• Jelajahi

    Copyright © Tebar News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Sports

    Toyota Innova dan Cerita di Balik Pemilihan Ketua KPID Sulawesi Selatan, Periode 2011-2014

    Redaksi Tebarnews
    16/01/2026, 8:41 AM WIB Last Updated 2026-01-16T00:41:23Z

     

    Foto komisioner KPID Sulawesi Selatan, periode 2011-2014. Penulis (kedua dari kanan) akhirnya terpilih sebagai ketua, setelah melalui proses voting. (Ist)


    Oleh: Rusdin Tompo

    Ketua KPID Sulawesi Selatan, Periode 2011-2014


    "Mobil ini nanti dipakai Pak Rusdin ji." 


    Begitu kalimat singkat yang saya dengar dari salah seorang staf, saat kami tengah rehat dalam suatu perjalanan dinas Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulawesi Selatan, sekira tahun 2010. 


    Itu sudah di masa pengujung komisioner KPID periode 2007-2010. Selain saya, komisioner periode itu terdiri dari Drs H Aswar Hasan, M.Si, Andi Taddampali, SH, Dra Amelia Tristiana, M.Si, Ir Muhammad Anshar A. Akil, M.Si, Judhariksawan, SH, MH, dan Muhammadiyah Yunus, SE.


    Nimbrung bersama kami, Amir, driver Kijang Toyota Innova tipe 2.0 E, yang sehari-hari jadi kendaraan operasional Pak Aswar Hasan. Dosen FISIP Unhas ini merupakan Ketua KPID Sulawesi Selatan, dua periode (2004-2007 & 2007-2010).


    Kami, kala itu, berdiri sambil ngobrol santai di belakang Toyota Innova warna merah, dengan nomor polisi DD 214 AG itu. 


    Entah topik apa yang membuat kami asyik ngerumpi. Bisa jadi, lagi membahas proses seleksi KPID Sulawesi Selatan untuk periode pasca Pak Aswar Hasan.


    Persisnya sudah agak lupa. Cuma, yang nyantol di ingatan saya, ya kalimat pembuka tulisan ini. Bahwa saya kemungkinan akan jadi pelanjut pengguna mobil dinas berpelat merah tersebut.


    Waktu berjalan. Ada kegiatan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) KPI di Bandung, Jawa Barat, bulan Juli 2010. 


    Di atas bus, dalam perjalanan pulang dari kota yang dijuluki Paris van Java itu, kami masih terbawa suasana Rakornas yang dihadiri komisoner KPI Pusat dan KPID se-Indonesia. 


    Mengemuka diskusi, dalam Rakornas, soal rencana revisi Undang-Undang Nomor 32 tentang Penyiaran dan beberapa isu strategis berkaitan dengan perizinan, terutama penataan frekuensi, dan aspek konten siaran yang mengatur standar siaran anak, program faktual, dan spesifikasi iklan. 


    Forum Rakornas, sepakat merekomendasikan agar dilakukan penandatanganan MoU dengan lembaga seperti KPAI dan Dewan Pers.


    Lagi asyik ngobrol, tiba-tiba terdengar celetukan seorang teman. Dia bilang, katanya ada di antara kami yang melobi (dia sebut nama teman itu), agar nanti dipilih sebagai Ketua KPID menggantikan Pak Aswar. 


    Teman yang bercerita itu merasa lucu. Sebab, katanya, proses seleksi komisioner KPID saja belum kelar, tetapi sudah ada yang minta dipilih jadi ketua.


    "Lucu... terpilih saja belum, sudah minta mau jadi ketua," katanya sambil terkekeh.


    Kira-kira begitu yang disampaikan, saat bus dalam perjalanan Bandung-Jakarta, yang akan membawa kami ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta. 


    Menurut teman yang bercerita itu, belum saatnya bicara ketua. Biar selesai dahulu tahapan seleksi, baru kemudian membahas siapa ketua selanjutnya.


    Sampai kami kembali tiba di Makassar, teman yang disebut namanya itu tidak membalas. Dia hanya tertawa, begitu mendengar cerita tentang dirinya.


    Perbincangan tentang siapa yang bakal melanjutkan kepemimpinan KPID Sulawesi Selatan setelah Pak Aswar, memang cukup santer, saat itu. 


    Spekulasi kian berkembang, apalagi setelah ada perpanjangan masa jabatan selama kurang lebih 6 bulan. 


    Periode kami mestinya berakhir di tahun 2010. Setelah terbit Keputusan Perpanjangan Masa Jabatan, yang ditandatangani Gubernur Sulawesi Selatan, Dr Syahrul Yasin Limpo, pada 5 Juli 2010, maka menjadi dasar bagi kami tetap melanjutkan tugas-tugas dan kewenangan sebagai komisioner.


    Pak Aswar, yang berlatar belakang dosen dan kolumnis, dinilai berhasil meletakkan fondasi bagi KPID dan membuat sejumlah terobosan di masanya. KPID Award, GeMeS (Gerakan Menonton Sehat), dan 2 rekor MURI, merupakan beberapa catatan keberhasilannya. 


    Rekor MURI ini diraih terkait peran media penyiaran dalam sosialisasi pencegahan virus flu burung (H5N1) melalui program  talk show dengan relay radio terbanyak, yakni 230 radio. 


    Peristiwa bersejarah di bulan Februari 2007 itu merupakan kerjasama KPID Sulawesi Selatan, dengan Pemprov Sulawesi Selatan, Unicef, dan PD PRSSNI Sulawesi Selatan.


    Tahapan dimulainya proses perizinan TV dan radio untuk memperoleh Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP), juga dilakukan di masa Pak Aswar, di mana saya sudah menjadi bagian dari KPID Sulawesi Selatan. Ini merupakan periode kedua beliau, tetapi periode pertama bagi saya.


    Batasan masa jabatan yang hanya membolehkan 2 periode, membuat posisinya sebagai komisioner dan ketua mesti ditinggalkan. 


    Di sinilah dinamika itu terjadi, dengan beberapa nama yang sempat mengemuka. Saya termasuk salah seorang yang disebut-disebut sebagai calon penggantinya.


    Saya ingat, pernah dalam sebuah diskusi di salah satu resto di Jalan Andi Mappanyukki, Andi Taddampali sebagai moderator berseloroh, "dari ketua ke calon ketua". Rupanya, candaannya itu diprotes karena dinilai menggiring opini publik.


    "Ada yang kirim SMS ke saya. Dia protes, katanya, jangan mengarahkan hehehe," bisik Wakil Ketua KPID Sulawesi Selatan, periode 2007-2010, yang populer dengan nama udara Andi Mangara di Radio Mercurius FM itu.


    Tema diskusinya, ketika itu, tentang siaran anak, yang menghadirkan narasumber Nina Mutmainnah (Wakil Ketua KPI Pusat), Aswar Hasan, dan saya yang membidangi isi siaran. Isu media dan anak ini menjadi fokus saya, jauh sebelum saya bergabung di KPID.


    Nama saya lagi-lagi disebut, dalam suatu kegiatan KPID Sulawesi Selatan di Hotel Cokelat, Jalan Onta Lama. Tentu saja, nama saya tidak disebut dalam forum resmi, tetapi diperbincangkan oleh beberapa orang yang hadir dalam kegiatan hari itu.


    Namun, muncul pertanyaan di benak saya: Apakah jabatan, fasilitas, atau nama yang saya cari bila nanti terpilih? Bukankah secara fisik, saya tidak cukup kuat bila berkendaraan jauh dengan medan yang berkelok-kelok? Bukankah kepala saya bermasalah, selalu nyeri, setiap kali naik pesawat terbang?


    Saya memang beberapa kali mual, bahkan muntah dalam perjalanan jauh, terutama bila melewati poros Camba-Bone dan Enrekang-Toraja. Padahal, di masa SMA, saat masih di Ambon, saya pernah jadi kondektur angkot. 


    Kepala saya juga sering nyeri ketika naik pesawat terbang. Sehingga sempat membuat saya memutuskan bakal tak lagi naik pesawat. 


    Kondisi ini termasuk yang jadi bahan renungan dan pertimbangan saya, manakala nama saya mengemuka sebagai bakal ketua. Konsekuensi logis dan tanggung jawab akan mengharuskan saya bepergian dengan mobil atau pesawat untuk menjalankan tugas.


    Singkat kata, saya luruskan niat. 


    Hingga tibalah hari itu, saat pelantikan KPID Sulawesi Selatan, periode 2011-2014. 


    Surat Keputusan (SK) penetapan pengangkatan komisioner terpilih ditandatangani Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan, Dr Syahrul Yasin Limpo, SH, M.Si, MH, pada tanggal 31 Januari 2011.


    Dalam SK itu tertera nama-nama yang akan dilantik untuk segera menjalankan UU Penyiaran dan P3-SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran, dan Standar Program Siaran). 


    Selain saya, ada Alem Febri Sonni, akademisi Unhas, juga Andi Fadli, S.Sos, Andry Mardian, SE dan Rahma Saiyed, SS, S.Kom, ketiganya orang media. Selain itu juga ada Dr H Sukardi Weda, SS, M.Hum, M.Pd, M.Si, dosen UNM, dan Sumeizita Suarman, SS, dari unsur media penyiaran.


    Agenda pelantikan kami baru dilakukan sehari kemudian, atau tepatnya pada tanggal 1 Februari 2011. Sehingga memungkinkan, lobi dilakukan oleh mereka yang mau maju sebagai ketua. Dan itu memang terjadi. Sah-sah saja. 


    Saya memakluminya sebagai proses demokrasi yang wajar. Saya sendiri memilih tidak mencoba mendekati teman-teman meski saya petahana.


    Bismillah. 


    Saya mengenakan setelan jas dari rumah di Kompleks Anggrek, Minasa Upa, saat menuju ke Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika (Dishubkominfo) Provinsi Sulawesi Selatan, yang menjadi lokasi pelantikan. Kantor Diskominfo ini berada di kilometer 15 ke arah utara dari Kota Makassar. 


    Dengan sepeda motor Honda Vario 125, saya menempuh perjalanan sejauh lebih 20 km ke sana. 


    Saya santai mengendarai sepeda motor ber-velg bintang itu. Speedometer saya hanya menunjukkan kecepatan rata-rata 40-an km/jam.


    Saya tiba di lokasi sebelum acara dimulai. Kami, para komisioner terpilih, tampil necis dan rapi. 


    Lelaki mengenakan setelan jas dan berkopiah atau dalam bahasa undangannya disebut PSL (pakaian sipil lengkap), dan perempuan mengenakan busana nasional, dalam hal ini berkebaya, dan berkerudung.


    Setelah prosesi pelantikan oleh Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Agus Arifin Nu'mang, di Aula Diskominfo Provinsi Sulawesi Selatan, kami pun menuju salah satu ruangan. Tujuannya untuk melakukan pemilihan ketua dan wakil ketua, supaya tidak ada kekosongan kepemimpinan.


    Kepala Sekretariat KPID Sulawesi Selatan, H Banodding, dan staf hadir. Mereka memberi selamat kepada kami, dengan bersalaman, lalu berfoto bersama.


    Pemilihan mau tidak mau dilakukan secara voting karena ada lebih dari 1 kandidat. Bahkan penghitungan suara dilakukan 2 putaran. Pasalnya, pada tahap pertama, terdapat 3 nama yang mengemuka. Saya, Andi Fadli, dan Dr Sukardi Weda, masing-masing mengantongi suara.


    Sebelum dilakukan voting pada putaran kedua, kami bertiga menyampaikan semacam visi misi, apa yang nanti akan kami lakukan bila terpilih. 


    Setelah voting kedua, komposisi suara berubah. Perolehan suara saya bertambah. Dr Sukardi Weda memberikan suaranya untuk saya.


    Begitu dipastikan bahwa saya terpilih sebagai Ketua KPID Sulawesi Selatan, periode 2011-2014, saya langsung mengulurkan tangan, menyalami semua teman komisioner. Saya mengucapkan terima kasih atas amanahnya.


    Sebaliknya, staf yang hadir seketika memberi selamat kepada saya. Kepada mereka saya meminta dukungan, biar solid sebagai team work.


    Sebelum meninggalkan lokasi, Kepala Sekretariat KPID Sulawesi Selatan, H Banodding, bertanya kepada saya, "Naik apa ki ke Dishubkominfo?". Saya jawab, "Naik sepeda motor."


    Beliau lantas memanggil Amir, driver mobil dinas KPID Sulawesi Selatan, agar mengikuti saya pulang ke rumah. Setelah tiba di rumah untuk mengganti baju, salah seorang anak saya, menyambut di depan pintu. 


    Suaranya yang polos bertanya, "Jadi ketua ki, Pak?"


    Saya hanya menjawab singkat, "Alhamdulillah." Lalu saya memeluknya.


    Rupanya dia sudah melihat mobil Toyota Innova warna merah yang siap menjemput saya kembali ke kantor di Jalan Bontolempangan Nomor 48.


    Sejak saat itu, selama tiga tahun, mobil Toyota Innova tersebut mengantar saya pulang-pergi kerja rumah-kantor, juga membawa saya dalam perjalanan dinas ke berbagai tempat di 24 kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan.


    Sungguh menakjubkan, karena selama itu, tak sekalipun saya mual. Kondisi saya selalu fit, meski menempuh jarak ratusan kilometer, dengan medan yang berat. (*)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini