana Ranggina, atas nama Gubernur Sulawesi Selatan bersama Sultan Sepuh XIV Prabu Raja Adipati Arief Natadiningrat.
Desa Wisata dan Literasi Budaya
Balla Barakka ri Galesong merupakan satu dari 75 Desa Wisata dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023 oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Sebagai desa wisata, BBrG punya ciri bukan saja berbasis adat dan budaya tetapi juga sarat nilai-nilai filosofis tentang kepemimpinan, pemerintahan, dan konstitusi. Menarinya, pesan-pesan luhur dalam bahasa dan Lontarak Makassar itu telah didigitalisasi sehingga dapat diakses dengan pemindai barcode.
Misalnya, ada tulisan dalam aksara Lontarak Makassar, “Tojeng, rampangi bulo ammawang, Kebenaran ibarat bambu yang terapung.” Ada pula tulisan, “Boyai nanubuntuluk. Carilah ilmu itu, kamu akan mendapatkannya.” Di bawah setiap kalimat atau pesan, tertera tanggal penulisannya dalam dua versi tahun (masehi dan hijriah), lengkap dengan tanda tangan Prof. Aminuddin Salle, dan logo appaka sulapak.
Pesan-pesan itu ditulis dalam bingkai appaka sulapak, terbuat dari anyaman bambu, berbentuk empat persegi, yang sudah dibuatkan hak ciptanya oleh Prof. Aminuddin Salle. Maka jangan heran bila hampir di setiap sudut terdapat bentuk-bentuk appaka sulapak dalam berbagai ukuran. Bahkan sandaran kursi pun diberi merek appaka sulapak. Sungguh kreatif dan inspiratif.
Pernah, kisah Pro. Aminuddin Salle, berkunjung rombongan dari 12 negara sahabat, menumpangi dua bus, pada 28 Juni 2019. Mereka merupakan Duta Wisata dan Budaya, peserta program Field Trip Beasiswa Seni Budaya Indonesia, Kementerian Luar Negeri RI.
Setelah rombongan meninggalkan Balla Barakka, tiba-tiba muncul polisi yang mengawal mereka. Kata polisi, masih kurang 1 orang, yang berasal dari Meksiko.
“Rupanya, peserta asal Meksiko itu masih mau berlama-lama di Balla Barakka. Dia keasyikkan menari ganrang bulo dengan anak-anak hahaha,” cerita Karaeng Patoto terkekeh.
Di area Balla Barraka ini terdapat beberapa bangunan dan fasilitas, antara lain Balla Saukang, Baruga Appaka Sulapak, Baruga Pusakaya, Baruga Konstitusi, Sirinna Barugaya, yang bisa digunakan untuk berdiskusi, dan Taman Baca Diana. Baruga Konstitusi diresmikan oleh Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Prof. Dr. Anwar Usman.
Area BBrG ini terasa adem dan menyenangkan. Sesekali terdengar kesiur angin yang bergesekan di daun-daun bambu. Juga suara cericit burung, yang hinggap di pohon-pohon yang menghadirkan keteduhan.
Prof. Aminuddin Salle bercerita, bila rumpun bambu yang ada di halaman, ada yang tumbuh sendiri dan ada yang sengaja ditanam. Bambu yang aslinya tumbuh di situ adalah bulo parring. Sedangkan, bambu kuning atau bulo gading, beliau beli karena terkait tokoh Sawerigading, dalam epos La Galigo. “Sawe” artinya beranak pinak, dan “gading” di atas. Ada mitos yang menyebut bahwa Sawerigading itu lahir dari bambu.
BBrG lebih dari sekadar desa adat dan budaya. Ia bagai ruang kreasi dan ekspresi seni pemiliknya. Lihat saja perabotannya yang terbuat dari bahan daur ulang. Kursi-kursi dari drum bekas berwarna merah kuning hijau mencolok, kontras dengan suasana di sekitarnya.
Meski Prof. Aminuddin Salle merupakan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, dan pakar hukum adat, tetapi jejak pengabdiannya pada masyarakat begitu terasa. Di biodatanya tertulis, beliau pernah menjadi Ketua RT di Kelurahan Tamalanrea Jaya, Kecamatan Tamalanrea. Beliau sangat piawai membuat komposter dan menularkan pengetahuan dan keterampilannya itu bagi terwujudnya lingkungan yang asri, indah, bersih dan sehat.
Rumah dan material yang digunakannya punya ceritanya masing-masing. Tiang-tiang kayu ulin (sappu) yang dipakai, banyak yang merupakan daur ulang. Tiang-tiang itu, memang ada yang terlihat bolong, bekas tancap pasak. Meski kayu bekas, teaapi diakui justru lebih kuat dan tahan lama. Sebagian kayunya merupakan kayu campaga (cenrana) yang, katanya, sudah sulit didapat.
Ada juga kayu-kayu sisa tebangan pohon yang disulap jadi meja dan kursi estetik. Kayunya berasal dari pohon trembesi yang ditebang di kampus Unhas, Tamalanrea, karena dianggap menggangu tiang listrik. Ide kreatifnya langsung muncul, begitu melihat batang-batang kayu besar dari pohon yang punya nama Latin Samanea Saman atau Ki Hujan itu.
“Begitu saya lihat, langsung saya panggil tukang tebang pohonnya, saya mau ambil. Saya kasi uang tukangnya. Setelah disenso, saya bawa ke Balla Barakka. Saya bilang ke tukang di sini, jangan dikasi lurus, ikuti saja urat-urat kayunya, ternyata lebih estetik,” ungkapnya.
Saya cermati kursi dan meja yang terbuat dari pohon Trembesi itu. Paduan gradasi warna coklat dan kremnya begitu indah. Apalagi dipelitur dengan warna netral, sehingga walau tampak mengkilap tetapi tetap natural.
“Alhamdulillah, tidak banyak yang bilang ini cantik, kecuali yang punya rasa seni hehehe,” ucap Prof. Aminuddin Salle, menanggapi pujian saya bahwa meja kursinya bagus.
Pantas bila sejumlah sekolah menjadikan BBrG sebagai lokasi wisata sekaligus tempat belajar. SMA Islam Athirah, Makassar, malah beberapa datang. Begitupun dengan SMA Negeri 5 Takalar. Di lokasi BBrG ini, pernah diadakan aktivitas perkemahan selama 3-4 hari, dengan peserta mencapai 350 orang. Pada kesempatan itu, Karaeng Patoto, berorasi dan selalu menyelipkan literasi budaya di dalamnya.
BBrG telah menjadi rujukan untuk destinasi edukasi, termasuk untuk kegiatan yang terkait falsafah dan dasar negara. Pernah, pada tanggal 31 Agustus 2019, BBrG menerima kunjungan Dr. Kunthi, Tim Kajian Pembudayaan Pancasila Watimpres RI, bersama Tim Fakultas Hukum Universitas Bosowa.
Prof. Mahfud MD, ketika menjadi Ketua MK, bahkan menetapkan BBrG sebagai Desa Pancasila yang pertama di Indonesia. Sekarang, sudah terbentuk 5 Desa Pancasila, dan setiap ada pembentukan Desa Pancasila, Prof. Aminuddin Salle dan istrinya diundang.
Kunjungan pernah pula dilakukan oleh 9 hakim konstitusi, salah seorang di antaranya Prof. Aswanto, Wakil Ketua MK, asal Sulawesi Selatan. Gubernur Sulawesi Selatan, Dr. Syahrul Yasin Limpo (periode 2008-2013 dan 2013-2018), yang akrab disapa SYL, juga ikut hadir menemani tetamu. Semua tamu dari MK plus SYL, pada hari itu diberi badik sebagai cendera mata. (*)


