![]() |
| Penulis, dalam suatu kesempatan tampil nyanyi di acara reuni angkatan 87 FH-UH di Malino. (Foto: Dokpri) |
Oleh Rusdin Tompo
Penulis adalah Koordinator Satupena Sulawesi Selatan
Industri rekaman di Makassar memiliki sejarah yang panjang. Kita mesti melacaknya sejak aktivitas rekam-merekam musik yang diyakini sudah ada di Indonesia, khususnya di Batavia dan Surabaya, sejak zaman kolonial Belanda.
Gramafon Columbia serta peralatan studio rekaman yang dibawa ke Hindia Belanda awal abad ke-20, dianggap sebagai cikal bakal lahirnya industri musik di negara kita.
Dalam Pameran Arsip Skena Musik 1869-2025, yang digelar di Museum Kota Makassar, pada tanggal 25-31 Oktober 2025, beragam arsip dan artefak musik menjadi buktinya.
Pameran ini merupakan rangkaian dari Prolog Festival, terselenggara atas kerja sama Dinas Kebudayaan Kota Makassar dan Prolog Ecosystem.
"Warisan-warisan ingatan warga lewat benda, teks, bunyi, video, foto, terkait musik dapat ditemukan dalam pameran ini," papar Abdi Karya dari Prolog Ecosystem.
Saya banyak mendapat informasi dari Ansar Mulkin Abbas, kolektor sekaligus kurator pameran, pemilik Celebes Vintage Gallery.
Dalam Pameran Arsip Skena Musik yang menarik rentang waktu lebih 150 tahun ini, kita bisa melihat ekosistem musik yang tumbuh di Makassar.
Perkembangan industri musik tak bisa lepas dari keberadaan toko-toko musik, termasuk yang menjual peralatan musik.
Salah satunya, Kiem Tek Kongsie--sebuah toko penjual gramaphone dan piringan hitam pada masa kolonial. Toko ini menjadi pusat perdagangan alat musik modern di masanya. Lewat toko ini, masyarakat Makassar diperkenalkan dan terhubung dengan teknologi suara dari Eropa.
Kiem Tek Kongsie dikelola oleh komunitas Tionghoa, sebagai cermin pertemuan budaya Timur dan Barat. Keberadaannya menjadi jejak awal perkembangan musik dan hiburan dengan rasa modern.
Eksistensi toko-toko musik, sudah pasti menyediakan pula perangkat audio analog atau pemutar media audio fisik paling mutakhir.
Di Makassar, sudah ada Dual P1007 A, yang merupakan salah satu pemutar piringan hitam klasik produksi Jerman, era 1950an.
Produsen audio ternama Black Forest, membuat rancangannya sederhana tetapi elegan. Turntable ini menjadi bukti perjalanan sejarah perkembangan teknologi audio Eropa pasca Perang Dunia II. Keberadaan Dual P1007 A ini diakui sebagai artefak penting dalam koleksi dan sejarah musik analog.
Ada pula Turntable Crown TRP-123, yang merupakan pemutar piringan hitam stereo buatan Jepang. Crown TRP-123 ini mencerminkan kemajuan teknologi audio Jepang pada era 1960 yang mengutamakan kemudahan dan kualitas suara.
Perangkat yang jadi artefak penting masa kejayaan musik analog ini, ditemukan di Jalan G. Lompobattang ex Hospital Radio--sebuah praktik service elektronik yang telah membuka usahanya sejak tahun 1930an.
Dalam pameran ditampilkan pula Radio tabung Philips BC376A, yang diproduksi di Holland, 1943-1948. Radio yang terbuat dari bakelit coklat tua ini, punya panel frekuensi berbentuk lingkaran seperti kompas, melambangkan jangkauan siaran yang luas.
Pada masanya, radio seperti ini jadi penghubung informasi antara Batavia dan Makassar melalui gelombang menengah (AM), dan gelombang pendek (SW). Warga Makassar, kala itu, dapat mendengarkan berita pemerintahan, hiburan musik, dan siaran perjuangan dari pusat.
Peralatan audio berikut yang jadi penanda kemajuan Makassar, yakni keberadaan Radio Grundig Tipe 2045 W, produksi tahun 1954-1955, buatan Jerman Barat. Perangkat jadul ini ditemukan di salah seorang rumah warga beralamat di Jalan Banda, Makassar. Rumah tersebut dahulunya dikenal sebagai tempat praktik Tukang Gigi. Radio ini menjadi saksi sejarah teknologi suara masyarakat urban Makassar era 1950an
Industri musik Indonesia diakui dirintis oleh Sujoso Karsono (18 Juli 1921-26 Oktober 1984). Sujoso Karsono mendirikan The Indonesian Music Company Limited, tanggal 17 Mei 1951, yang dikenal dengan label Irama.
Pria yang akrab disapa Mas Yos itu memiliki kecintaan pada musik sejak masih berdinas di kemiliteran, tepatnya sebagai penerbang Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Mas Yos punya grup musik Hawaiian Lieve Souveniers yang didirikan di Semarang, kemudian Elshinta Hawaiian Senior di Jakarta (Theodore, 2013).
Perjalanan rekaman musik yang dihasilkan oleh berbagai perusahaan di Kota Makassar mencakup berbagai genre lokal, tidak hanya musik tradisional, tetapi juga lagu berbahasa daerah yang disertai dengan instrumen musik modern dan lirik yang mencerminkan realitas sosial pada masa tersebut.
Di Sulawesi Selatan, rekaman pertama musik dilakukan oleh Jaap Kunst, musisi sekaligus peneliti, yang tertarik dengan musik etnis di Tanah Air. Dalam kunjungannya ke Sulawesi, pada tahun 1932, Jaap Kunst merekam dengan media silinder lilin.
Hasil rekamannya sebagian besar rusak ketika dikirim ke Berlin Archives. Hasil rekamannya itu tidak untuk disebarluaskan (https://inspirasinusantara.id).
Jangan lupa Wage Rudolf Soepratman yang pernah tinggal di Makassar, pada dekade 1920an dan bergabung dalam grup musik Black and White Jazz Band. Pendiri band ini adalah iparnya, WM van Eldik, suami dari kakak sulungnya, Roekijem.
Lelaki patriotik, yang nanti kita kenal sebagai pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya itu baru sekira 17 tahun, saat ngeband, dan sudah mahir sebagai pemain biola (violinis).
Ada pendapat yang bilang, pergaulan sosial di Kota Makassar yang multikultur, ikut mempengaruhi semangat nasionalisme WR Soepratman. Biola yang digunakan saat memainkan lagu Indonesia Raya, disebut-sebut sebagai alat musik yang dibawanya dari Makassar.
Akulturasi Budaya
Di Makassar, menurut Denny Sakkrie (2015), nama Ho Eng Djie diakui sebagai penyanyi pertama yang memasuki industri musik. Perjalanan karier Ho Eng Djie dimulai sejak era 1930-an hingga 1950-an.
Antara tahun 1938-1940, Ho Eng Djie diajak rekaman di Studio Hoo Soeng Hoo (Canary Record)—sebuah perusahaan rekaman piringan hitam (plaat gramafon), yang berada di Surabaya, Jawa Timur. Materi yang dirilis kala itu adalah lagu-lagu Celebes folksliederen, yang berarti lagu rakyat Sulawesi.
Selain menyanyi, Ho Eng Djie juga menulis lagu sendiri yang diiringi oleh Orkes Sinar Sedjati serta Orkes Wari-Waria. Hasil dari rekaman penyanyi kondang Makassar, saat itu, berdasarkan Anderson dalam Calling Back the Spirit: Music, Dance, and Cultural Politics in Lowland Sulawesi Selatan (https://saintjimpe.blogspot.co.id), adalah seri rekaman 78rpm (sekitar 20.000 cakram rekaman).
Selain itu, dengan iringan beberapa kelompok musik dari Sulawesi Selatan, Ho Eng Djie menyanyikan lagu Mandar dan Bugis. Ironisnya, nama Ho Eng Dji dalam khazanah lagu-lagu daerah di Sulawesi Selatan seperti terlupakan. Padahal, banyak lagu-lagu ciptaannya masih dinikmati oleh masyarakat (Bahrum [ed.], 2006).
Penyair dan pencipta lagu kelahiran Kassi’ Kebo’ (Kampung Cina), Maros, Sulawesi Selatan, tanggal 27 Juli 1906, ini telah menciptakan syair dan lagu yang sangat populer, seperti Ati Raja, Ammaq Ciang, Dendang-Dendang, dan masih banyak lagi.
Ho Eng Dji, seputar tahun 1950-an, banyak mengudara di Radio Republik Indonesia (RRI) membawakan lagu-lagu Makassar, Bugis, Mandar, dan Selayar bersama Orkes Singara Kullu-kullua yang kemudian berganti nama menjadi Orkes Sawerigading.
Musisi besar ini wafat tanggal 7 Maret 1960 dan dimakamkan di Pekuburan Tionghoa Bontojangang, Panaikang, Makassar (sekarang Kantor Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan).
Masih ada lagi nama Djajadi Djamain, seorang pemimpin musik sekaligus anggota militer. Selama awal 1960-an Djajadi bersama kelompoknya merekam lagu “Anging Mammiri” dan “Muri-Muria” di Studio Lokananta di Surakarta (Solo). Sejak itu pula orang-orang di luar Sulawesi mengenal lagu daerah ini (https://saintjimpe.blogspot.co.id).
Situs Kabarkami (http://www.kabarkami.com) pernah membahas perkembangan lagu-lagu Bugis-Makassar era tahun 1960-an.
Dijelaskan bahwa adanya sentuhan seni musisi Tionghoa ikut memperkaya khazanah musik daerah Sulawesi Selatan. Seniman keturunan Tionghoa yang menonjol pada masa itu adalah Ho Eng Djie. Masih ada lagi nama lain, yakni Pui Tjung Ang di Bontoala, yang jika menyanyikan lagu Makassar terdengar unik.
Nama lain yang ikut mewarnai akulturasi budaya Tionghoa-Bugis-Makassar melalui musik adalah Tam Bang Seng, yang memimpin Orkes Langgam Daerah Wari-Waria yang populer dengan lagu berjudul “Pappalakku” (Permintaanku).
Tidak lengkap rasanya jika tidak menyebut nama Baba Kai, seorang pemain gitar terkenal yang bergabung dengan Orkes Daerah Lalang Kamase, pimpinan Let. Dreter asal Kampung Layang-Bunga Ejaya, serta seorang lagi bernama Baba Gie, yang mahir bermain juk/ukulele dari orkes daerah di Kalukuang.
Dipopulerkan Secara Nasional
Pada deretan orang Makassar, di era 60-an itu, ada nama-nama seperti Abd. Rachman Daeng Rombo, ada lagi Bulang Sumara yang menasional lewat ciptaannya berjudul “Bombang Tallua”. Lagu ini dipopulerkan melalui TVRI Stasiun Pusat Jakarta dan dinyanyikan oleh Muchtar Limpo.
Pada lagu itu, Daeng Rombo berkolaborasi dengan Orkes Dendang Sulawesi Tanjung Priok, pimpinan Ilyas Daeng Nompo. Abd. Rachman Daeng Rombo punya seorang adik yang juga merupakan pencipta lagu dan musisi, bernama Muchtar Hamzah Daeng Situju.
Pada era ini, kita mesti menyebut pencipta lagu kawakan, Bora’ Daeng Ngirate dan nama Baharuddin Mandjia. Masih ada lagi nama Rahman Syah, pencipta dan penyanyi yang terkenal lewat lagu “Tulolonna Sulawesi” dan “Ujung Pandang”. Rahman Syah merupakan Juara Lagu Keroncong Nasional, tahun 60-an.
Juga ada Abidin Syam, seorang pencipta lagu, musisi, dan penyanyi, yang antara lain kita ingat melalui lagu ciptaannya “Bolima Kamma Salasa”, seorang pencipta lagu asal Labbakkang (Pangkajene) yang cukup terkenal bernama Aminullah Lewa.
Format Kaset
Menurut Denny Sakkrie—yang dikenal sebagai penulis, pengamat musik dan penyiar radio—memasuki era 1970-an, industri rekaman Indonesia mulai terlihat cerah. Munculnya format kaset yang secara perlahan menggantikan piringan hitam (PH) ikut mendinamisasi industri musik. Kaset dengan bentuk yang lebih praktis dan harga terjangkau, begitu cepat memikat masyarakat. Perkembangan ini juga merambah ke daerah-daerah.
Di Makassar, yang menjadi sentra bisnis Indonesia Timur, sejak tahun 1973 hingga tahun 1975, telah berdiri setidaknya 3 label rekaman. Label-label rekaman ini merupakan perluasan dari yang ada di Jawa, seperti Special Record, Suara Mas, dan OK Record. Pada tahun 1976, jumlah label bertambah dengan berdirinya Irama Baru dan Libel Record.
Kebanyakan label-label ini merekam lagu berbahasa daerah Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja.
Irama Baru Record didirika tahun 1970 sebagai toko penjualan kaset, dan mulai merekam pada tahun 1976. Libel Record berdiri di tahun 1982, dan membuka cabang Jansen Record, pada tahun 1987.
Selanjutnya, National Record hadir di tahun 1982, dan aktif merekam hingga 1986, kemudian membuka perusahaan rekaman lain, Gema Aries Record (https://inspirasinusantara.id).
Irama Baru Record sempat berjaya di blantika industri rekaman di Makassar dan Sulawesi Selatan. Label rekaman yang berlokasi di Jalan Sunu, Makassar, hingga kini masih memproduksi lagu-lagu daerah, meski peminat kaset maupun compact disc (CD) lagu-lagu daerah kian menurun.
Pemilik toko sekaligus produser rekaman Irama Baru Record, Theresia Chandra, mengaitkan maraknya aksi pembajakan dan kelesuan ekonomi menjadi penyebabnya.
“Teknologi membuat orang lebih gampang mendapatkan lagu-lagu atau musik favorit mereka. Hanya dengan meng-copy karya cipta orang lain, kemudian memasukkannya ke media sosial, musik bisa dinikmati banyak orang. Mau apa, kami tetap harus berjuang. Inilah yang selama ini menghidupi kami maupun para artis," tuturnya kepada wartawan Harian Fajar (25 Februari 2016), sebagaimana dikutip situs http://www.jpnn.com.
Theresia Chandra menuturkan, secara periodik, perusahaannya mengganti peralatan rekamannya agar lebih up to date. Pertama kali, sejak didirikan, Irama Baru melakukan pergantian peralatan tahun 1978, kemudian secara berturut-turut dilakukan tahun 1998, 2003, 2010, dan kembali melakukan pergantian pada tahun 2014.
Setiap kali melakukan pergantian, peralatan lamanya tidak dijual tapi tetap disimpan sebagai kenangan di gudang studio di Jalan Sunu.
Regenerasi Penyanyi
Meski industri bagai menghadapi situasi hidup segan mati tak mau, Irama Baru tetap berusaha merekrut artis-artis pendatang baru. Sementara artis-artis senior juga terus dipertahankan. Theresia mengatakan, dirinya terus berkomunikasi dengan para artisnya agar mereka tidak kendor menghasilkan karya. Salah satunya dengan penyanyi Ridwan Sau.
Theresia optimis untuk terus memproduksi rekaman lagu-lagu daerah baru. Namun, feeling bisnisnya akan menunggu momen yang pas terlebih dahulu.
Selain Irama Baru Record, ada perusahaan rekaman lain yang terkenal, yakni Libel Record. Iwan Tompo pernah rekaman di kedua perusahaan itu. Berdasarkan catatan etnomusikolog Anderson Sutton (https://saintjimpe.blogspot.co.id), Libel Record berdiri pada akhir 1970-an.
Perusahaan rekaman ini tumbuh di masa perluasan usaha perusahaan rekaman dari Pulau Jawa. Libel menjadi ikon kemunculan dan pertumbuhan usaha sejenis di Makassar pada masanya.
Studio Libel Record menempati sebuah rumah toko (ruko) di Jalan Kalimantan, terletak sekitar 20 meter di belakang Pasar Butung.
Ismail Solong, Direktur Utama Libel Record, sebagaimana diberitakan Koran Tempo Makassar (18 April 2011), mengatakan terdapat sejumlah penyanyi daerah yang pernah rekaman di studionya, seperti Anci Laricci, Iwan Tompo, Nurdin Taqwa, Ridwan Hayat, dan Andi Tenri Ukke. Bahkan penyanyi Pance F. Pondaag, Obbie Messakh, dan Franky Sahilatua, pernah membuat rekaman di sana.
Begitupun dengan penyanyi-penyanyi dari Kawasan Timur Indonesia, seperti Joice H. Pupella dan Jopie Latul asal Maluku, yang pernah merekam suaranya di Libel Record.
Ismail menceritakan, pendirian Libel Record tidak lepas dari pemilik sekaligus Komisaris PT Surya Pratama Sakti, Riady Panorama.
Riady sangat menyukai lagu-lagu berbahasa Makassar, Bugis, Toraja, dan Mandar. Pria keturunan Tionghoa itu, menginginkan agar ada suara orang Sulawesi Selatan dikelola secara baik dan direkam dalam pita kaset. Saat Riady dan teman-temannya mendirikan Libel Record, 17 September 1979, hanya ada satu perusahaan sejenis di Makassar, yakni Irama Baru Record.
Hingga kini Libel Record tetap eksis dan konsisten mengusung lagu-lagu daerah, seperti awal kemunculannya. Awal Libel berjalan, perusahaan ini langsung mengorbitkan penyanyi Hamzan Marliat dan Nio Daeng Kebo.
Antara tahun 1998 hingga 2002, kata Ismail, merupakan periode emas Libel Record. Beberapa penyanyi terkenal lahir di sana, seperti Anci Laricci, Iwan Tompo, Nurdin, Pance F. Pondaag, Obbie Messakh, dan Franky Sahilatua. Atas prestasinya, Kementerian Kebudayaan memberikan penghargaan sebagai perusahaan rekaman yang memproduksi lagu daerah terbanyak.
Dalam perkembangannya, Libel Record kini telah menggunakan peralatan modern dan pindah ke Kompleks Permata Hijau, Makassar. Perusahaan ini kini membawahi dua perusahaan serupa, yakni Rezky Record dan Ewako Record.
Penyanyi andalan Libel Record saat ini adalah artis-artis alumnus acara Kontes Dangdut TPI(KDI), yang diselenggarakan oleh stasiun televisi TPI yang kini berganti nama menjadi MNC TV, seperti Ina KDI, Yuni KDI, dan Vira KDI.
Peran TV dan Radio Siaran
Membincangkan industri musik berarti kita mesti menyinggung peran radio dan televisi di dalamnya. Kontribusi radio siaran dan stasiun TV tak bisa dinafikan dalam perkembangan lagu dan musik daerah.
Melalui radio siaran dan program acara TV, kita bisa mengetahui penyanyi dan lagu-lagunya. Dan itu menjadi ajang promosi bagi penyanyi untuk semakin dikenal. Hubungan radio/TV, label rekaman dan penyanyi/pencipta merupakan semacam simbiosismutualisma.
Sejumlah stasiun radio pernah, dan bahkan ada yang masih konsisten, secara regular memiliki siaran lagu-lagu daerah, khususnya Bugis-Makassar. Radio Sentosa, yang kini berganti menjadi SPFM, pernah punya program bernama “Bosara’na Sentosa”. Di Radio Venus juga pernah menyiarkan lagu-lagu daerah yang dikemas dalam acara “Citra Nusantara”.
Masih ada lagi Radio Piposs, Radio Gandaria, dan beberapa radio lainnya. Termasuk juga radio-radio di daerah, ikut memiliki sumbangsih bagi perkembangan lagu-lagu Bugis-Makassar.
Namun, dari semua radio swasta yang bersiaran lagu-lagu Bugis-Makassar, yang masih terus bertahan mengusung format lagu-lagu daerah adalah Radio Gamasi FM. Radio yang terkenal dengan tagline “Gaya Makassar Ada di Sini” itu memutar lagu-lagu daerah Bugis-Makassar sejak kehadirannya, 36 tahun lalu.
Porsi lagu Bugis-Makassar di Radio Gamasi FM sebesar 10 persen, pop Indonesia 20 persen, dangdut 60 persen, sementara lagu asing (Hindustan/India) dan lagu kasidah, masing-masing 5 persen (Rachman, Mansyur, Sirimorok [ed.], 2011).
Dan tentu saja yang harus disebut dalam daftar yang ‘punya jasa’ bagi perkembangan lagu-lagu Bugis-Makassar adalah LPP RRI Makassar dan LPP TVRI Sulsel.
Banyak penyanyi lahir dan tumbuh besar dari kedua lembaga penyiaran publik ini. Di RRI Nusantara IV Makassar, ada saluran Pro 4, yang memang dikhususkan bagi siaran-siaran budaya. Di dalamnya, para pendengar bisa mendengarkan lagu-lagu Bugis-Makassar. Begitupun di TVRI Sulsel, kita bisa melihat musisi dan penyanyi lagu daerah Bugis-Makassar, salah satunya dalam acara “Deng Mampo”. (*)
*) Dikembangkan dari salah satu bahasan dalam buku berjudul Iwan Tompo: Maestro Lagu Makassar, penulis Wandi Daeng Kulle dan Rusdin Tompo, editor Rusdin Tompo, penerbit Pustaka Sawerigading bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar, Mei 2017


