• Jelajahi

    Copyright © Tebar News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Sports

    Dosen UNM dan GPIB Bukit Zaitun Bersinergi Perkuat Kedermawanan Generasi Muda

    tebarnews
    06/09/2026, 6:15 PM WIB Last Updated 2026-09-13T10:18:05Z

     

    Koordinator Program Studi Pendidikan Antropologi UNM sebagai ketua tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), Dr. Abdul Rahman, S.Pd., M.Si (kelima dari kiri) bersama anggota saat foto bersama di Aula Pertemuan GPIB Jemaat Bukit Zaitun, Kota Makassar. (Foto: ist)


    MAKASSAR — Nilai kedermawanan dinilai perlu terus dirawat di tengah perubahan sosial yang semakin dipengaruhi perkembangan teknologi dan budaya digital. Hal tersebut menjadi perhatian tim dosen Program Studi Pendidikan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FIS-H), Universitas Negeri Makassar (UNM) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM).


    Kegiatan bertema “Penguatan Kedermawanan pada Pemuda Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat” tersebut berlangsung di Aula Pertemuan GPIB Jemaat Bukit Zaitun, Kota Makassar, Sabtu (5/9/2026).


    Para pemuda GPIB Jemaat Bukit Zaitun dilibatkan sebagai mitra sekaligus peserta aktif dalam kegiatan yang dirancang untuk memperkuat kesadaran mengenai pentingnya solidaritas, kepedulian, dan praktik berbagi dalam kehidupan sosial.


    Ketua tim pelaksana PKM, Dr. Abdul Rahman, S.Pd., M.Si., menjadi pembicara pertama. Ia mengulas kedermawanan dari perspektif etika dan antropologi budaya.


    Menurut Abdul Rahman, budaya saling membantu dan berbagi telah menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Karena itu, nilai tersebut perlu dipertahankan agar tidak tergerus oleh perubahan gaya hidup akibat globalisasi dan digitalisasi.


    “Pemuda hari ini harus diingatkan kembali untuk tetap memelihara, merawat, dan mempraktikkan sikap kedermawanan tersebut dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Abdul Rahman.



    Ia menilai era digital menghadirkan tantangan tersendiri bagi generasi muda. Interaksi sosial yang semakin banyak berlangsung melalui ruang digital perlu diimbangi dengan kepedulian nyata terhadap lingkungan sosial.


    Dalam konteks tersebut, kedermawanan tidak hanya dipahami sebagai aktivitas memberikan bantuan materi, tetapi juga sebagai sikap empati, kesediaan membantu, berbagi waktu, pengetahuan, perhatian, dan tenaga kepada orang lain.


    Perspektif antropologi budaya tersebut kemudian diperkaya melalui pemaparan Pendeta Salmon Aldemar Jacobus Bawole, S.Th., M.Min., yang membahas kedermawanan dari perspektif teologi dan iman Kristen.


    Pendeta Salmon menekankan bahwa makna memberi tidak semestinya dibatasi pada pemberian uang maupun bantuan berupa benda.


    Menurutnya, kedermawanan juga dapat diwujudkan melalui tindakan nyata yang menunjukkan kepedulian kepada sesama. Dengan demikian, semangat berbagi dapat hadir dalam berbagai bentuk kehidupan sehari-hari.


    Kegiatan PKM tersebut menjadi ruang dialog antara perspektif akademik dan keagamaan dalam membangun kesadaran sosial generasi muda.


    Melalui kegiatan tersebut, para pemuda GPIB Jemaat Bukit Zaitun diharapkan tidak hanya memahami konsep kedermawanan, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk memanfaatkan ruang digital secara positif.


    Program ini sekaligus menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya melalui penguatan kapasitas masyarakat dan generasi muda dalam menghadapi perubahan sosial di era digital.**


    Komentar

    Tampilkan

    Terkini