• Jelajahi

    Copyright © Tebar News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Sports

    Ajoeba Wartabone Layak Diusulkan sebagai Pahlawan Nasional

    Redaksi
    19/06/2026, 9:33 PM WIB Last Updated 2026-06-19T13:33:37Z

     

    Acara bedah buku Ajoeba Wartabone (1894-1957): "Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja" ditandai dengan pembukaan lembaran-lembaran buku secara simbolik secara bersamaan oleh Walikota Makassar, Munafri Arifuddin (dua dari kanan), Ketua Umum LAMAHU, Prof Dr Fadel Muhammad (dua dari kiri) dan HM Pulu Niode (paling kiri), dan Roeland Niode (paling kanan). Foto: Ist


    Oleh: Rusdin Tompo 

    (Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)


    MAKASSAR - Pemikiran serta sikap sebagai republikein tulen dan seorang nasionalis sejati merupakan dasar Ajoeba Wartabone layak diusulkan menjadi Pahlawan Nasional. Ketegasan, konsistensi, dan integritasnya tergambarkan lewat pernyataan: "Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja."


    Simpulan dan rekomendasi untuk mengajukan Ajoeba Wartabone sebagai Pahlawan Nasional dicetuskan dalam acara Bedah Buku Ajoeba Wartabone (1894-1957): "Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja" Biografi Gagasan dan Kepemimpinan dari Gorontalo untuk Indonesia Bersatu, karya Basri Amin (2025), di Hotel Aryaduta, Makassar, Selasa, 16 Juni 2026. 


    Hadir sebagai pembicara, yakni Dr Mukhlis PaEni, Ketua Dewan Pakar Memory of the World (MOW) Indonesia-UNESCO, Prof. Dr. Jumadi, S.Pd., M.Pd., Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Sulawesi Selatan, Dr. Andi Suriadi Mappangara, M.Hum., penulis sejarah dan dosen FIB Unhas, serta Eddy Thamrin, sastrawan dan budayawan.


    Pernyataan "Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja" yang disampaikan Ajoeba Wartabone dalam rapat di Parlemen Negera Indonesia Timur (NIT), menurut Dr. Mukhlis PaEni, punya sejumlah implikasi. Bukan saja sebagai tonggak mengajak kembali ke Republik Indonesia (NKRI), tetapi juga dalam hal penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, terutama dalam forum resmi.


    Pasalanya, era itu, kata Mukhlis PaEni, kecenderungan tokoh-tokoh dan elite politik berbicara dalam bahasa Belanda menunjukkan bahwa mereka orang terpelajar dan intelek. Namun, sejak teriakan lantang "Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja" disuarakan, frekuensi penggunaan bahasa Belanda dalam forum parlemen berkurang.


    "Ada benang merah yang tersurat dari pemikiran-pemikiran, sikap, dan tindakan Ajoeba Wartabone sejak tahun 1920an, lalu menjadi anggota Parlemen NIT, kemudian sebagai Kepala Daerah Sulawesi Utara, dan Kepala Pemerintahan Umum Gubernur Militer di Manado, yakni jiwa nasionalismenya," papar Mukhlis PaEni, yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Arsip Nasional RI.


    Prof. Dr. Jumadi, S.Pd., M.Pd., juga punya telaah yang sama. Guru Besar UNM itu mengkaji artikel yang ditulis Ajoeba dan pernyataannya yang dikemukakan sebagai politisi dan anggota Parlemen NIT, sebagaimana dikutip media massa dan jadi arsip sejarah. Apa yang dilakukan Ajoeba Wartabone, jelas Prof. Jumadi, merupakan panggilan nasionalisme dan upaya pencerdasan bangsa.


    "Ajoeba Wartabone merupakan sosok intelektual yang visioner, seorang jurnalis pejuang, dan memiliki kepeloporan dalam jurnalisme kebangsaan," terang Prof. Jumadi.


    Ditambahkan, ucapan "Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja" merupakan pernyataan simbolik, sekaligus menjadi simpul persatuan Indonesia. Ajoeba Wartabone berikut pernyataannya yang monumental menjadi bagian penting dari historiografi revolusi Indonesia.


    Eddy Thamrin, yang lebih dikenal dengan nama pena Yudhistira Sukatanya, menilai keberadaan NIT di mana Ajoeba Wartabone, berkiprah di situ sebagai politisi dan anggota parlemen, tak lepas dari posisi Makassar sebagai melting point. Kota yang sudah bertumbuh dan punya nama sejak berabad-abad lampau ini, menjadi titik di mana berbagai bangsa, budaya, etnis, dan ide-ide berbeda bertemu dan menjadi entitas baru. 


    "Sayangnya berbagai bangunan bersejarah, yang bisa menghadirkan lebih valid tentang lokasi-lokasi penting di masa kolonial dan revolusi tidak lagi berjejak," ujar editor buku Makassar Doeloe Makassar Kini Makassar Nanti (2000) itu menyayangkan.


    Meski mengapresiasi buku Ajoeba Wartabone, tetapi Dr. Andi Suriadi Mappangara memberikan catatan kritis berupa kurangnya penulis mengelaborasi situasi dan suasana Makassar di masa NIT. Kota yang begitu dinamis secara politik, yang perlu ditulis pula sebagai latar, dengan penulisan secara kronologis agar lebih mudah dipahami.


    "Buku Ajoeba Wartabone ini menegaskan pentingnya menulis sejarah, apalagi pernyataan sang tokoh kemudian ikut mempengaruhi jalannya sejarah Indonesia," imbuh Andi Suriadi Mappangara.


    Delegasi Goodwill Missie Parlemen Negara Indonesia Timur (NIT), diakui, melakukan lawatan ke Yogyakarta yang kala itu menjadi ibu kota Republik Indonesia, punya keterkaitan erat dengan pernyataan Ajoeba Wartabone: Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja.


    Dr Amanda Katili Niode, yang hadir sebagai penyelia buku, mengungkapkan bahwa buku Ajoeba Wartabone ini lahir melalui serangkaian riset akademik. Berbagai arsip dan dokumentasi ditelisik agar dapat mengetahui dan memahami kiprah dan kontribusi Ajoeba Wartabone, bukan saja bagi daerahnya, Gorontalo, tetapi juga bagi Indonesia.


    "Buku ini dipersiapkan cukup lama, sebagai bukti bakti dan cinta keluarga besar kepada sosok teladan Ajoeba Wartabone," kata Amanda Katili, yang dikenal luas sebagai pembicara, penulis, dan aktivis, terutama terkait lingkungan, isu perubahan iklim, dan pembangunan berkekanjutan itu.


    Bukti-bukti akan peran penting Ajoeba Wartabone dapat ditelusuri pada berbagai arsip sejarah, antara lain berupa foto-foto, artikel dan berita koran. 


    Dalam buku karya Basri Amin, peneliti pada Pusat Studi HB Jassin, rupanya juga banyak pemikiran Ajoeba Wartabone yang tetap kontekstual hingga kini. Salah satunya soal faham sosialisme dan semangat kerakyatan, sebagaimana tercetus dalam ungkapan "100 persen ikut Sutan Syahrir".


    Sutan Syahrir merupakan tokoh sosialisme demokratis, pendiri Partai Sosialis Indonesia (PSI). Ia pernah tiga kali menjadi Perdana Menteri Indonesia, masing-masing, pada Kabinet Syahrir I (November 1945-Maret 1946), Kabinet Syahrir II (Maret 1946-Oktober 1946), dan Kabinet Syahrir III (Oktober 1946-Juni 1947).


    Prof. Dr. Ir. H. Fadel Muhammad, Ketua Umum LAMAHU, yang juga merupakan politikus, pengusaha, dan akademisi Indonesia, ketika tampil sebagai keynote speaker membahas perlunya membumikan gagasan dan pemikiran Ajoeba Wartabone terkait faham kerakyatan ini. Menurutnya, apa yang jadi kebijakan pemerintahaan Presiden Prabowo Subianto, punya irisan semangat dengan cita-cita pembangunan yang dikemukakan Ajoeba Wartabone semasa hidupnya.


    Dari bahasan para pembicara dapat dikatakan bahwa Ajoeba Wartabone layak diajukan sebagai Pahlawan Nasional. Menurut KBBI, kata "layak" berarti wajar; pantas; patut. Kata ini juga diartikan sebagi mulia; terhormat.


    Secara semiotik, kata "layak" bermakna sebagai tanda nilai sosial. Kata "layak" ini berfungsi sebagai signifier yang menunjuk pada signified berupa nilai kepahlawanan yang punya legitimasi sosial dan tervalidasi dalam dokumen negara. Artinya, tokoh Ajoeba Wartabone pantas dijadikan ikon pemersatu dan identitas nasional.


    Sementara secara filosofis kata "layak punya makna sebagai keadilan distributif dan pengakuan. Layak dalam kaitan ini, mesti memenuhi standar etis dan historis untuk dijadikan sebagai teladan moral-politik bangsa. (*)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini