![]() |
| Ajoeba Wartabone (kanan) sebagai bagian dari Goodwill Missie Parlemen NIT, bersalaman dengan Bung Karno, Presiden RI, di Istana Negara, Yogyakarta, tahun 1948. (Ist) |
Oleh: Rusdin Tompo (Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)
"Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah!" Itu pesan Bung Karno--Bapak Bangsa, Proklamator, dan Presiden RI ke-1.
Semboyan yang biasa disingkat Jasmerah itu, diucapkan Ir Soekarno dalam pidato peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-21, tanggal 17 Agustus 1966, yang merupakan pidato terakhirnya.
Kalimat jelas dan tegas ini hendak mengingatkan kita betapa pentingnya arsip sejarah. Mengingat sejarah bukan sebatas nostalgia dan romantisme.
Arsip sebagai bukti sejarah merupakan fondasi identitas bangsa yang tidak boleh diabaikan jika ingin maju dan jadi bangsa yang besar.
Arsip merupakan sumber sejarah primer yang autentik dan terpercaya. Ia merupakan bukti konkret, memori kolektif, dan bahan penelitian sejarah.
Lewat foto-foto, dokumen, catatan dan tulisan, serta kliping surat kabar di masanya, arsip dapat menjadi sumber informasi, yang terkonfirmasi dan valid.
*Dari Gorontalo untuk Indonesia*
Dalam konteks inilah kehadiran buku Ajoeba Wartabone (1894-1957): Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja (2025), yang ditulis Dr Basri Amin relevan untuk diketengahkan.
Buku setebal lxi+435 ini merupakan biografi gagasan dan kepemimpinan dari Gorontalo untuk Indonesia bersatu.
HM Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI (2004-2009; 2014-2019) dalam komentarnya pada bagian back cover mengatakan, "Buku ini membantu kita mengetahui lebih baik tentang tentang praktik-praktik kepemimpinan nasional, meskipun lebih banyak dikerjakan di tingkat regional Sulawesi, bahkan di Gorontalo. Apa yang sangat terbukti adalah bahwa kerja-kerja politik nasional di Indonesia sejak awal selalu berjalan sejajar dengan tugas-tugas pemerdekaan bangsa dari kungkungan kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, dan penjajahan."
Buku ini harus diakui dikerjakan dengan telaten dan penuh dedikasi.
Ini bisa dicermati dari bagaimana penulis menelusuri arsip sejarah terkait Ajoeba Wartabone--seorang tokoh intelektual, jurnalis-pejuang, politikus, dan anggota dewan di masa NIT (Negara Indonesia Timur).
Daftar hadir dan posisi duduk Ajoeba Wartabone dalam Konferensi Denpasar, Desember 1946, yang kelak jadi cikal bakal lahirnya NIT bikinan Lt Gubernur Jenderal van Mook, pun tak luput ditampilkan.
Nomor kamar Ajoeba Wartabone di Hotel Bali juga terlacak dokumentasinya.
Ajoeba Wartabone lahir di Gorontalo, 11 Juni 1894, dari pasangan Zakaria Wartabone-Tolangohula Kaluku.
Ajoeba Wartabone, menurut kesaksian Tutty Wartabone Gobel (hal ix-xi), salah seorang anggota keluarganya--begitu disegani oleh komunitas Minahasa, Arab, Cina, dan orang-orang politik di masa itu.
Sehari-hari orang banyak memanggilnya sebagai Ka De (Kepala Daerah). Karena, waktu itu, ia memang merupakan Kepala Daerah Sulawesi Utara (1949-1950).
Kiprah, sepak terjang, dan kontribusi Ajoeba Wartabone melewati batas daerah, tak cuma di Gorontalo, dan Sulawesi Utara, tetapi Indonesia Timur, yang mencakup Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, dan Maluku.
Perannya sebagai anggota Parlemen NIT begitu signifikan. Ia tergabung dalam Fraksi Progresif, yang jelas garis perjuangannya. Ajoeba adalah definisi dari nasionalis-republikein tulen.
Bukti-bukti tentang apa yang jadi visi dan fokus Ajoeba Wartabone dihadirkan dalam buku ini.
Misalnya, Seruan Ajoeba Wartabone "pro Republik" di Parlemen NIT (Negara Indonesia Timur) di Makassar: "Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja sekali merdeka tetap merdeka" yang bersumber dari arsip Republik Indonesia, Provinsi Sulawesi, Kementerian Penerangan, April 1953.
Sejumlah foto terkait NIT dari Nationaal Archief di Den Haag, Belanda, dan Arsip Nasional RI, juga menjadi bagian penting dari buku ini.
Beberapa foto yang ditampilkan memperlihatkan Ajoeba Wartabone bersama rombongan Goodwill Missie NIT diterima secara resmi oleh Presiden RI, Ir Soekarno, dan Wakil Presiden Muhammad Hatta, di Istana Negara, di Yogyakarta (18 Februari 1948).
Dalam pertemuan penting itu, hadir menteri-menteri, anggota Badan Pekerja KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat), petinggi sipil, dan perwira-perwira tinggi Angkatan Perang, antara lain Jenderal Urip Sumoharjo, Komodor Suryadarma, Laksamana Muda Pardi, dan Mayor Jenderal Purbonegoro.
Foto-foto lain, berbicara tentang misi diplomasi Parlemen NIT di mana Ajoeba Wartabone dan rombongan bertemu dengan sejumlah tokoh nasional, seperti, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Ki Hadjar Dewantara, dan lain-lain.
Kunjungan Goodwill Missie di beberapa kota di Jawa ini mendapat publikasi luas media massa, kala itu. Harian pagi Nasional, edisi 19 Februari 1948, di halaman utamnya menuliskan optimismenya bahwa kolonialisme dan imperialisme akan berakhir.
"Bahwa yang satu asalnya nanti akan kembali bersatu lagi."
Berita itu hendak menunjukkan bahwa politik adu domba dan pecah-belah lalu kuasai (devide et impera) dari penjajah Belanda, tidak akan berhasil.
Begitu kuatnya semangat persatuan sebagai perekat di antara tokoh-tokoh bangsa, yang terus berupaya mewujudkan Indonesia yang merdeka dan berdaulat penuh.
Rombongan Misi Parlemen NIT yang lebih dikenal sebagai "Misi Persaudaraan" itu, berangkat dari Makassar ke Jakarta, 16 Februari 1948. Rombongan terdiri dari Arnold Mononutu (Ketua Tim), dengan anggota Dr H Bergema, Pastor A Conterius, Andi Gappa, Andi Massarapi, Anak Agung Nyoman Pandji Tisne, Ajoeba Wartabone, dan Tjan Tjoen Tek (Sekretaris).
Sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas, Arnold Mononutu, selaku Ketua delegasi, menyampaikan pidato radio melalui corong RRI Makassar, pada Kamis, 11 Maret 1948. Surat kabar Pelita di Tomohon, terbitan Senin, 22 Maret 1948, mengutip utuh pidato tersebut.
Muhibah itu memberikan impresi yang kuat tentang daerah-daerah yang didatangi, seperti Yogyakarta, Solo, Madiun, Klaten, Malang, Bogor, dan Jakarta--semacam studi tiru, tetapi dalam bobot ikatan nasionalisme yang kental.
Tergambarkan dalam bunyi pidato Arnold Mononutu, yang mengatakan: "Menurut faham saya, persatuan antara kita dan Republik, persatuan antara rakyat di Indonesia Timur dan Republik Indonesia pada umumnya dapat dieratkan dan diperkokohkan."
*Pembelajaran Sejarah*
Buku Ajoeba Wartabone (1894-1957): Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja, memberikan pembelajaran bahwa dengan dan melalui arsip sejarah, kita bisa melihat gagasan, visi, dan kepemimpin seseorang, yang menjadi legacy-nya.
Arsip-arsip itu bisa terjaga baik karena ada peran keluarga, negara, dan kaum cendekia (peneliti, arsiparis, penulis).
Arsip-arsip tersebut tak hanya berhenti sebagai tumpukan dokumen di ruang sunyi, tetapi dibunyikan, disuarakan, dan dinarasikan kembali untuk edukasi dan literasi.
Buku dan arsip sejarah terkait Ajoeba Wartabone masih sangat mungkin dikemas lagi secara kreatif, dialih-wahanakan menjadi film dokumenter, komik, animasi, novel, dan atau konten serial dalam format digital.
Apalagi bila kisah hidupnya dihubungkan dengan keluarga besarnya yang memiliki ketokohan, tentu akan sangat menarik.
Sehingga, benar apa kata penulis Amerika ternama, William Cuthbert Faulkner (1897-1962), bahwa "Masa lalu tidak pernah mati. Bahkan, itu belum berlalu."
Peraih Nobel Sastra (1949), National Book Award (1951; 1955), dan penghargaan Pulitzer untuk fiksi (1955; 1963), yang terkenal lewat karyanya The Sound and the Fury (1929) dan As I Lay Dying (1930) ini, hendak mengingatkan kita bahwa arsip membuat sejarah tetap hidup dan relevan dengan masa kini. (*)


