• Jelajahi

    Copyright © Tebar News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Sports

    PARKIR di MIWF 2026, Mendorong Mobilitas Warga Pulau yang Inklusif

    Redaksi
    20/05/2026, 5:46 PM WIB Last Updated 2026-05-20T09:46:09Z

     

    Suasana Diskusi Panel PARKIR: Re-co-ordinate Mobilitas Kepulauan Urban, merupakan salah satu sesi dalam perhelatan MIWF, yang digelar di Fort Rotterdam, Makassar, Minggu, 17 Mei 2026. Foto: Istimewa 


    "Makassar ini kota yang punya kekhasan. Daerah ini punya banyak jalur transportasi yang memanfaatkan air, baik itu laut maupun sungai," terang Rizzah Aulifia, dari Tim WRI (World Resources Institute) Indonesia, sebelum Diskusi Panel PARKIR: Re-co-ordinate Mobilitas Kepulauan Urban.


    Icha, begitu ia akrab disapa, menambahkan, PARKIR yang merupakan akronim dari Pojok Belajar Rakyat Kota untuk Inisiatif Inklusif dan Rendah Emisi, merupakan pusat pembelajaran interdisipliner dan platform penelitian kolaboratif bagi masyarakat perkotaan. Biar mereka memahami isu-isu multidimemsional seputar dekarbonisasi perkotaan.


    Penelitian sosial ini, sudah dilakukan di dua kota, yakni Jakarta dan Makassar, dari semula 4 kota, termasuk Semarang dan Surabaya. Diakui bahwa dua kota ini belum merepresentasikan Indonesia yang begitu luas. PARKIR merupakan kegiatan WRI Indonesia atas dukungan UKPACT.


    Persoalan Indonesia, kata Icha, bukan cuma terkait infrastruktur dan fasilitas transportasi darat. Namun juga transportasi laut, mengingat kita punya banyak pulau dan sebagai negara maritim.


    "Kita mendorong agar transportasi publik aksesibel bagi semua. Wacana pete-pete laut bagi warga pulau, semoga akan membantu warga dalam bermobilitas," papar Icha.


    Diskusi Panel PARKIR: Re-co-ordinate Mobilitas Kepulauan Urban, merupakan salah satu sesi dalam perhelatan MIWF (Makassar International Writers Festival), yang digelar di Fort Rotterdam, Makassar, Minggu, 17 Mei 2026. 


    MIWF ke-16 ini, diselenggarakan pada 14-17 Mei 2026. MIWF merupakan festival sastra dan literasi internasional yang sudah menjadi agenda tahunan.


    Selain Rizzah Aulifia, Tim WRI (World Resources Institute) terdiri dari Stella Hutagalung, Mutiara Kurniasari, dan Keisha Rahadini.


    Di samping Tim WRI, ada pula fasilitator yang mendampingi peserta selama pelaksanaan kegiatan transect walk di Pulau Barrang Lompo. Para fasilitator terdiri dari Daeng Maliq, Mira Mahirah, Rahmiyanti Amir, dan Rusdin Tompo, 


    Pengalaman transect walk di pulau yang berjarak sekira 13 km dari Kota Makassar itulah yang dibagikan dalam diskusi panel.  Narasumber terdiri dari Mutmainnah (alumni Perikanan, Unhas), Luna Vidya Matulessy (Consultant Stakeholder Engagement), dan Marwa (warga Barrang Lompo, mahasiswa Unismuh Makassar), dengan host Daeng Maliq.


    Mutmainnah membagi pengalamannya. Sarjana Pertanian, Prodi Agrobisnis Perikanan ini bercerita, kegiatan PARKIR dilakukan 5 hari (20-24 April 2026), melibatkan orang muda, penyandang disabilitas, dan warga Pulau Barrang Lompo. 


    "Kami belajar penelitian partisipatif, dan kerja kolaboratif. Kami mengalami bagaimana orang Barrang Lompo bermobilitas. Kami pagi-pagi berangkat dari Dermaga Kayu Bangkoa menuju ke Barrang Lompo. Perjalanan kurang lebih 1 jam," kisah Inna, begitu sapaan akrabnya.


    Inna melanjutkan ceritanya. Ada pengalaman menarik, ketika ia melihat sekantong cabe dilemparkan dari satu kapal ke kapal lainnya. Transaksi ala orang pulau ini, oleh teman-teman disebut COD (cash on delivery), yakni model belanja online bayar ditempat.


    Dikatakan, warga punya alat transportasi macam-macam antara lain sepeda motor dan sepeda listrik. Fasilitas juga ada, seperti Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Reduce, Reuse, Recycle (3R), tetapi terkesan kurang terurus.


    Damtor atau Pemadam Kebakaran Lorong, dan Amtor, Ambulans Motor juga teronggok, tidak berfungsi.


    Begitupun dengan Ambulans Laut, juga tidak jalan karena alasan biaya operasional, termasuk ongkos BBM.


    "Kalau kondisi darurat, terpaksa warga pakai jolloro. Alasannya lebih mudah, murah, cepat. Jolloro lebih jadi pilihan dibanding Ambulans Laut," kata Inna.


    Jadi, tantangannya bukan pada pengadaannya, tetapi bagaimana memastikan program pemerintah tetap berkelanjutan.


    Sebagai warga Barrang Lompo, Marwa mengungkapkan bahwa mereka punya semangat kebersamaan yang sangat kuat. Misalnya, ada warga yang hidup sebatang kara, dan mengalami kebutaan. Tetangga datang membantu, memberikan makanan, memasak dan membersihkan rumahnya.


    Ini dialami Ibu Rabiah, 60 tahun, yang mengalami hambatan dalam bermobilitas karena buta. Selama setahun terakhir, dia tidak bisa ke mana-mana. 


    "Padahal dahulu dia selalu jalan karena sebagai pedagang kue. Sekarang hanya bisa sebatas pagar rumahnya saja," kisah Marwa.


    Luna Vidya menyampaikan bahwa apa yang diceritakan Inna dan Marwa merupakan bagian dari dinamika masyarakat pulau. 


    Disampaikan, ada fenomena di pulau. Anak-anak punya sepeda listrik. Kalau tidak dibelikan orangtuanya, dia menangis. 


    "Kami di kegiatan PARKIR bukan hanya melihat kendaraan ini rendah karbon dan emisi. Tapi ancaman sampah elektronik di Pulau Barrang Lompo ke depan. Setiap hari ada sepeda listrik dibawa ke pulau. Mereka bisa beli, tapi baterainya mahal," ujar Luna Vidya.


    Persoalan penyandang disabilitas juga dikemukakan. Ada seorang anak bernama Aulia, 8 tahun, murid kelas 2 SD. Sama sekali belum bisa menggunakan bahasa isyarat. Di sekolah ia kesulitan memahami pelajaran. Aulia hanya nyaman berkomunikasi dengan ibunya.


    Ketika ditanyakan kepada salah seorang gurunya, perlunya pendamping juru bahasa isyarat. Guru tersebut menjawab, "Apakah tidak merepotkan, mendatangkan juru bahasa isyarat untuk mengajar satu anak?"


    "Di pulau ini menarik. Warga punya hiburan. Naik odong-odong 1000 per orang, untuk kasi tidur anaknya. Lagu-lagunya yang populer di TikTok, dan bisa di-request," kisah Usi Luna tersenyum.


    Kisah lainnya tentang mantan penyelam pencari teripang atau dalam bahasa Makassar disebut pataripang. 


    Namanya Daeng Maudu, 61 tahun, yang mengalami kelumpuhan. Dia lumpuh dan tidak lagi bisa menyelam mencari teripang. Kini dia hanya akdoang-doang atau sekadar mencari cumi-cumi.


    Harga cumi-cumi Rp60.000/kg. Namun Daeng Maudu, terkadang hanya bisa peroleh setengah kilo, bila cuaca buruk. Akibatnya, dia tidak bisa membeli kebutuhan sehari-hari.


    Disampaikan pula, fasilitas untuk penyandang disabilitas dibangun, seperti guiding block tetapi tidak bisa digunakan karena tertimbun pasir atau rusak. 


    Tulisan-tulisan yang disatukan itu, ungkap Usi Luna, merupakan pengalaman personal tetapi dikerjakan secara kolaboratif atas bantuan fasilitator.


    Disampaikan, aksesibilitas dan fasilitas pendukung untuk penyandang disabilitas masih sangat minim di Barrang Lompo. Padahal kalau ada alat bantu, penyandang disabilitas bisa mandiri.


    Diskusi mendapat respons positif dari peserta yang hadir. Ada yang berasal dari mahasiswa, kepala Puskesmas, aktivis NGO, dan pemerhati isu-isu perkotaan dan layanan publik.


    Daeng Maliq sebagai host menyimpulkan, bahwa akses informasi penting bagi warga pulau. Begitupun political will pemerintah dalam melaksanakan regulasi yang ada.


    Sementara itu, partisipasi warga juga perlu dioptimalkan sejak perencanaan, seperti Musrenbang, hingga pelaksanaan dan evaluasi.


    "Berlakulah adil sejak dalam pikiran," kunci Daeng Maliq menutup diskusi sore itu. (*)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini