Iklan

Sports

Mudik: Puisi Ruang yang Tak Pernah Usai

Redaksi Tebarnews
20/03/2026, 5:50 PM WIB Last Updated 2026-03-20T09:58:32Z

 



Mudik sebagai tradisi tahunan di Indonesia, seolah merupakan puisi yang terus ditulis. Ia ditulis secara berulang oleh jutaan orang, khususnya jelang Idul Fitri. Ketika pulang kampung, maka perjalanan mereka bukan hanya pindah dari satu spasial ke spasial lain, tetapi sebuah proses menelusuri kembali makna ruang yang telah membentuk identitas dan kehidupan mereka diawal.


Dalam kerangka berpikir seperti itulah Sosiologi Ruang membangun asumsi dasar teorinya bahwa ruang bukan sekadar wadah fisik yang pasif, tetapi buah dari praktik sosial, relasi, dan pengalaman manusia. Sosiolog Prancis, Henri Lefebvre melabeli ruang sebagai hasil produksi atau bentukan aktivitas, simbol, dan kekuasaan. Mudik dalam konteks ini adalah praktik sosial yang mereproduksi makna kampung sebagai ruang nostalgia, wadah tempat berkumpul bagi sanak keluarga, dan tempat awal identitas seseorang terbentuk.


Dalam optik Sosiologi Ruang, narasi mudik juga membayangkan kota dan desa sebagai dua entitas sosial yang saling berbeda. Kota dipersepsi sebagai ruang hidup, tempat bekerja, panggung kompetisi, serta pusat konstruksi mobilitas sosial. Sebaliknya, desa dilukiskan sebagai ruang afektif, dimana ikatan kekerabatan masih kental, suasana tradisional masih terawat, dan rasa memiliki masih demikian kuat. Dengan demikian, ketika mudik terjadi maka itu merupakan perjalanan pulang menemukan kembali ruang sarat makna atau perpindahan dari ruang fungsional (kota) menuju ruang emosional (kampung).


Mudik lebih jauh dapat dilihat hubungannya dengan konsep "Time-Space Compression" yang digagas oleh David W. Harvey. Menurut dosen Antropologi dan Geografi Graduate Center of the City, University of New York ini, modernitas mempercepat mobilitas manusia melalui kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi. Proses percepatan oleh penyediaan jasa layanan transportasi modern serta ceparnya orang-orang bergegas menuju kampung sesungguhnya mempertegas kerinduan akan ruang asal mereka.



Ilustrasi - mudik sebagai peristiwa tahunan dan kampung sebagai lokus nostalgia. (Foto: Dok. Tebarnews/Repro/Chatgpt)


Selain itu, mudik juga sekaligus merupakan refleksi ketimpangan dan ketidakadilan spasial. Faktanya bahwa tidak semua orang bisa mudik atau pulang kampung dengan mudah. Alasannya beragam, antara lain: biaya transportasi yang relatif mahal dan tidak terjangkau oleh kalangan tertentu, kepadatan arus mudik, serta keterbatasan akses. Hal ini membuktikan bahwa ruang sifatnya tidak pernah netral, tetapi diibentuk dan diatur oleh struktur ekonomi serta kebijakan. Dua determinan inilah yang menentukan siapa yang dapat bergerak menuju kampung dan siapa yang justru tetap bertahan di kota.


Pertanyaan menarik di era digital adalah benarkah mudik tidak harus pulang kampumg secara fisik? Jawabnya tidak benar. Alasannya karena pengalaman ruang di kampung tidak bisa sepenuhnya tergantikan oleh layar. Ada ruang nostalgia, suasana ikatan kekerabatan, serta aura tradisional di kampung yang mengharuskan kehadiran fisik secara langsung.


Akhirnya, mudik sebagai peristiwa rutin tahunan dapat dimaknai sebagai puisi ruang yang tak akan pernah selesai ditulis dan diciptakan. Sebagai puisi ruang, mudik akan senantiasa hidup dalam ingatan, dihidupi oleh perjalanan, dan dirayakan melalui pertemuan manusia dengan tempat asalnya. Itulah sebabnya, mudik sebagai praktik meruang tidak hanya menarasikan tentang tempat manusia berkumpul (kampung), tetapi juga tentang siapa sesungguhnya kita (asal usul).***

Komentar

Tampilkan

Terkini