• Jelajahi

    Copyright © Tebar News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Sports

    Dosen FIS-H UNM Gelar PKM Internasional Revitalisasi Ruang Publik pada Komunitas Keturunan Bugis di Malaysia

    Redaksi
    07/06/2026, 2:11 PM WIB Last Updated 2026-06-07T06:12:09Z

     

    Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNM, Dr. Ahmadin, S.Pd., M.Pd. saat memaparkan materi. Foto: Ist


    KUALA LUMPUR – Seorang dosen dari Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FIS-H) Universitas Negeri Makassar (UNM), Dr. Ahmadin, S.Pd., M.Pd., melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berskala internasional di Kuala Lumpur, Malaysia. Kegiatan yang mengusung tema "Revitalisasi Ruang Publik sebagai Media Pewarisan Nilai-nilai Budaya bagi Komunitas Keturunan Bugis di Malaysia" ini digelar pada hari Jumat, 5 Juni 2026, bertempat di ruang rapat Institut Terjemahan Buku Malaysia (ITBM).


    Dalam paparannya, Dr. Ahmadin yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik FIS-H UNM tersebut, menekankan pentingnya menjaga kelestarian nilai-nilai budaya Bugis. Menurutnya, nilai-nilai tersebut merupakan warisan leluhur sekaligus identitas etnis yang perlu diwariskan kepada generasi muda. Ia menjelaskan bahwa perubahan sosial akibat modernisasi dan perkembangan teknologi terkini telah memengaruhi keberadaan nilai-nilai budaya etnis. Oleh karena itu, diperlukan strategi pelestarian yang tepat, salah satunya melalui revitalisasi ruang publik.



    Dr. Ahmadin memaparkan bahwa saat ini tersedia beragam jenis ruang publik, seperti panggung pertunjukan seni, arena permainan tradisional, tempat berkumpulnya komunitas atau paguyuban, sanggar tari, hingga fasilitas interaksi di dunia maya. Ruang-ruang tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sarana pewarisan nilai-nilai budaya, misalnya nilai Siri’ dan Pacce.


    Sebagai peneliti di bidang Sosiologi Ruang, Ahmadin meyakini bahwa upaya revitalisasi ruang publik sangat mungkin dilakukan. Hal ini didukung oleh fakta bahwa masyarakat Indonesia dan Malaysia sebagai pemilik ruang Melayu masih terikat dalam satu rumpun yang memiliki banyak kesamaan, tidak hanya dalam bahasa tetapi juga budaya.


    Dalam sesi diskusi yang berlangsung, muncul gagasan bahwa ITBM, sebagai lembaga nasional Malaysia yang berfokus pada penerjemahan, perbukuan, dan transfer ilmu pengetahuan, dapat berperan aktif dalam pelestarian budaya Bugis. Peran tersebut bisa diwujudkan melalui penerbitan buku hasil kolaborasi antara akademisi dari Indonesia dan Malaysia.


    Kegiatan yang berlangsung dari siang hingga sore hari ini dihadiri oleh berbagai kalangan, antara lain migran asal Indonesia, mahasiswa, akademisi (dosen dan guru), dan pemerhati budaya.(mg/it)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini