![]() |
| Anak-anak tampil membacakan tulisan yang baru saja rampung dibuat, agar mereka tampil percaya diri. (Foto: Istimewa) |
MAKASSAR – Setiap anak memiliki cerita, pengalaman, dan potensi yang layak dibagikan kepada dunia. Semangat inilah yang ditanamkan penggiat literasi Rusdin Tompo kepada murid-murid kelas VI SD Inpres Tello Baru 2 dalam kegiatan Partisipasi Anak dan Pengembangan Minat Bakat, Senin (19/10/2026).
“Kita bukan saja membaca buku, tetapi menulis buku, lalu tunjukkan kepada dunia,” ujar Rusdin Tompo memotivasi para murid agar berani menuangkan pengalaman mereka dalam bentuk tulisan.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari inovasi "Berlayar", program yang dikembangkan SD Inpres Tello Baru 2 dengan empat klaster utama, yakni Belajar, Berkarya, Berkarakter, dan Berprestasi. Melalui klaster berprestasi, sekolah berupaya memberikan kesempatan kepada setiap murid untuk mengenali, mengembangkan, dan menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Rusdin Tompo, pendiri komunitas literasi LISAN, mengingatkan bahwa setiap anak memiliki keunikan. Karena itu, anak-anak perlu mendapatkan ruang yang sesuai dengan potensi, minat, dan bakatnya, baik di bidang olahraga, sains, seni, maupun bidang lainnya.
Untuk menjelaskan pentingnya memahami potensi anak, ia melontarkan pertanyaan sederhana yang mengundang respons serentak dari para murid.
“Kira-kira bisa tidak, kalau monyet disuruh menyelam, atau ikan dipaksa manjat pohon?” tanyanya.
“Tidak!” jawab anak-anak kompak.
Melalui ilustrasi tersebut, Rusdin mengajak murid memahami bahwa setiap orang mempunyai kemampuan yang berbeda. Tugas orang dewasa dan lingkungan sekolah adalah membantu anak menemukan serta mengembangkan kelebihannya.
Pengalaman Masa Kecil Menjadi Bahan Tulisan
Agar anak-anak lebih mudah memulai, Rusdin membagikan pengalaman masa kecilnya. Ia bercerita bahwa ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, dirinya gemar menggambar dan menulis puisi.
Ia kemudian menunjukkan buku karyanya berjudul *Ana Makassar Basar di Ambon*, yang terbit pada 2025. Buku tersebut merekam pengalaman hidupnya sejak SD hingga SMA ketika tinggal di Ambon, ibu kota Provinsi Maluku.
“Di buku ini ada piagam saya saat juara satu melukis tingkat SD se-Provinsi Maluku. Ada juga cerita-cerita saat mandi di sungai, bantu orangtua di pasar, nonton penjual obat, dan kenangan salat tarawih di masjid,” tuturnya.
Cerita itu menjadi contoh nyata bahwa pengalaman pribadi dapat berkembang menjadi bahan tulisan yang menarik. Anak-anak tidak harus menunggu memiliki pengalaman luar biasa untuk mulai menulis. Hal-hal sederhana yang mereka alami sehari-hari pun bisa menjadi cerita yang berharga.
Setelah mendengarkan pengalaman Rusdin, para murid diberi kesempatan menulis secara bebas. Mereka boleh menceritakan pengalaman diantar atau dijemput orangtua, mengikuti perlombaan, menjalani hobi, maupun peristiwa lain yang berkesan dalam kehidupan mereka.
Hasilnya cukup mengejutkan. Meski ditulis secara spontan, karya anak-anak tersebut memperlihatkan beragam pengalaman, emosi, perjuangan, dan harapan yang menarik untuk disimak.
Salah seorang murid menulis kisah tentang dirinya ketika masih bayi berdasarkan cerita sang ibu. Saat itu, kondisi ekonomi keluarga membuat orangtuanya kesulitan membeli susu sehingga ia hanya diberi air putih. Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman keluarga dapat menjadi bagian dari ingatan dan cerita seorang anak.
Murid lainnya menceritakan pengalaman mengikuti lomba ceramah agama. Tema yang telah dipersiapkannya ternyata lebih dahulu dibawakan peserta lain. Ia sempat merasa tidak beruntung, bahkan menjadi bahan cibiran teman-temannya.
Namun, pengalaman itu tidak membuatnya menyerah. Ia justru terdorong untuk mempersiapkan diri lebih baik. Pada kesempatan berikutnya, kerja kerasnya membuahkan hasil dengan meraih juara pertama lomba ceramah agama.
Cerita inspiratif juga datang dari seorang murid yang gemar bermain bulutangkis. Awalnya, ia hanya bermain bersama ayahnya tanpa teknik khusus. Siapa sangka, kegiatan sederhana itu kemudian mengantarkannya meraih juara. Belakangan, aktivitas latihannya berkurang karena tali raketnya putus.
Selain itu, ada murid yang menuliskan pengalaman berziarah ke makam kakek, layangan yang tersangkut di rumah tetangga, hingga rutinitas berangkat ke sekolah. Cerita-cerita tersebut ditulis dengan bahasa khas anak-anak yang polos, spontan, dan apa adanya.
Berlayar Menjadi Ruang Tumbuh Anak
Karya-karya sederhana tersebut mendapat apresiasi dari Kepala UPTD SPF SD Inpres Tello Baru 2, Sahrina, S.Pd., SD., M.Pd. Menurutnya, kegiatan menulis bersama ini membuka kesempatan untuk mengenali potensi anak yang selama ini mungkin belum terlihat.
“Luar biasa anak-anak. Mereka rupanya punya potensi dan bakat. Insya Allah nanti dikembangkan,” ujarnya.
Sahrina menjelaskan, pengembangan prestasi merupakan salah satu bagian penting dari inovasi Berlayar yang kini dilaksanakan secara rutin melalui kegiatan Sabtu Berlayar.
Program yang berlangsung pada akhir pekan tersebut menjadi panggung bagi murid untuk menampilkan kemampuan, minat, dan bakatnya. Pelaksanaannya dilakukan secara bergantian berdasarkan tingkatan kelas agar setiap anak memperoleh kesempatan yang sama.
Melalui kegiatan itu, sekolah berupaya membangun rasa percaya diri, kemandirian, dan kreativitas murid. Anak-anak tidak hanya diarahkan untuk mengejar prestasi akademik, tetapi juga didorong agar berani menunjukkan kemampuan yang mereka miliki.
“Setiap anak punya layar sendiri, yang digunakan untuk berlayar ke berbagai tempat sesuai impian dan cita-citanya,” kata Sahrina optimistis.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, SD Inpres Tello Baru 2 dan komunitas LISAN menandatangani kesepakatan bersama terkait penguatan hak partisipasi anak serta pengembangan minat dan bakat.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah konkret untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang memberi ruang bagi suara, kreativitas, dan potensi setiap anak.
Melalui kegiatan tersebut, menulis bukan sekadar latihan merangkai kata. Lebih dari itu, menulis menjadi sarana bagi anak untuk mengenali diri, mengabadikan pengalaman, membangun kepercayaan diri, dan menunjukkan bahwa setiap anak memiliki cerita yang layak didengar.**


