![]() |
| Murid-murid SDN Borong memperlihatkan gambar dan catatan mereka setelah melihat Pameran Seni Rupa di Galeri De La Macca, Jumat, 2 Oktober 2026. (Foto: Istimewa) |
MAKASSAR — Sejumlah murid SD Negeri Borong, Kecamatan Manggala, Makassar, punya cara sendiri menikmati pameran seni rupa. Mereka tidak hanya berdiri mengamati lukisan, tetapi juga mencatat apa yang mereka lihat dan kemudian mencoba menggambarnya.
Pengalaman itu berlangsung saat murid kelas 3 dan 4 SD Negeri Borong mengunjungi Galeri De La Macca, Jalan Borong Raya Nomor 75A, Makassar. Mereka datang untuk melihat Pameran Tunggal Seni Rupa “Pasar, Transaksi Rupa dalam Gua Batu” karya Ishakim.
Bagi sebagian besar murid, kunjungan tersebut merupakan pengalaman pertama melihat pameran seni rupa secara langsung di sebuah galeri.
Sesaat memasuki ruang pamer, perhatian mereka tertuju pada lukisan-lukisan yang memenuhi ruang galeri. Mereka mengamati bentuk, warna, figur, dan objek yang terdapat dalam karya-karya tersebut.
Menariknya, setiap anak memiliki tafsir berbeda.
Ada yang menemukan sosok putri duyung dalam sebuah lukisan. Ada pula yang melihat aktivitas pasar, tukang parkir, payung, orang membawa ikan, pantai, hingga perahu.
Lukisan lainnya ditafsirkan sebagai gambaran orang yang sedang menari atau sekelompok orang yang sedang berbincang.
Bagi anak-anak, apa yang mereka lihat tidak harus sama dengan apa yang dimaksudkan pembuat karya. Mereka justru diberi kesempatan untuk menyampaikan kesan berdasarkan pengalaman dan imajinasi masing-masing.
Setelah mengamati dan mencatat, beberapa murid kemudian mengambil buku dan pulpen. Mereka memilih posisi yang dianggap nyaman, sebagian duduk di lantai dan lainnya menggunakan meja untuk menggambar.
Azkayra, Aulia, Adena Deva, Saqueena, Alifa, dan Aqila, murid kelas 4, memilih lukisan yang menarik perhatian mereka untuk dijadikan sumber inspirasi.
Hal serupa dilakukan Qeena dan Aurel, murid kelas 3. Mereka menggambar sesuai objek yang dipilih dan tidak terlihat ragu menuangkan hasil pengamatannya ke atas kertas.
Aktivitas menggambar di ruang pamer itu menjadi bagian menarik dari kunjungan. Anak-anak seolah menjadikan lukisan yang mereka lihat sebagai titik awal untuk menciptakan karya sendiri.
Pameran yang mereka kunjungi menghadirkan 19 karya lukis bercorak ekspresif spontan. Karya tersebut dibuat menggunakan akrilik serta pastel krayon di atas karton dengan ukuran rata-rata 40 x 30 sentimeter.
Pameran ini mengangkat Spirit Leang-Leang. Delapan karya menggunakan bubuk limbah marmer yang diambil dari kawasan Leang-Leang, Maros.
Leang-Leang merupakan bagian dari kawasan karst Maros-Pangkep yang berada dalam Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung dan Geopark Maros-Pangkep UNESCO.
Kawasan tersebut juga dikenal memiliki tinggalan seni cadas prasejarah berupa lukisan figuratif dan cap tangan manusia purba yang berusia puluhan ribu tahun.
Owner penerbit De La Macca, Goenawan Monoharto, menyambut kedatangan para murid. Ia memberi keleluasaan kepada mereka untuk melihat karya dan mengeksplorasi ruang pamer sesuai pemahaman masing-masing.
Kunjungan tersebut didampingi Elyda Alawiah, Kepala Perpustakaan Gerbang Ilmu SD Negeri Borong, dan Rusdin Tompo, penggiat Sekolah Ramah Anak.
Kepala UPT SPF SD Negeri Borong, Andi Etty Cahyani, S.Pd., M.Pd., mengatakan, kegiatan tersebut merupakan salah satu cara sekolah menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda bagi murid.
Menurutnya, ruang belajar anak tidak hanya berada di dalam kelas. Galeri seni juga dapat menjadi tempat bagi murid untuk belajar mengamati, berpikir, berimajinasi, dan menghasilkan karya.
“Kami berharap anak-anak memperoleh inspirasi, semakin percaya diri, dan terdorong menciptakan sesuatu sesuai potensi dan bakatnya,” katanya.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari inovasi Gembira SD Negeri Borong, yang merupakan akronim dari Gerakan Membaca, Bercerita, Menulis, Kriya, Kreasi.
Melalui kunjungan tersebut, murid tidak hanya diperkenalkan pada karya seni, tetapi juga diberi kesempatan untuk merasakan proses kreatif secara langsung.
Pameran Tunggal “Pasar, Transaksi Rupa dalam Gua Batu” karya Ishakim berlangsung 1–4 Oktober 2026 dan didukung Dana Indonesia Raya Kementerian Kebudayaan RI.
Ishakim merupakan perupa yang pernah menimba ilmu di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Ia juga aktif sebagai aktor teater dan film, terlibat dalam berbagai forum seni budaya, serta menulis puisi dan cerpen.
Dari ruang Galeri De La Macca, anak-anak SD Negeri Borong membawa pulang pengalaman sederhana namun penting: bahwa melihat seni bukan hanya tentang mengetahui apa yang dilukis, tetapi juga tentang berani melihat, menafsirkan, dan menciptakan sesuatu dengan cara sendiri.**


