• Jelajahi

    Copyright © Tebar News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Sports

    Perupa Anzul Telah Pergi, Bila Garam Tak Asin Lagi

    Redaksi
    25/03/2026, 11:20 AM WIB Last Updated 2026-03-25T03:20:23Z

     

    Perupa Nazul. (Foto: istimewa/handover)


    Oleh: Goenawan Monoharto


    Dua hari sebelum Lebaran, ternyata pertemuan akhir dari sahabat Anzul (Syamsul Bachri). 


    Siang itu, ia memakai jaket, dengan suara seperti sulit dikeluarkan. Ia lebih sedikit berbicara dibanding biasanya.


    Anzul hanya bercerita tentang seminggu buka puasa dengan kawan-kawan perupa lainnya di Jl. Bau Mangga.


    Saat itu saya meminta dibuatkan cover buku Rekam Jejak KAMAR PERTEMUAN SENIMAN, 19 Djuni 1969 di Benteng Udjung Pandang, Makassar, dengan gaya Kampung Garam. 


    Saya heran, biasanya ia menyambut dengan antusias dan bersemangat, namun kali ini, ia tidak mengiakan, hanya saya saja yang mendesak. 


    Hampir sejam saya mengobrol, kendati lebih banyak saya yang berbicara.


    Kemudian datang kawan Rusdin Tompo, maka kami bertiga bercakap. Anzul pasif berbicara, bahwa ia sementara periksa penyakitnya di Puskesmas, namun belum keluar hasil pemeriksaannya.


    Hari Minggu, pukul 15.00 lebih, saya sontak kaget ketika mendapat kabar dari Dewi Ritayana dengan sesunggukan bahwa Anzul meninggal dunia. 


    Betapa “garana” nyawa ini pergi, bila sudah tiba waktunya.


    Mengenang beliau ketika saya menulis di majalah MACCA edisi November 2021 berkaitan dengan karya instalasi MENGENANG LEANG-LEANG  di Benteng Fort Rotterdam, 12 s/d 19 November 2021.


    Anzul dikenal sebagai perupa Kampung Garam. kembali  menggelar karya instalasi. 


    Kali ini ia akan membangun seni instalasi yang spektakuler dan fantastik. Judulnya Home #5 merupakan rangkaian dari beberapa karya sebelumnya terinspirasi dengan Leang-Leang.


     “Leang-leang titik nol senirupa dunia,” kata Anzul.


    Spirit Leang-leang, Melampaui Rupa, Memaknai Nilai Sejarah merupakan tema besar dari pameran seni instalasi yang diselenggarakan komunitas perupa Makassar Art Initiative Movement (MAIM).


    Balik pada karya seni instalasi Anzul, tercerah konsep untuk karyanya itu, sebagaimana dikatakannya, bermula dijatuhi sebuah sarang yang unik bentuknya, setelah diamati, ia juga tak tahu burung jenis apa yang empunya sarang. 


    Bermula dari situlah konsep dan gagasannya lahir untuk karyanya dipadukan Leang-Leang yang ada dalam mimpinya.


    Kemudian ia mengamati dan mulai memproses dan menggambar sarang tersebut dengan ukuran yang cukup besar. 


    Mulailah ia mengerjakan karyanya dengan memakai material bambu dan dianyam seperti sarang. Ia mengerjakan karyanya di Benteng Somba Opu sebagai tempat ia berkarya tahun-tahun lampau.


    Jika ditarik tali penghubung maka Anzul dalam berkarya berada di lingkaran Segi Tiga Emas. Ia terinspirasi dengan Spirit Leang-Leang yang merupakan titik nol seni rupa dunia dan memproses karyanya di Benteng Somba Opu yang merupakan Benteng Pertahanan Kerajaan Gowa dan memamerkan di Benteng Fort Rotterdam.


    Semua tempat disimpul adalah jejak sejarah Makassar.


    Mengamati karya seni Instalasi yang diberi judul Home #5, maka lengkaplah bahwa yang akan ditampilkan adalah tiga rumah di bumi ini, yakni, sarang sebagai rumah para burung, rumah manusia dan rumah ikan (karamba/ rompong/ bubu).


    Tak sah bila Seniman/Perupa Anzul digelar sebagai pelukis Kampung Garam bila karyanya tidak terdapat garam di dalamnya. 


    Dalam karya seni instalasinya, ia akan menumpuk, mengurai dan menata di bawah sarang sekitar seratusan kilo, biji-biji garam yang diambil dari Jeneponto dan Pangkep.


    Bila hujan turun. “Tak apa, memang takdirnya kembali ke air,“ katanya, bahwa butir-butir kristal garam tersebut akan memberi efek kilau ketika terkena sinar matahari.


    Ahmad Anzul seorang pria berdarah Bone, kelahiran Makassar, 11 September 1967, ini pernah menjadi anggota Departemen Seni Rupa Dewan Kesenian Makassar. 


    Setelah non aktif di Dewan Kesenian Makassar, Anzul bergabung di Yayasan Findart Space di daerah Antang, Makassar, yang kerap melaksanakan workshop bagi anak sekolah, membuat seni kriya dan lainnya. 


    Sejak 2018 Choy aktif di Makassar Art Inititive Movement (MAIM).


    Di masa kanak-kanak, ia memang suka menggambar. Meski pada awalnya, sebagai anak pesisir ia hanya menggambar di pasir. 


    Dari tepi pantai, ia mulai mengenal laut, kapal, ikan, udang, kepiting, bakau yang semuanya mengendap ke alam bawah sadarnya. 


    Saat SMA, Anzul mulai ikut membuat dekor dan janur pengantin.


    Muasal awal riwayat penemuan ide ‘Kampung Garam’. Konsep karya yang selanjutnya konsisten dieksplorasinya.


     “Saya hanya mengambil dari peristiwa yang saya alami sendiri, ada di sekitar saya, apa yang saya rasakan dan paling mudah saya wujudkan jadi karya.” Lanjut Anzul bercerita.


     Pengalamannya bermula ketika sang istri yang ia nikahi pada hari Bahari Nasional, saban kali menyajikan menu telur dadar maka Anzul selalu kebagian potongan telur di mana garamnya berkumpul. Itu yang membuat wacana garam melekat dalam benak ayah dua putri ini.


    Lalu tentang pilihan konsep “Kampung Garam” itu kian mantap dan menguat sepulang dari Baloyya, Selayar. Saat itu Anzul baru saja turut membantu mengerjakan artistik karya Tugas Akhir S2 Penciptaan sahabatnya Hamrin Samad. 


    Pada sekira pukul 2 siang, terik, rombongan mobil yang ditumpangi tiba-tiba berhenti di Jeneponto tepat di daerah yang terkenal sebagai sentra produksi garam rakyat.


     Saat turun dari mobil, Anzul menghirup aroma ladang garam yang merasuki tubuhnya. Lalu merenungkan tentang garam dan manfaatnya.


    Anzul pun merasakan persinggahan di ladang garam Jeneponto itu tidaklah hanya menuai panas, gersang, dan gerah. Ia justru menuai rasa dan hal sebaliknya, seperti ada kupu-kupu yang membawa es batu yang membuat rasa sejuk. Itulah tumpuan dasar ide konsepnya.


    "Saya mesti membuat karya yang menyejukkan hati orang lain” Kilahnya.


     Jadilah Anzul juragan “Kampung Garam.”


    Sebagai perupa autodidak ia serius berupaya mematangkan konsep kerjanya dengan intens berdiskusi bersama sahabatnya Ahmad Fauzi, Budi Haryawan, seniornya Amrulah Syam, Ishakim, Asdar Muis RMS dan sejumlah aktivis perupa, pegiat seni pertunjukan Makassar lainnya. 


    Anzul berkarya serius. Karya-karya yang lain banyak menjadi cover buku terbitan De La Macca dan Garis Khatulistiwa termasuk Majalah Macca edisi Novermber 2021.


    Anzul juga bercerita bahwa hingga kini ia telah menyelesaikan sejumlah karya. Di antaranya ada tentang karya instalasi ikan asin kering yang dipajang pada karyanya karena itulah panganan pertama yang diasup anaknya ketika berumur 5 bulan. 


    Berpameran pada “Makassar Art Forum 99”; Menampilkan karya di Stasiun 9 – Festival Kampung Mangasa diinisiasi perupa Rimba Kasumba; Menyajikan seni pertunjukan “Kampung Garam” di halaman depan rumah Asdar Muis di Sudiang; Melalang ke Bali atas undangan seniman tari Prapto Surtodarmo untuk pertunjukan ritual “ Segenggam Tanah” (Trilogi: Tanah) ia membawa tanah, menanam pohon rambutan dan kelapa pada Collaboration Asia-Eropa in Art and Environment di Tejakula, Singaraja 2000; Pameran seni rupa “Kalimantan Art Exibition II”, di Hotel Dusit, Balikpapan, 2005;  Bersama Amrullah Syam mengerjakan patung tiga tokoh dunia, Nelson Mandela, Syech Yusuf Almakassary, Mahatma Gandhi di Anjungan Pantai Losari tahun 2016; Tampil dalam Makassar Biennale 2017 dan 2019. 


    Anzul pernah pula pameran 999 karya lukis di Gallery de La Macca.


    Pada pameran tanggal 5 Juli hingga 5 September 2021, event yang diprakarsai L Project  dalam Indonesia Art Expo 2021, Anzul memamerkan karya lukis abstrak yang berjudul “Energi Balance # 2”, “Tiga Batu”, “Bayang, Garis dan Saya” “Spirit Carries On #2, “Hope”Raja. Semua karya tahun 2021. 


    Mengingat pameran dilaksanakan masih pada masa pandemi  Covid-19 hingga memaksa seniman dan pengelola galeri mengadaptasi perubahan yang terjadi, memanfaat teknologi internet agar memungkinkan  pembukaan pameran dapat disaksikan via daring. 


    Harapannya dengan on line maka peristiwa ini dapat disaksikan oleh apresian yang sangat luas, tak terbatas, lintas lokal, nasional hingga Internasional dalam rentang jaringan dunia maya.


    Telah kuketuk pintu itu

    Aku Takut

    Tak punya kunci 

    (Antologi puisi rupa: Tanam Jarum Lautan Hati 

    Jutaan Garis Menjahit Kisah)


    Satu pertanyaan, kala itu, bagaimana bila garam tak asin lagi? 


    Selamat jalan sahabat.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini