• Jelajahi

    Copyright © Tebar News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Sports

    Gaukang ri Lakkang, Cara Membangun Kesadaran Kritis Warga dengan Menulis

    Redaksi
    10/04/2026, 8:20 AM WIB Last Updated 2026-04-10T00:32:43Z

     

    Ferdhiyadi, salah satu pemateri dalam kegiatan Workshop Penulisan Gaukang ri Lakkang, Sabtu, 4 April 2026. Foto: Istimewa


    Oleh: Rusdin Tompo (Pegiat Literasi, dan Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)_


    Lakkang bukan sekadar delta atau pulau yang dikelilingi aliran Sungai Tallo dan Sungai Pampang. 


    Kelurahan dengan luas daratan sekira 1,65-3 kilometer persegi yang secara administratif masuk Kecamatan Tallo ini, tentu punya banyak cerita, kisah, dan sejarah. 


    Bahkan setiap warganya pasti memiliki ingatan dan pengalaman terkait kampungnya tersebut. 


    Sayangnya, tulisan-tulisan tentang dan seputar Lakkang, lebih sering kita baca dari kalangan peneliti, akademisi, jurnalis, atau penulis, yang kesemuanya orang dari luar, bukan warga Kampung Lakkang sendiri.


    Menegaskan Identitas


    Sejatinya, sejarah terserak di sekitar kita, ada dalam kehidupan sehari-hari. Tubuh dan diri kita pun terhubung dengan sejarah itu. 


    Namun, mengapa selalu para ahli yang kita rujuk, buku-buku asing yang kita lahap, pandangan pakar yang kita dengar?


    "Cerita orang tua, perubahan kampung dari waktu ke waktu, mata pencaharian dan kearifan lokal, bahkan peristiwa yang dialami dan dirasakan adalah sejarah itu sendiri," terang Ferdhiyadi, di hadapan peserta Gaukang ri Lakkang, Sabtu, 4 April 2026.


    Peneliti dan pengajar sejarah, yang juga merupakan pegiat literasi itu, lantas memberikan pendidikan kritis, dengan menyorot relasi kuasa dalam pengetahuan. 


    Lelaki kelahiran Soppeng, 6 September 1991, yang pernah bergabung dengan Jurnal Celebes itu, lalu menggambarkan polanya secara sederhana.


    "Peneliti datang, ajukan pertanyaan, ambil cerita, kemudian klaim temuan. Siklus ini terus berputar tanpa warga mendapat manfaat yang adil dan setara," paparnya, yang terdengar seperti menggugat.


    Dijelaskan, pengalaman, ingatan, pengetahuan, dan cerita warga lalu diolah jadi data, selanjutnya diekstrak jadi temuan. 


    Perempuan, warga biasa, seperti petani, nelayan, dan pedagang kecil, serta kelompok rentan lainnya, termasuk komunitas adat, pada gilirannya terpinggirkan.


    Pendekatan dalam melihat sejarah pun terlalu formal, katanya. Seolah "no document, no history". 


    Padahal, kata dosen UNM itu, pengetahuan hidup dan berkembang dalam masyarakat, bisa berupa percakapan, ritual, lagu, cara merawat tanah, dan lain sebagainya-- kesemuanya merupakan sumber sejarah yang valid.


    Karena itu, tegasnya, warga Lakkang perlu menulis sejarah kampungnya sendiri, sebagai ruang untuk bersuara di mana warga adalah aktornya, bukan cuma objek yang ditulis. 


    Menulis sejarah kampung sendiri merupakan wujud menjaga kekayaan budaya, memperkuat identitas, dan meneruskan pengetahuan kepada generasi mendatang.


    Melawan dengan Bahasa


    Kegiatan Gaukang ri Lakkang 2026 bertema "Dari Kampung untuk Kampung: Menulis Sejarah Delta Lakkang dari Dalam", sesungguhnya bukan soal keterampilan teknis menulis semata. 


    Sofyan Basri selaku penanggung jawab program mengungkapkan, ketika pengalaman hidup warga dan ingatan kolektif mereka terpinggirkan, maka akibatnya bisa lebih fatal. Yakni, kampung tidak hanya kehilangan narasinya, tetapi secara perlahan juga kehilangan cara untuk memahami dirinya sendiri.


    Workshop Penulisan Sejarah Kampung Lakkang ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI melalui Program Dana Indonesianya. 


    Dana Abadi Kebudayaan bertujuan mendukung pemajuan kebudayaan nasional yang berkelanjutan melalui pendanaan bagi individu, komunitas, dan lembaga budaya.


    Subarman Salim, peneliti sejarah dan pegiat budaya, menawarkan sejumlah topik sebagai bahan diskusi, yang bisa pula menjadi materi tulisan. 


    Mulai dari bahasa, makanan sebagai sumber penghidupan, sistem kekerabatan, pengetahuan kelompok atau komunitas, seni, artefak, situs, ritual dan transformasi sosial, relasi-korelasi antara manusia dan ekosistem, juga ruang geografi, historis, dan sosiologis.



    Subarman Salim, yang pernah tiga kali memperoleh hibah penulisan historiografi dari Kemendikbudristek RI, mengajak peserta agar lebih berani mengekspresikan pemikiran-pemikirannya dengan menggunakan bahasa ibu.


    Sebab, menurutnya, bahasa tidak hanya sebagai alat komunikasi. Baginya, bahasa merupakan alat identifikasi, penanda "status", "orientasi", dan "kepentingan".


    "Bahasa ibu, mencakup bahasa lisan yang pertama dikenal dan dikuasai, adalah sistem pertahanan-perlawanan, terhadap bahasa yang dominan," terangnya.


    Dikemukakan, bahasa atau sistem bahasa, termasuk struktur logika bahasa, merupakan bagian dari identitas sebuah komunitas. 


    Karena itu, dalam pandanganya, penaklukan (kolonialisme) selalu disertai dengan "penaklukan" bahasa pula.


    Lakkang Sebagai Laboratorium Sejarah


    Sebagai pemateri ketiga, saya pun mengingatkan peserta sebagai warga Lakkang untuk mengambil peran dan tanggung jawab. Salah satunya bisa melalui aktivitas menulis, untuk kegiatan edukasi, literasi, juga advokasi.


    Ini bagian dari literasi budaya dan kewargaan. Setiap orang, sebagai warga negara, berhak berpartisipasi dan bersuara melalui medium tulisan.


    Saya menekankan pentingnya observasi. Ketika menulis kampung sendiri dalam bentuk reportase ataupun esai, observasi tetap menjadi hal yang penting. 


    Saya meminta peserta menggunakan semua indra, mendengarkan cerita dan kisah-kisah (unik, ikonik, spesifik, dan monumental), juga menandai tempat-tempat yang dianggap bersejarah, atau keramat.


    "Coba ingat-ingat lagi cerita nenek, mitos, atau pappasang yang pernah disampaikan. Temui dan ajak ngobrol tokoh-tokoh kunci, antara lain pelaku sejarah, saksi mata, tokoh masyarakat, dan lain-lain. Bisa jadi, pengalaman masa kanak-kanak banyak menyimpan materi tulisan yang menarik dibagikan," kata saya.


    Di Lakkang, berdasarkan pengalaman saya memasuki kampung ini pertama kali pada bulan Maret 2011, ada banyak materi yang bisa ditulis. 


    Sungai, pohon nipah, pohon bambu, kuliner pallu unti-unti, rupabumi/toponimi sejarah penamaan Lakkang, kearifan lokal tentang bonang dan konda, bunker peninggalan tentara Jepang, dermaga, moda transportasi jolloro dan pincara, semuanya merupakan ide tulisan yang menarik.


    Peserta yang dominan merupakan Gen Z, memberi informasi bahwa ada tempat di Lakkang yang disebut Lakkang Caddi, lokasinya dekat Pampang. Lokasi ini bagai hidden gem yang menantang untuk dijelajahi, juga tentu saja untuk ditulis oleh warga sendiri.


    Perubahan-perubahan yang terjadi di pulau yang berada di belakang Kampus Unhas ini, merupakan laboratorium sejarah yang perlu diberi catatan kritis-reflektif, sekaligus tawaran solusi dari sudut pandang warga, guna memperkuat entitas dan identitas mereka sebagai orang Lakkang. (*)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini