• Jelajahi

    Copyright © Tebar News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Sports

    Buku Biografi Sejarah Ajoeba Wartabone sebagai Moment of Truth

    Redaksi
    23/03/2026, 1:47 PM WIB Last Updated 2026-03-23T05:47:47Z

     

    Penulis, dengan buku biografi Ajoeba Wartabone, di depan rumahnya usai sholat Idulfitri 1447 H, Sabtu, 21 Maret 2026. (Ist)


    Oleh: Rusdin Tompo (Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)


    Sejak buku Ajoeba Wartabone (1894-1957): Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja, saya terima pada Kamis, 12 Februari 2026, interaksi saya bukan hanya dengan buku itu, tetapi juga dengan sejumlah orang, institusi, pemikiran, nilai-nilai, sejarah, budaya, dan narasi besar bangsa Indonesia. 


    Buku biografi gagasan dan kepemimpinan dari Gorontalo untuk Indonesia ini, ditulis oleh Basri Amin, Ph.D, peneliti utama pada Pusat Studi Dokumentasi (PSD) H.B. Jassin, Ketua Bidang Kajian Budaya dan SDM di Dewan Riset Daerah (DRD) Provinsi Gorontalo, dan pengajar di Universitas Negeri Gorontalo (UNG).


    Buku terbitan Diomedia, Agustus 2025, ini begitu istimewa, karena diberi kata pengantar oleh Prof Dr Meutia Hatta Swasono, selaku Ketua Umum Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI), 2024-2029, dan di bagian back cover-nya ada testimoni M Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI, periode 2004-2009 & 2014-2019. 


    Lebih istimewa lagi karena buku setebal lvi+435 halaman tersebut diberikan oleh Ir HM Pulu Niode, salah seorang cucu Ajoeba Wartabone, melalui stafnya Yunita. 


    Mata Rantai Sejarah


    Bila dijabarkan, dari garis nasab, Ajoeba, yang lahir pada 11 Juni 1894, berada dalam bingkai keluarga besar Wartabone-Kaluku. 


    Wartabone menempati ruang kepemimpinan yang sangat khusus dalam konteks sejarah Gorontalo. 


    Geneologi Wartabone, bila dilacak hingga akhir abad ke-18, punya pengaruh kepemimpinan politik dan jejaring kekerabatan di Sulawesi dan Maluku Utara. Kakek Ajoeba, Nuku Wartabone, merupakan keturunan Sultan Nuku dari Tidore, Maluku Utara. 


    Jejak Wartabone, secara akademis telah disingkap oleh Hadrawi, Sadi, dan Syamsuri dalam buku Raja Wartabone: Sang Santri Bontoala yang Bermoyang Suwawa Bugis (2024). 


    Dalam buku itu disimpulkan bahwa Wartabone atau La Bunnue sebagai Raja Suwawa (1830-1849 & 1875-1885) merupakan seorang bangsawan dan aristokrat sufi. 


    Ada tiga tokoh kunci dari Suwawa yang tidak terpisahkan dengan Ajoeba, yakni Raja Wartabone, Nuku Wartabone, dan Zakaria Wartabone. 


    Zakaria Wartabone, tidak lain adalah ayah dari Ajoeba, sedangkan ibunya bernama Tolangohula Kaluku.


    Ajoeba Wartabone adalah kakak kandung Nani Wartabone, pejuang dan Pahlawan Nasional asal Gorontalo. Garis silsilah keluarga Ajoeba Wartabone terhubung ke Taki Niode, Wali Kota Gorontalo, 1963-1971.


    Sebagai politisi pejuang, mata rantai sejarah Ajoeba Wartabone terkoneksi dengan Negara Indonesia Timur (NIT). 


    Dan ketika menjadi bagian dari Goodwill Missie parlemen NIT, di tahun 1948, Ajoeba Wartabone bertemu dengan Bung Karno, Bung Hatta, dan sejumlah tokoh nasionalis dan pergerakan lainnya, di Yogyakarta, yang kala itu, merupakan ibu kota Republik Indonesia. 


    Pada periode itulah, pekik "Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja" ia nyatakan dengan lantang sebagai tekadnya mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


    Ajoeba Wartabone adalah tokoh sekaligus aktor sejarah. Namanya tercatat sebagai intelektual awal Gorontalo. 


    Ia penulis, juga jurnalis, yang gagasan, pemikiran, dan visinya tentang nasionalisme selalu menjadi tema utama. 


    Ajoeba Wartabone adalah sejarah itu sendiri, yang meletakkan fondasi dan memberi penguatan kelembagaan dalam pemerintahan sebagai Kepala Daerah Sulawesi Utara, 1949-1950, Kepala Pemerintahan Umum Gubernur Militer di Manado, 1950-1951, dan Anggota Dewan Pemerintahan Daerah (DPD) Partai Persatuan Indonesia Raya (PIR), 1953-1956.


    Bukan Sekadar Bacaan


    Saya membaca buku biografi Ajoeba Wartabone (1894-1957): Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja, dalam tempo kurang dari 10 hari. 


    Buku ini lebih dari sekadar bacaan karena kaya informasi dan sejarah. Ia tak hanya arsip dan dokumen tetapi medium. 


    Sebagai pembaca, saya seolah dibawa melewati berbagai ruang dan lorong waktu, dengan Ajoeba Wartabone sebagai figur sentralnya. 


    Ada banyak konteks sejarah yang dihadirkan, yang terverifikasi dan tervalidasi ke sumber-sumber resmi, mulai dari Arsip Nasional RI hingga Nationaal Archief, Den Haag, Belanda.


    Lewat buku biografi sejarah Ajoeba Wartabone, kita dapat menganalisis karakter, pandangan, dan pengaruhnya bagi Gorontalo, Sulawesi, Indonesia Timur, dan Republik Indonesia yang dicintainya. 


    Buku ini berfungsi sebagai moment of truth, yang mengungkap peran kesejarahan Ajoeba Wartabone, walaupun terkesan agak terlupakan. 


    Padahal ia merupakan tokoh nasional, pelaku sejarah, dengan warisan semangat nilai-nilai kebangsaan dan keindonesiaan yang kuat.


    Bagi saya, membaca lembar demi lembar buku ini, selalu ada saja informasi yang menarik dan inspirasi yang memantik.


    Muncul gairah untuk menelusuri, dan menuliskan kembali kisah-kisah Ajoeba Wartabone, sebagai bentuk edukasi dan literasi.


    Karena itu, saya melipat sudut halaman (dog-ear) sebagai batas bacaan atau penanda hal-hal yang perlu saya kutip. 


    Saya melakukan marginalia, yaitu membuat coretan, memberi garis bawah pada kalimat, dan bikin catatan di pinggir halaman sebagai cara saya berdialog dengan buku ini. 


    Saya membuat banyak anotasi buku guna memudahkan penandaan dan membantu saya ketika menuliskan kembali sosok Ajoeba Wartabone dalam versi artikel yang lebih ringkas dan sederhana. (*)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini