• Jelajahi

    Copyright © Tebar News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Sports

    Permata Karya" Kembong Daeng

    Redaksi Tebarnews
    05/01/2026, 1:18 PM WIB Last Updated 2026-01-05T05:18:53Z

     

    Prof Kembong Daeng (ketiga dari kiri) saat diskusi bukunya di Pannyaleori Institut, Sabtu, 3 Januari 2026. (Ist)


    Oleh: Rusdin Tompo 

    (Penulis, Editor, dan Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)


    Nama Kembong Daeng pertama kali saya ketahui dari buku “Pappilajarang Basa Mangkasarak” untuk SD Kelas I-VI (Sipakaingak). Buku itu saya baca di perpustakaan SD Negeri Borong, Kota Makassar, tahun 2018, ketika mulai mengembangkan program minat bakat, sebagai bagian dari upaya mewujudkan Sekolah Ramah Anak (SRA). 


    Saat berlangsung Pameran Buku di halaman Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Sulawesi Selatan, di Talasapang, Jalan Sultan Alauddin No. 7, Makassar, saya diajak ke salah satu stan yang memajang buku-buku Beliau oleh seorang teman, ketika berada di lokasi kegiatan.


    Setelah itu, saya diberi nomor kontak Kembong Daeng. Sejak saat itu, kami mulai berkomunikasi.


    Beberapa hari kemudian, saya mengajak Beliau untuk membincangkan bukunya, “Perempuan Makassar”, dalam acara Sastra Sabtu Sore. Gayung bersambut, tawaran saya diterima. 


    Sesuai rencana, Sastra Sabtu Sore digelar pada 5 September 2020, dalam rangka menyambut Hari Aksara Internasional, 8 September. Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama DPK Provinsi Sulawesi Selatan, Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Sulawesi Selatan (LAPAKKSS), dan Komunitas Puisi (KoPi) Makassar. 


    Dr. Mayong Maman, M.Pd., Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS), Universitas Negeri Makassar (UNM) dan Yudhistira Sukatanya, sastrawan dan sutradara teater, sebagai pembahas bukunya, sedangkan saya sebagai moderator. 


    Dalam interaksi yang belum begitu lama, saya melihat kecintaan, keikhlasan, dan kesungguhan Beliau dalam berkarya, terutama terkait bahasa dan sastra Makassar. Interaksi awal ini berlangsung ketika Beliau masih Doktor, belum dikukuhkan sebagai Profesor.


    Saya sering menjadikan Beliau sebagai role model bahwa seorang Profesor pun mau tampil membaca puisi (berbahasa Makassar), tanpa memilih tempat. Sungguh terlihat sikap tawaduknya, sikap yang tak berjarak dengan siapa saja. 


    Komunikasi kami terus berlanjut, sampai ketika Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA Provinsi Sulawesi Selatan dibentuk, tanggal 1 Juni 2022, dan saya diberi amanah oleh Pengurus Pusat SATUPENA sebagai Ketua (tapi saya lebih memilih menggunakan istilah Koordinator). 


    Saya pun menghubungi Beliau, meminta kesediaannya menjadi salah seorang Dewan Penasihat bersama Prof. Ahmad M. Sewang, Prof. Aminuddin Salle, Prof. Itji Diana Daud, dan Prof. Sukardi Weda.


    Jika ditarik dalam konteks keagamaan, cerita di balik perkenalan dan pertemuan saya dengan Prof. Dr. Kembong Daeng, M.Hum., bukan semata kebetulan. Hal ini merupakan jalan takdir, garis iradat dari Sang Maha Pengasih, hingga saya dipercaya menjadi editor buku Autobiografinya: Permata Karya, yang diterbitkan Pakalawaki, 2024.


    Rhonda Byrne dalam The Secret (2006), menyebut peristiwa yang kami jalani dan alami ini sebagai hukum tarik-menarik. Menurut Rhonda, pikiran kita merupakan magnet yang bisa menarik apa pun: peristiwa, kejadian, dan pengalaman. 


    Saya bisa bertemu dan dipertemukan dengan Prof. Dr. Kembong Daeng, M.Hum., karena belakangan saya fokus menggeluti dunia literasi. Kami sama-sama penulis, meski dengan genre dan isu-isu yang tak selalu sama. 


    Irisan pertemuan kami adalah karena Beliau pengkaji, penulis, dan aktivis yang tak henti menyuarakan pentingnya pemertahanan dan pemajuan bahasa dan sastra daerah, khususnya Makassar. Sementara saya belakangan banyak diajak terlibat dalam penyusunan regulasi (Peraturan Daerah/Perda) yang berkaitan dengan aksara, bahasa, dan sastra, atau kesenian dan kebudayaan Sulawesi Selatan, pada umumnya. 


    Salah satu di antaranya, sebagai legal drafter Ranperda Provinsi Sulawesi Selatan tentang Literasi Aksara Lontaraq, Bahasa, dan Sastra Daerah. Ranperda yang merupakan rekomendasi Festival Aksara Lontaraq pertama, 2020 ini, kemudian disahkan sebagai Perda definitif pada tahun 2023.


    Pada tingkat Sekolah Dasar (SD), saya juga mengembangkan beberapa program inovasi sekolah yang berkaitan dengan pelestarian budaya Sulawesi Selatan. Misalnya, program inovasi PUSAKA di SD Inpres Cilallang, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar. PUSAKA merupakan akronim dari pelestarian budaya, bahasa, keaksaraan dan sastra daerah.


    Kembali pada sosok Prof. Kembong Daeng, saya melihat Beliau mirip sastrawan Norwegia, Jon Olav Fosse, kelahiran 29 September 1959. Penerima Nobel Sastra 2023 itu, gigih menulis dalam bahasa minoritas Norwegia, Nynorsk. 


    Nynorsk atau Norwegia Baru, merupakan salah satu dari dua bentuk tulisan bahasa Norwegia yang ada saat ini. Bahasa ini hanya digunakan oleh 10 persen penduduk di negara Skandinavia itu. Ada yang menilai, penggunaan bahasa ini merupakan isyarat politik yang diam-diam. 


    Anders Olsson, Ketua Komite Nobel Sastra, menggambarkan Fosse sebagai orang yang memadukan “keberakaran dalam sifat dan bahasa latar belakang Norwegia”. 


    Prof. Kembong Daeng pun begitu. Beliau menarik akar kulturalnya ke ranah akademik, memprosesnya, lalu dituangkan dalam wadah-wadah karya buku ajar agar anak-anak zaman kekinian tidak kehilangan tradisi leluhurnya yang adiluhung. Hal ini merupakan upaya pewarisan--semacam wasiat bagi kita--agar dilaksanakan penuh kesungguhan.


    Tanpa kasak-kusuk dan tanpa berteriak, Prof. Kembong Daeng, melahirkan karya demi karya. Buku pertamanya Kana Alusukna Mangkasaraka malah terbit tanpa ISBN. Namun dari situ pintu-pintu royalty terbuka. Dari sisi bisnis perbukuan, ada segmen dan ceruk pasar yang belum terisi. Meski bukan itu sejatinya tujuan Beliau.


    Kembong Daeng terus mencipta karya sastra, menulis buku ajar, maupun buku-buku referensi untuk siswa, mahasiswa, hingga untuk kalangan masyarakat umum.


    Buku-bukunya antara lain, Kosakata Tiga Bahasa (2013), Sintaksis Bahasa Makassar (2015), Kelong-Kelonna Tau Mangkasaraka (2018), dan Puisi Perempuan Makassar (2018), Pappilajarang Basa Mangkasarak jenjang SD hingga SMA, jilid I-XII (2000), Gaya Bahasa dan Penerapannya dalam Bahasa Makassar (2000), Kelong Pannyaleori 33 jilid (2021), Pakrimpungan Sanjak Mangkasarak (2022), Apresiasi Puisi Makassar (2022), dan Puisi Sumur Tak Mengering (2022).


    Idealismenya terus terlecut untuk menulis dan melahirkan karya, sebagai upaya nyata menyelamatkan aksara Lontaraq. Sebab, tidak banyak bangsa-bangsa di dunia yang memiliki aksaranya sendiri. Diperkirakan, hanya ada sekira 25 aksara di dunia, yang sebagian juga terancam punah, karena pengguna dan penggunaannya kian sedikit. Padahal, penemuan aksara merupakan tanda kemajuan suatu peradaban. 


    Di Indonesia, meskipun keragaman bahasa daerah mencapai 718 bahasa lokal, tetapi yang punya aksaranya sendiri hanya beberapa. Aksara-aksara yang tersebar di Nusantara, antara lain, aksara Bali, aksara Jawa, aksara Sunda, aksara Karo, dan aksara yang kita miliki di Sulawesi Selatan, yakni Lontaraq. 


    Karena itu, perlu upaya bersama yang--dalam istilah Prof. Nurhayati Rahman, Guru Besar Universitas Hasanuddin-- disebut dengan gotong royong kebudayaan untuk menyelamatkan aksara kebanggaan kita tersebut.


    Dalam buku Autobiografi Permata Karya kita dapat membaca kisah tokoh pelestari aksara Lontaraq tersebut yang tak melulu hanya berupa cerita hidupnya sendiri. Melainkan juga berisi banyak pesan dan muatan moral yang bersumber dari budaya dan kearifan suku Makassar, seperti dari syair-syair Kelong.


    Ada banyak pesan leluhur dalam bahasa Makassar yang penting diaktulisasikan kembali kepada anak-anak, generasi Z, dan generasi Alpha, yang sudah banyak terpapar budaya global ini. 


    Memang harus ada upaya serius dan sungguh-sungguh ke arah itu, dalam bentuk kebijakan, dan terutama pembelajaran muatan lokal, sebagaimana sudah dipersiapkan buku referensinya oleh Prof. Dr. Kembong Daeng, M.Hum.


    Saya menikmati proses penyuntingan buku ini, lantaran ada upaya penulis menampilkan sesuatu yang berbeda, yakni dengan memasukkan puisi ke dalam kisah dan pengalaman yang ditulisnya--semacam picture in picture di layar televisi.


    Bukunya bergaya storytelling dengan sistematika yang disusun secara akrostik mengikuti namanya: Kembong Daeng. Metafora digunakan secara tepat, peribahasa lama juga dikutip untuk memperkuat narasinya.


    Penulis juga memasukkan pandangan dari orang-orang yang mengenalnya, sehingga kita sebagai pembaca akan mendapatkan impresi dari orang pertama, para saksi mata. Orang-orang yang mengenal dekat Beliau, sejak masih sekolah, mahasiswa, hingga ia menjadi Guru Besar di UNM itu memberi testimoni layaknya actuality voice dalam jurnalisme radio.


    Prof. Dr. Kembong Daeng,M.Hum. membuktikan bahwa hanya diri kita yang mampu mengubah nasib kita. Dari nothing menjadi something, dari seseorang yang tidak dianggap menjadi orang yang diapresiasi karena prestasi. 


    Pendidikan oleh Kembong Daeng dijadikan sebagai jalan untuk menapaki tangga-tangga keberhasilan, sekaligus pengabdian. Semua itu tak membuatnya jemawa. Ia tetap rendah hati, bersahaja, dan selalu melafazkan rasa syukur kepada Allah Swt. 


    Beliau tak henti-henti mengucapkan terima kasih kepada setiap orang yang berjasa padanya. Sungguh suatu teladan yang patut dicontoh.


    Terima kasih Prof. sudah mempercayakan buku ta untuk saya utak-atik. Sebuah kehormatan bagi saya, jadi editor buku Autobiografi Permata Karya ini. (*)



    *) Dikembangkan dari Pengantar Editor pada buku Autobiografi Permata Karya, penulis Kembong Daeng, penerbit Pakalawaki, 2024.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini