![]() |
| Tim Pra-PARKIR setelah diskusi di teras rumah Daeng Dadi di Pulau Barrang Lompo. (Ist) |
Oleh: Rusdin Tompo (Penulis, Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)
Perjalanan dengan KM Rinjani Jaya dari Dermaga Kayu Bangkoa, Jalan Pasar Ikan, ke Pulau Barrang Lompo terasa menantang bagi saya. Apalagi saat tengah melaksanakan ibadah puasa Ramadan, seperti sekarang. Bukan soal panas dan haus, tetapi perkara laut dan ombaknya.
Saya termasuk orang yang mudah oleng alias mabuk laut bila berada di atas perahu atau kapal. Makanya, ketika KM Rinjani Jaya masih bersandar di dermaga, untuk menunggu penumpang dan menaikkan barang, saya lebih memilih tidak berada di atas kapal--duduk bersama penumpang lainnya.
*Perjalanan Kurang dari Sejam*
Meski sudah berada di dermaga sebelum pukul 10.00, tetapi saya baru naik ke kapal, beberapa saat setelah akan bertolak dalam perjalanan menempuh jarak sekira 13 kilometer, menuju pulau yang masuk Kecamatan Sangkarrang, Kota Makassar itu.
Tarif per orang ke Barrang Lompo, sebesar Rp15.000. Begitupun dengan sepeda motor, dikenakan ongkos yang sama. Sekali berangkat, KM Rinjani Jaya bisa memuat 100 penumpang, dan lebih dari 10 sepeda motor.
Saya diajak oleh Luna Vidya untuk kegiatan Pra-PARKIR oleh WRI (World Resources Institute) Indonesia.
Hari itu, Tim WRI terdiri dari Stella Hutagalung, Mutiara Kurniasari (Ketua Tim Makassar), Rizzah Aulifia, dan Keisha Rahadini.
Saya masuk dalam tim fasilitator bersama Daeng Maliq, Mira Mahirah, dan Amy. Ikut pula Jonah, dan Diar, pendampingnya Daeng Maliq.
Kami akan melakukan studi penjajakan (scoping study) di Pulau Barrang Lompo dan Pulau Lakkang, Selasa-Rabu, 3-4 Maret 2026.
Pukul 11.00, KM Rinjani Jaya berangkat meninggalkan demaga yang berada di Kelurahan Bulo Gading, Kecamatan Ujung Pandang itu.
Saya sempat menoleh ke belakang. Melihat bangunan Hotel Makassar Golden yang berada di sisi kiri, dan Hotel Pantai Gapura, yang berada di sisi kanan dermaga.
KM Rinjani Jaya, milik H Abdul Gaffar, 60 tahun. Pria asal Bonto Rannu, Mariso ini, bersama istrinya, Hajah Jani, mengelola kapal layaknya perusahaan keluarga.
Hari itu, 5 dari 7 anak mereka terlibat. Jamal bertindak sebagai nakhoda, sementara saudara-saudaranya yang lain bahu-membahu, mengatur arus penumpang, sepeda motor, dan barang yang akan diangkut ke Pulau Barrang Lompo.
Sepeda motor diatur rapi di atas haluan, dan diikat agar tidak goyang saat ombak.
Di tengah perjalanan, kapal terasa bergoyang. Terdengar ada penumpang yang bilang, kalau ombaknya kencang.
Jamal meralatnya. Katanya, itu bukan ombak tetapi arus air akibat angin laut.
"Kapalnya goyang karena melawan arus. Ini pengaruh mau mi masuk angin muson timur," jelas H Gaffar.
Sebagai orang awam, saya manggut-manggut mendengar penjelasan sederhana itu. Pengalaman H Gaffar dan Jamal, membuat mereka belajar dari angin dan laut, sehingga bisa membaca kondisi alam.
Setelah memakan waktu perjalanan kurang dari satu jam, KM Rinjani Jaya akhirnya tiba di Dermaga Pulau Barrang Lompo.
Jam tangan saya menunjuk angka pukul 11.55.
*Studi Penjajakan Tim Pra-PARKIR*
Setelah tiba di Barrang Lompo, kami menuju Penginapan & Kos "Balla Jeknek", yang berada persis di samping kiri dermaga.
Saya menduga nama penginapan ini terkait dengan posisinya yang berada tepat di atas air laut. "Balla Jeknek" dalam bahasa Makassar, artinya rumah air.
Penginapan milik Haji Ella ini cukup strategis dan relatif aman karena bersebelahan dengan kantor polisi dan dekat Kantor Kelurahan Barrang Lompo.
Setelah menaruh barang, kami menuju ke rumah Mardiana, yang merupakan warga Pulau Barrang Lompo.
Di rumah wanita berhijab yang akrab disapa Daeng Dadi ini, kami berkenalan, bertukar pengalaman, berdiskusi.
Muti menjelaskan tentang Program PARKIR, akronim dari Pojok Belajar Rakyat Kota untuk Inisiatif Inklusif Rendah Emisi.
Program PARKIR oleh WRI Indonesia adalah inisiatif penelitian kolaboratif dan pengarsipan pengetahuan untuk mendorong mobilitas kota yang inklusif, aman, dan berkelanjutan.
Program ini didukung oleh UKPACT untuk mengatasi tantangan transportasi kelompok rentan.
Kegiatan yang lebih terasa sebagai obrolan ini, berlangsung di teras rumah Daeng Dadi, yang diteduhi pohon jambu dan pohon mangga. Kami duduk lesehan, melingkar.
"Kegiatan ini, merupakan Pra-PARKIR untuk mengumpulkan data dan informasi," terang Muti.
Rizza menambahkan, Program PARKIR pertama sudah diadakan di Palmareh, Jakarta Barat. Dari situ mereka mendapat gambaran tentang pengalaman warga kampung kota dan tantangan mobilitas.
Untuk memahami lanskap transportasi secara nasional, studi PARKIR diadakan di tiga kota utama, yakni Makassar, Surabaya, dan Semarang. Studi yang sama dilakukan juga di wilayah perkampungan kota di Jakarta Barat, seperti Palmerah.
Di tengah-tengah diskusi, sesekali terdengar teriakan pedagang kue keliling menawarkan jualannya: jalangkote... jalangkote....
Daeng Maliq bilang, "Wah, kayaknya ini kode." Celetukan itu disambut gelak tawa kami.
Karena teriakan yang sama kembali berulang, saya sampaikan bahwa wajar kalau dia kembali lagi. Karena jalan di pulau ini ya itu-itu saja, dan terhubung satu dengan lainnya. Tidak akan bisa nyasar.
Pulau Barrang Lompo memiliki luas sekira 20,58 hektar.
Warga suka berkeliling pulaunya dengan ojek bentor. Moda transportasi ini lebih sebagai hiburan bagi warga, terutama anak-anak. Tak cukup 2 lagu, sudah selesai satu putaran.
Berdasarkan data profil Kelurahan Barrang Lompo, tercatat ada 4.239 warga atau sebanyak 1.024 keluarga. Laki-laki sebanyak 2.101 orang, lebih sedikit dibanding perempuan yang mencapai 2.138 orang.
Pulau Barrang Lompo bagian dari gugusan Kepulauan Spermonde, yang tersebar di Selat Makassar. Jumlahnya mencapai 120an pulau, termasuk Pulau Barrang Caddi, Samalona, Lanjukang, Samatellu, dan lain-lain.
Barrang Lompo merupakan salah satu pulau terbesar dengan jumlah penduduk terpadat di kawasan ini.
Warga Pulau Barrang Lompo kebanyakan merupakan nelayan tradisional. Aktivitas mencari teripang dengan segala risikonya, menjadi bagian dari kisah hidup mereka.
Mereka mencari teripang ke perairan sekitar Pulau Madura dan Kalimantan. Bahkan sampai ke wilayah timur seperti Maluku, Papua, hingga Laut Arafura.
"Pencari teripang itu berisiko tinggi. Banyak yang mengalami lumpuh, bahkan meninggal dunia, akibat menggunakan kompresor saat menyelam," kisah Daeng Dadi.
Penyelam teripang sering menggunakan kompresor konvensional yang disambungkan ke selang panjang sebagai alat bantu napas mereka.
Metode berbahaya ini memungkinkan mereka menyelam hingga kedalaman lebih 50-an meter selama berjam-jam.
Jenis teripang yang diperdagangkan dan punya nilai ekonomis tinggi, antara lain teripang Dongang, teripang Pasir, dan teripang Gondrong.
Demi bisa memperoleh teripang itulah, mereka mempertaruhkan hidupnya. Miris, karena para penyelam teripang itu tidak punya asuransi kesehatan/jiwa.
Penanganan terhadap mereka juga boleh dibilang kurang responsif, buntut dari minimnya fasilitas dan akses.
*Mati Lampu dan Gerhana Bulan*
Menjelang sore, terdengar pengumuman dari PLN lewat toa masjid. Akan dilakukan pemadaman bergilir.
Dua RW di pulau itu akan mengalami mati lampu secara bergantian. Pembangkit listrik PLN sedang bermasalah.
Mumpung lagi di pulau, saya manfaatkan waktu untuk ngabuburit menikmati sunset. Rupanya, di tempat yang saya datangi, sudah lebih dahulu ada usi Luna, Jonah, dan Amy.
Kami menikmati senja di atas papan-papan yang jadi bagian dari rumah bergaya estetik. Usi Luna bilang, rumah itu milik salah satu warga yang digunakan hanya untuk menikmati angin, bila ia lagi gerah.
Setelah itu, kami ke rumah Daeng Dadi untuk menunggu azan Magrib, saat berbuka puasa. Alamak, ternyata rumahnya terkena giliran mati lampu.
Apa boleh buat, kami berbuka puasa dalam suasana gelap, hanya diterangi nyala lilin dan senter dari telepon genggam.
Terlepas dari itu, momen merasakan puasa di pulau ini terasa istimewa dengan menu yang disediakan tuan rumah. Selain kurma dan es buah, juga disediakan cumi, ikan goreng, dan sate teripang.
"Ini menu buka puasa yang mahal. Kerena khas, ada sate teripang Gondrong," kata Daeng Maliq.
Harga teripang Gondrong atau sering pula disebut teripang Duri/Gamat kering, berkisar antara Rp1,9 juta hingga Rp3,5 juta per kilogram. Harganya tergantung ukuran, ketebalan, dan kualitas keringnya.
Teripang Gondrong termasuk jenis teripang premium. Harga ecerannya per 100 gram, antara Rp190.000-Rp700.000.
Hampir semua dari kami memuji ikan goreng yang dimasak Daeng Dadi. Teman-teman berkomentar bahwa ikannya gurih, pas dengan sambal yang pedas tetapi nagih.
Mendengar pujian kami, Daeng Dadi merendah. Dalam logat Makassar, ia berkata, "Hanya asam dengan garam ji, saya pakaikan ki."
Saya menyempatkan sholat Magrib berjamaah di masjid, dan melihat warga buka bersama di teras masjid.
Di Barrang Lompo, terdapat dua masjid, yakni Masjid Nurul Yaqin dan Masjid Nurul Mustaqim.
Daeng Dadi menyampaikan, mereka dibuatkan jadwal untuk sediakan pakbuka. Sehari, 20 keluarga mengantar menu takjil ke masjid. Jadi, satu keluarga mendapat dua kali giliran ke masjid berbeda.
Saya melihat, di depan masjid ada beberapa pedagang berjualan. Ini fenomena lazim selama bulan Ramadan. Para pedagang ini kebanyakan menyasar anak-anak yang ke masjid untuk sholat Isya dan tarwih.
"Banyak orang duduk kumpul-kumpul, saya kira apa, ternyata nontongi gerhana bulan," kata Daeng Dadi, yang sempat keluar dari rumahnya.
Ketika pulang ke penginapan, saya mendongakkan kepala ke langit, dan masih sempat menyaksikan bulan yang tampak kemerahan (Blood Moon).
Di Barrang Lompo, pandangan saya terasa luas ke cakrawala, tidak terhalang bangunan dan gedung-gedung. Malam itu begita indah dengan taburan bintang di langit.
Di laut, kapal-kapal berlabuh. Sementara di dermaga, beberapa warga asyik memancing cumi-cumi.
Ketika waktunya sahur, usi Luna membangunkan kami. Kembali kami ngumpul makan bersama menu seafood andalan: cumi-cumi dan ikan goreng made in Daeng Dadi.
Di Barrang Lompo, saya memaknai definisi hidup bahwa bahagia itu sederhana. (*)


