• Jelajahi

    Copyright © Tebar News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Sports

    Toko Buku di Makassar dan Keragaman Bacaan di Masanya

    Redaksi
    23/06/2026, 2:56 PM WIB Last Updated 2026-06-23T06:56:01Z

     

    Penulis berfoto dengan buku baru yang dibeli saat bazar buku terbesar di Makassar, April 2026. (Foto: Dokpri)


    Oleh: Rusdin Tompo 

    (Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)


    Pergi ke toko buku, bukan cuma untuk mencari dan membeli buku. Namun jadi semacam pengalaman perjalanan dan ingatan tentang betapa gairahnya kita mencari bacaan-bacaan yang tak melulu berkaitan dengan disiplin ilmu kita di bangku kuliah.


    Era 1980an-1990an


    Saya yang baru menetap di Makassar tahun 1987, merasakan betapa kota ini punya banyak pilihan toko buku untuk didatangi, dibanding ketika saya masih berada di Ambon--mungkin hanya 3 toko buku (Toko Buku Nobel, Toko Buku Gunung Nona, dan Toko Buku Pelikan).


    Walau untuk mengunjungi satu toko buku, butuh effort dan energi lantaran harus naik turun pete-pete atau nyambung angkot dari satu trayek ke trayek berikutnya. Toh dilakukan dengan ringan langkah dan hati riang. 


    Padahal, kalau sudah tiba di toko buku yang akan dituju, belum tentu buku yang dicari tersedia. Ini terutama bila mencari buku-buku referensi yang direkomendasikan mata kuliah tertentu.


    Artinya, ya harus ke toko buku lain, dan terpaksa naik angkot lagi. Masa itu, pencarian masih dilakukan manual. Perlu datang langsung ke toko bukunya. Kecuali bila ada info dari teman yang sudah lebih dahulu ke sana, itu akan memudahkan dan sangat membantu.


    Paling tidak, begitulah pengalaman saya. Belum ada model penjualan secara online, atau kita bisa bertanya melalui telepon. Sistem penjualannya masih pakai direct selling: datang, lihat, bayar ditempat.


    Era itu, ada beberapa toko buku yang sering saya datangi, yakni Toko Buku Arena Ilmu, yang bersebelahan dengan Toko Buku Siswa, di Jalan RW Mongisidi, juga Toko Buku Bina Ilmu dan Toko Buku Dunia Ilmu di Jalan Bulukunyi. 


    Dari keempat toko buku yang boleh dikata masih berada di satu kawasan itu, Toko Buku Arena Ilmu yang paling sering saya sambangi. Saya masih ingat wajah pasangan suami istri pemilik toko buku itu, yang selalu menyambut setiap pengunjung dengan senyum ramah.


    Sebelum masuk mencari-cari buku, biasanya saya singgah di sisi kiri bagian depan, bertanya tentang buku baru atau buku yang lagi best seller. Di rak samping dan belakang pemiliknya berdiri, memang jadi etalase buku-buku yang dari judul-judulnya cukup memikat mata. 


    Harga buku di toko ini mudah diketahui, karena ditulis dengan pensil pada pinggir halaman pertama. Belum menggunakan label harga atau pemindai elektronik, semacam scan QR code. Kalaupun ada diskon, nanti dikasir baru diberitahukan.


    Buku-buku yang saya beli di sini, antara lain "Kapitalisme Semu Asia Tenggara" yang membahas praktik perkoncoan penguasa-pengusaha dan militer. Buku dengan judul asli "The Rise of Ersatz Capitalism in South-East Asia" ini ditulis oleh Yoshihara Kunio, terbit tahun 1988.


    Buku-buku lain, yang saya beli dan nanti jadi koleksi pribadi, antara lain buku-buku karya Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), Jalaluddin Rakhmat (Kang Jalal), Kuntowijoyo, Umar Kayam, Nurcholish Madjid (Cak Nur), serta catatan harian Soe Hok Gie, dan Ahmad Wahib. Nama-nama ini, bukunya cukup laris di masanya.


    Masih ada toko buku lain, era 80an akhir hingga 90an, yang pernah saya datangi. Ada Toko Buku Pedoman Ilmu (Jalan Arief Rate), samping kantor redaksi koran Pedoman Rakyat, Toko Buku Hidayat (Jalan Gunung Lompobattang), milik keluarga Prof Achmad Ali, dosen kami di Fakultas Hukum Unhas, Toko Buku Palopo Ilmu (Jalan Pongtiku), Toko Buku Aswan (Jalan Gunung Merapi), dan Toko Buku Makassar Agung (Jalan Cenderawasih).


    Masih ada lagi tempat penjualan buku, yang aslinya bukan toko buku. Namanya Duta Suara di Jalan Abd Wahab Tarru, tembus ke kawasan bisnis Somba Opu. Dari namanya, toko ini merupakan tempat penjualan kaset, yang sangat lengkap di zamannya. Bukan cuma kaset, segala pernak-pernak dan aksesoris musisi, penyanyi, dan supergrup mancanegara tersedia.


    Salah satu buku yang saya beli di sini adalah buku Pemberontakan Kahar Muzakkar: Dari Tradisi ke DI/TII karya Barbara Sillars Harvey (Pustaka Utama Grafiti, 1989). Buku ini termasuk koleksi awal saya tentang sejarah Sulawesi Selatan, yang cukup membantu saya belajar memahami dinamika pergolakan politik dan militer di daerah ini.


    Era 1950an


    Beberapa warsa sebelumnya, tepatnya di tahun 1950an, sudah terdapat sejumlah toko buku di Makassar, bahkan ketika kota ini masih mencakup hanya 4 distrik (kecamatan). Keempat distrik dimaksud, yakni Makassar, Mariso, Wajo, dan Ujung Tanah. 


    Total jumlah penduduk Makassar, kala itu, sebanyak 302.336 jiwa, tidak termasuk anggota Angkatan Perang dan Polisi. Namun, jumlah penduduk tersebut sudah masuk di dalamnya warga Tionghoa (44.797), Arab (1.304), Belanda (1.157), dan warga dari bangsa asing lainnya (104) jiwa. Penduduk yang asli bangsa Indonesia (WNI), merupakan warga dominan, jumlahnya mencapai 254.974 jiwa.


    Daftar toko buku di Makassar, kala itu, bisa dilihat dalam buku Pedoman Kota Makassar, yang diterbitkan oleh Usaha Penerbit Tri Bakti, pada masa Walikota Makassar, Ahmad Dara Sjahruddin. 


    Buku terbitan 5 Agustus 1954, yang memuat alamat-alamat jawatan, instansi, organisasi, dan perusahaan-perusahaan, sudah direncanakan sejak tahun 1951 oleh Djawatan Penerangan Kota. 


    Buku Pedoman Kota atau Makasser Gids--dalam bahasa Belanda, artinya panduan atau petunjuk--ini diakui terbit pada saat yang tepat. Karena baru saja dilakukan perubahan besar-besaran terhadap nama-nama jalan di Makassar, kala itu, yang juga termuat dalam buku tersebut.


    Adapun toko-toko buku di masa itu, yang kini hanya tinggal sejarah, yakni Toko Buku Drukkery Makassar (Djl. Karebosi 15), Toko Buku Assegaf (Djl. Diponegoro), Toko Buku Fauziah (Djl. Nusantara 93), Toko Buku Lectura (Djl. S. Pareman 1), Toko Buku Penjuluh (Djl. Mongisidi 50A), Toko Buku Rakjat (Djl. Lompobattang), Toko Buku Nirmala (Djl. Mongisidi), Toko Buku Nirwana (Djl. Sawerigading), Toko Buku Lokon Latimodjong (Djl. Chairil Anwar 21), A.B.C Book Store (Djl. Lompobattang), Toko Buku Taufiq (Djl. Kadjaolaliddo, Kiosk Taman Gembira), dan Toko Buku T.K.S. (Djl. Karebosi, Kiosk Gembira). 


    Selain toko buku, terdapat pula beberapa perpustakaan, seperti Pustaka Kita di Jalan Ali Malaka, Pustaka Lembaga di Jalan Gunung Merapi, dan Pustaka Sulawesi di Jalan Gunung Latimojong.


    Dalam buku Pedoman Kota Makassar itu, terdapat pula iklan terkait toko buku, percetakan, dan toko ATK (alat tulis kantor). Promosi serupa ini sudah pasti punya kaitan dengan aktivitas tulis-menulis, bukan hanya urusan administrasi kantor semata. 


    Ada iklan Fa. "Berdjuang Trading Company", yang merupakan toko buku dan alat tulis, import/export interinsulair di 18 Kajaolaliddo. Ada percetakan Fa. Kemah di Jalan Kemah (S. Pareman) No. 1A, yang di dalam promonya menyebut Toko Buku Remadja di Jalan Pattunuang No. 129, Toko Buku Lectura di Jalan Kemah (S. Pareman) No. 1A, dan Toko Buku Lokon Latimodjong, di Jalan Chairil Anwar No. 21. 


    Iklan lain, yakni Toko Buku "Fauziah", yang menyediakan rupa-rupa buku dan alat tulis-menulis, beralamat di Jalan Kemakmuran 273 Makassar. Juga iklan dari FOO GUAN PO AI ENG, spesial bikin buku-buku, menerima garis dan potong kertas, beralamat di Jalan Mardekaya No. 23 Belakang B. Berikutnya iklan "Garuda Mas & Co" (GMC) di Jalan Nusantara (Kemakmuran) Nomor 309, yang merupakan perusahaan percetakan, menjilid buku, serta berjualan pelbagai macam alat kantor dan sekolah.


    Bukan cuma toko buku dan toko ATK, perpustakaan pun beriklan. Tampak pada iklan Fa. Pustaka Kita di Jalan Ali Malaka. Dalam iklan itu disertakan foto gedung dengan jendela-jendela lebar dari kaca. Terdapat dua papan nama, masing-masing Fa. Pustaka Kita, dan Balai Pustaka. 


    Lantas, kira-kira buku apa saja yang dijual di toko-toko buku era 1950an itu. Kemungkinan buku-buku terbitan Balai Pustaka, yang sejak awal kemerdekaan diberi keleluasaan mencetak dan menerbitkan kembali buku-buku yang mengandung ajaran nasionalisme keindonesiaan, serta menerjemahkan dan menerbitkan naskah-naskah sastra dari berbagai negara ke dalam bahasa Indonesia yang dinilai bermanfaat sebagai bacaan masyarakat. Balai Pustaka juga diberi kelonggaran dan didorong mempublikasikan karya penulis Indonesia di bidang sastra, ilmu pengetahuan, dan budaya, serta menerbitkan sastra anak-anak. 


    Selama tahun 1948, Balai Pustaka menggandakan sebanyak 40.115 buku, tahun 1949 sebanyak 430.800 buku, dan pada tahun 1950 meningkat menjadi 603.000 buku. 


    Menurut Ockeloen, sebagaimana dimuat dalam data Buku-Buku Terbitan Baru dan Cetak Ulang, dalam Majalah Perdagangan Buku Indonesia, Tahun ke-3, No. 12, 30 Djuni 1951, buku-buku yang dicetak ulang dan diterbitkan meliputi ensiklopedia, filsafat, agama, politik, ilmu bumi, ekonomi, hukum, pendidikan, latihan badan, ilmu pasti, ilmu hayat, antropologi, kerajinan tangan, teknik, pertanian, musik, seni drama, permainan, seni pahat, ilmu bahasa dan sastra, puisi, novel, cerita anak-anak, buku sekolah rendah, buku sekolah menengah, dan buku sekolah teknik (Wisnu, 2023). 


    Dapat disimpulkan bahwa ketersediaan tema dan judul buku di dekade itu sudah sangat beragam. (*)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini