Pagi itu datang dengan cara yang sederhana: gerimis tipis yang jatuh perlahan, menyentuh tanah desa tanpa suara gaduh. Di tengah suasana yang nyaris sunyi, sebuah toko buku berdiri dengan keyakinannya sendiri—tidak di pusat kota, tidak pula di keramaian yang hiruk, melainkan di desa yang sering kali luput dari peta geliat literasi.
Adalah Bookmerchs, toko buku indie yang memilih Bontonyeleng sebagai rumahnya. Pilihan yang bagi sebagian orang mungkin terdengar ganjil, tetapi justru di situlah letak keberaniannya. Di Bulukumba, keberadaan toko buku bukanlah perkara yang mudah dirawat. Pernah ada masa ketika jaringan besar seperti Gramedia hadir pada 2017, namun jejaknya tak bertahan lama—menghilang tanpa kepastian, meninggalkan ruang kosong yang belum sepenuhnya terisi.
Di tengah kekosongan itulah Bookmerchs tumbuh, perlahan tetapi pasti.
Letaknya tidak jauh dari Puskesmas Bontonyeleng, sebuah penanda yang lebih sering diasosiasikan dengan kebutuhan kesehatan ketimbang ruang baca. Di sekitarnya, warung-warung makan menjadi pemandangan yang lazim. Tapi, Bookmerchs tidak berusaha menyerupai itu. Ia memilih menjadi sesuatu yang berbeda—ruang sunyi yang mengajak orang berhenti sejenak, membuka halaman, dan mungkin menemukan dirinya sendiri.
Bontonyeleng sendiri bukanlah wilayah yang sepenuhnya terasing. Ia cukup dekat dari pusat kota Bulukumba, membuat akses menuju toko ini tetap terbuka bagi siapa saja yang ingin mencari buku dengan sentuhan kurasi, bukan sekadar transaksi cepat. Di sana, buku tidak hanya dipajang, tetapi dihadirkan sebagai pengalaman.
Eva, pemilik Bookmerchs, memahami betul posisi itu. Baginya, kehadiran toko buku indie di desa bukanlah keterbatasan, melainkan pilihan sadar.
“Toko buku indie memang perlu dan sangat perlu diadakan di Bulukumba meski kami berada di desa. Sebab buku akan mencari siapa tuannya, dan begitu pun toko akan mencari siapa pembelinya,” ujarnya.
Kalimat itu tidak hanya terdengar seperti keyakinan, tetapi juga semacam doa yang dibiarkan bekerja perlahan.
Di Bulukumba—daerah yang terus tumbuh dengan sekolah dan perguruan tinggi—kebutuhan akan buku sejatinya tidak pernah benar-benar hilang. Hanya saja, cara orang menjangkaunya yang berubah. Di tengah kemudahan belanja daring, Bookmerchs justru menawarkan sesuatu yang tak bisa dikirim lewat paket: perjumpaan.
Perjumpaan dengan buku, dengan pemiliknya, dan dengan percakapan yang lahir di antaranya.
“Sejatinya Bookmerchs ingin memberikan sensasi berbuku kepada siapa saja. Ini bukan hanya transaksi jual beli, tetapi menjadi ruang percakapan di antara buku,” tutur Eva, pelan namun tegas.
Di kota yang selama ini dikenal dengan bentang pantai dan lanskap alamnya, kehadiran Bookmerchs seperti membuka kemungkinan lain—bahwa wisata tidak selalu tentang laut dan pasir, tetapi juga tentang pikiran yang bergerak, tentang kata-kata yang tinggal lebih lama dari sekadar kunjungan.
Sebuah wisata intelektual, barangkali.
Harapan itu tidak diucapkan dengan gegap gempita. Ia hadir dalam nada yang sederhana, nyaris seperti gerimis yang mengawali pagi tadi.
“Harapan Bookmerchs hari ini, esok, atau kelak, masyarakat Bulukumba terus berbuku dan berkisah. Sebab dengan buku kita bisa melahirkan ruang percakapan yang tumbuh secara organik,” tutupnya.
Dan di desa itu, di antara rak-rak buku yang disusun dengan hati-hati, percakapan itu telah dimulai—pelan, tetapi tidak akan mudah padam.(ril)



